NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Masalah Bertumpuk-tumpuk


Fuutarou berdiri mematung di antara pintu luar dan pintu dalam apartemen.

"Cih…… apa-apaan ini!?"

Pintu otomatis pada pintu dalam tertutup rapat dan tidak mau terbuka.

"Respons sensornya mana!? Sialan…… bukan cuma lima orang itu saja, tapi kamu juga mau menghalangi jalanku!"

Dia menempelkan tangan dan wajahnya ke kaca pintu otomatis sambil melayangkan protes. Dari sekian banyak waktu, bisa-bisanya rusak di saat seperti ini…….

Saat dia melirik ke atas, terdapat kamera pengawas di atas pintu otomatis.

"Permisi~…… Saya Uesugi, guru privat keluarga Nakano di lantai tiga puluh. Pintu di situ rusak tahu? Haloー."

Saat dia sedang berbicara ke arah kamera pengawas, terdengar suara dari belakang.

"Kamu lagi ngapain sendirian?"

Itu adalah Miku yang sedang menjinjing kantong plastik minimarket.

"Zaman sekarang masa tidak tahu auto-lock……."

Tampaknya ini bukan sekadar pintu otomatis biasa.

"Kalau kamu memasukkan nomor kamar kami di sini, pintunya akan tersambung."

Sambil menjelaskan, dia memasukkan kartu kuncinya ke panel kendali ber-tombol angka yang terletak di sudut. Seketika itu juga, pintu yang tadi menghalangi Fuutarou terbuka dengan mudah. Rupanya, selama ini dia bisa masuk hanya karena kebetulan bersama dengan penghuni lainnya.

"Ooh! ……Ya, p-padahal aku sudah tahu sih."

Miku menatap Fuutarou yang berpura-pura gengsi itu dengan pandangan sedikit heran.

(Sudah tersandung sejak awal. Jalan di depan benar-benar penuh rintangan…… tapi.)

Pertarungan dengan kelima saudari kembar sudah menunggunya. Pertandingan ini tidak boleh kalah.

"Ngapain di situ?"

Miku sudah berada di sisi dalam pintu.

"Mau mengajar, kan?"

Sambil berkata begitu, Miku tersenyum manis ke arah Fuutarou.

Pertama-tama, dia harus mengumpulkan empat orang lainnya selain Miku di ruang tamu.

Tepat setelah menaiki tangga, dia mengetuk pintu kamar Itsuki.

"Ternyata kau datang juga ya……."

Itsuki memunculkan wajahnya yang cemberut.

"Haha……."

Berikutnya adalah Yotsuba.

"Selamat datang, Uesugi-san!"

Pintu terbuka dengan penuh semangat, memperlihatkan senyuman lebar di wajahnya.

"Ha-Halo……."

Nino menatap Fuutarou dari celah pintu yang dibuka sedikit, lalu tanpa mengucap sepatah kata pun, Bram!

"Ugh!"

Yang terakhir adalah Ichika. Di kamarnya yang konsisten berantakan dan jorok, seperti dugaan dia sedang menyusup di dalam tempat tidur.

Jika memungkinkan, dia tidak ingin melangkahkan kaki ke dalam, tetapi dia harus menyeret si tukang tidur itu keluar dari kamar.

"Umm…… bukankah ada di sekitar sini……?"

Demi Ichika yang masih tampak mengantuk, Yotsuba yang ikut bersama Fuutarou masuk terlebih dahulu ke kamar, merangkak dengan kedua tangan dan lutut untuk mencarikan pakaian.

"Baju warna putih, kan?"

"Maaf ya……."

……Tunggu dulu, di balik selimut handuk tipis itu hari ini dia telanjang lagi!?

"Kenapa tidur sampai lewat tengah hari begini, sih……."

Fuutarou merasa heran sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Mencari ruang untuk menapakkan kaki saja sudah merupakan perjuangan tersendiri.

"Uwah!?"

Dari dalam tumpukan baju, Yotsuba menarik keluar sebuah slip renda hitam yang seksi.

"Ichika, kamu punya yang seperti ini……? D-Dewasa sekali……."

"Karena wajah kita sama, Yotsuba juga cocok-cocok saja kan memakai itu?"

"Eeeeeeuh~~~!?"

Melihat Yotsuba yang memerah, Ichika bangun, duduk lalu tersenyum-senyum menggoda.

"Celana dalam zaman SD-mu itu sebaiknya segera dibuang lho~."

"Waaaaah~! Karena ada Uesugi-san, diam! Diaaam~!"

Dia mengibaskan tangannya dengan panik dan kehebohan besar. Yotsuba menatap slip itu dengan sedikit ragu,

"……Umm…… Uesugi-san, bagaimana menurutmu? Apakah cocok……."

Sambil menempelkan baju itu ke tubuhnya dengan malu-malu, dia menoleh ke arah Fuutarou.

"Baju apa saja boleh, cepat ganti baju sana."

Mana ada waktu untuk melayaninya. Fuutarou bergegas keluar dari kamar.

"Hmph! Uesugi-san dasar tidak peka mode!"

Katakan saja sesukamu. Asalkan mau belajar, entah itu pakaian dalam seksi, celana dalam anak SD, atau cawat sekalipun, tidak ada bedanya bagiku.

***

"Nah, persiapan sudah matang! Ayo kita mulai belajarnyaー!!"

Ketika empat orang selain Nino sudah berkumpul di ruang tamu, Yotsuba berbicara dengan penuh semangat.

"Aku juga ya, mau coba lihat-lihat dulu deh~."

Ichika meregangkan tubuhnya sambil menegakkan diri dari sofa.

"……Sesuai janji, ajari aku Sejarah Jepang ya." ucap Miku.

"Aku cuma mau belajar mandiri di sini kok."

Itsuki sendirian berjalan menuju meja makan di bagian dalam.

Meskipun ada berbagai masalah, jika dibandingkan dengan awalnya, ini adalah kemajuan yang sangat pesat.

(Anak-anak ini juga manusia. Kalau diperlakukan dengan lembut, kita bisa saling memahami!)

Fuutarou meresapi rasa harunya dalam-dalam.

"Bagus, ayo kita mulai!"

Lama-kelamaan si kembar lima pasti akan mengejarnya sambil berkata, "Tunggu~!" "Ajari aku belajar dong~!"……

"Masih ada di sini saja?"

Seolah meruntuhkan semangat Fuutarou, suara dingin terdengar dari atas.

"Semoga kamu tidak tertidur di tengah jalan seperti waktu itu ya."

Sambil menopang sikunya di pegangan lantai dua, Nino menatap ke bawah dengan senyuman jahat.

(Itu kan karena kamu yang memberi obat……!)

Ups, tidak boleh. Harus lembut, harus lembut.

"Bagaimana? Nino juga, ayo ikut sekalian!"

Sambil menengadah menatap Nino dengan senyum buatan, dia merentangkan kedua tangannya dengan ramah.

"Mati pun aku tidak mau!"

Tanpa jeda sekejap pun Nino memalingkan wajahnya. Senyum palsu Fuutarou seketika menjadi kaku.

……Ya sudahlah. Untuk hari ini, puaskan saja dengan empat orang.

"Hahaha! Kalau begitu, hari ini kita lakukan berempat saja!"

"Iya~!" Yotsuba mengangkat tangannya dengan ceria.

"Ah benar juga, Yotsuba."

Nino memegang ponselnya sambil menuruni tangga.

"Kenalan di klub basket sedang mencari anggota darurat untuk kejuaraan nih. Kamu kan jago olahraga, bagaimana kalau pergi membantu mereka sekarang?"

"S-Sekarang!? Umm…… tapi……." ucap Yotsuba sambil melirik Fuutarou dengan bingung.

"Soalnya, salah satu dari lima anggota klub mereka kabarnya mengalami patah tulang…… Kalau begini terus, mereka tidak bisa ikut kejuaraan lho. Kasihan sekali ya."

"Hah, mana mungkin dia mau melakukan hal seperti……."

Sebelum Fuutarou selesai mengucapkannya, Nino menimpali.

"Padahal mereka pasti sudah berlatih keras…… Ah, kasihan sekali……."

"Ugh……."

"Yo-Yotsuba?" Tidak mungkin kan? Cuma kamu satu-satunya yang kupercaya, lho?

"Uesugi-san, maafkan aku! Aku tidak bisa membiarkan orang yang sedang kesulitan!"

Yotsuba membungkukkan kepalanya dalam-dalam, lalu langsung melesat lari keluar dari rumah.

"Bercanda kan……."

"Anak itu memang sifatnya tidak bisa menolak sih."

Ichika, informasi seperti itu tolong beritahu lebih cepat dong. Membiarkan Fuutarou yang kehabisan kata-kata, Nino kembali berkata, "Ichika bukannya tadi bilang ada kerja paruh waktu jam dua?"

"Aah gawat! Aku lupa!"

Ichika pun berlari terburu-buru keluar.

"Itsuki juga, daripada di tempat bising begini lebih baik pergi ke perpustakaan saja."

"Benar juga ya."

Itsuki pun berdiri.

"……Eh?"

Di ruang tamu tempat Fuutarou meresapi rasa harunya beberapa menit lalu, kini keheningan melingkupi tempat itu.

"Baaagus, kalian semua berkumpul~… pelajaran akan dimulai~…."

Kepada Fuutarou yang jiwanya seperti sudah melayang keluar, Miku berkata.

"Fuutarou, lihatlah kenyataan. Semuanya sudah tidak ada."

"Cih……."

Nino yang duduk di meja makan memasang raut wajah puas seolah berhasil mengerjainya.

(Setiap saat selalu menghalangi…… sebenarnya apa tujuannya.)

Kalau cuma tidak mau belajar, seharusnya tidak perlu mengusir semuanya…… Saat dia sedang waspada, Nino berdiri.

"Lhoー? Miku masih ada di siniー?"

Dia mengajak Miku berbicara dengan gaya yang dibuat-buat.

"Jus milikku yang salah kamu minum itu, cepat belikan gantinya sana."

"Sudah kubelikan kok."

Miku menunjuk kantong plastik minimarket di atas meja. Khusus kali ini, strategi Nino gagal.

"Ayo, kita mulai pelajarannya."

Miku mendesak Fuutarou. Di balik ekspresi datarnya, terlihat jelas semangatnya untuk belajar.

"Bagus, ayo kita ubah suasana."

Fuutarou pun menata kembali perasaannya dan membalas Miku.

"Matcha Soda…… tunggu dulu, Miku!"

Nino yang mengeluarkan kaleng minuman dari dalam kantong plastik menoleh dengan wajah tidak puas.

"Kita mulai dari mana?"

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai dari Zaman Kamakura?"

Miku dan Fuutarou membelakangi Nino sambil belajar dengan akrab. Nino menjadi geram.

"Kalian berdua sejak kapan jadi seakrab ini, sih!? Hah? Miku, kamu suka cowok berwajah kusam seperti ini?"

"Anak ini barusan bicara hal yang jahat sekali." Fuutarou menyela dengan tenang.

"Soalnya Nino itu tipe yang mementingkan penampilan."

"Kamu juga secara tidak langsung jahat ya……."

Nino mendorong Fuutarou lalu mendesak Miku.

"Apa salahnya mementingkan penampilan? Maksudmu kamu mau bilang bagian dalam lebih penting daripada penampilan luar, begitu?"

"Kalau iya, kenapa?" Miku pun tidak mau kalah.

"Oooh begitu. Karena tidak peduli penampilan luar, makanya bisa keluar rumah pakai baju selusu ini?"

Nino menepuk-nepuk dada Miku dengan ujung jarinya yang dihiasi cat kuku dengan rapi.




"Kuku tajam begini bilang gaya?"

"Kamu tidak akan paham deh!"

"Memangnya siapa juga yang mau paham."

Melihat situasi yang kian memanas, Fuutarou yang tidak tega akhirnya menyela di antara keduanya yang sedang menyebarkan percikan api.

"Kalian ini kan bersaudara, akur sedikit dong. Soal penampilan atau kepribadian, tidak usah diributkan sekarang, kan bisa."

"Benar juga. Mending jangan ganggu lagi."

"Ganggu bilangmu!?"

Saat perkelahian akan meletus kembali, perut Fuutarou berbunyi nyaring kruuuuuk~~.

"Ah……." Kalau dipikir-pikir, dia memang belum makan siang.

Melihat hal itu, Nino tersenyum licik dan berkata.      

"Kalau begitu, sesuai kata Miku, mari kita bertanding lewat kepribadian! Kita buktikan siapa yang lebih keibuan lewat duel memasak!"

"Ke-Kenapa jadi begitu……."

Tanpa memberi ruang bagi Fuutarou untuk menyanggah, Nino bergegas berdiri di dapur dan mendeklarasikannya.

"Kalau aku menang, hari ini tidak ada belajar!"

"M-Mana mungkin dia mau melakukan hal itu, kan……?"

Fuutarou bertanya kepada Miku dengan hati-hati.

"Fuutarou, ini akan kubuat selesai dalam sekejap, jadi duduk saja dan tunggu ya."

Sosok Miku yang menyingsingkan lengan bajunya dan berjalan menuju dapur bagaikan seorang panglima perang yang hendak menghadapi duel satu lawan satu.

"Kamu duduk saja!!"

Kelihatannya saja pemalu, tetapi Miku ternyata cukup keras kepala.

"Tidak ada satu pun yang berjalan lancar……."

Fuutarou bergumam dengan kepasrahan tingkat tinggi.

***

"Jadaaaan! Dutch Baby dengan sayuran musim ini dan daging ham mentah!"

Karya kebanggaan Nino adalah pancake berwarna-warni yang dihiasi roket, zuki, tomat, dan lain-lain.

"O…… Omurice……."

Di sisi lain, masakan Miku adalah bongkahan benda gosong yang hancur berantakan.

"Nah, ayo tentukan mana yang lebih enak."

Saat dua piring masakan diletakkan di depan Fuutarou, Miku yang tidak tahan lagi berbicara.

"Tidak jadi deh, kumakan sendiri saja!"

"Padahal sudah susah-susah dibuat, suruh makan dong~?" Nino tersenyum-senyum menggoda.

Memang terlihat ada perbedaan yang sangat mencolok pada penampilannya…… Fuutarou merapatkan kedua tangannya.

"……Selamat makan."

Dia mengambil sendok, lalu mencicipi Dutch—entah apa milik Nino terlebih dahulu. Teksturnya yang empuk dan kenyal terasa lezat. Selanjutnya, dia memakan gumpalan mirip omurice milik Miku tanpa bersuara.

Nino memasang senyum kemenangan. Di sebelahnya, Miku menunduk dengan wajah memerah padam.

"……Yup. Dua-duanya enak kok."

""Eh?"" Nino dan Miku tercengang bersamaan.

"Beneran. Dua-duanya enak."

Sambil berkata demikian, dia melahap omurice gosong milik Miku dengan nikmat.

"Haa!? Mana mungkin……."

Nino yang memajukan tubuhnya mendadak melirik ke arah Miku, yang sedang menangkupkan kedua tangan di depan mulut sambil tersenyum gembira.

"……Apa-apaan itu! Tidak seru sama sekali!"

Nino yang emosi menendang kursinya, lalu berjalan menghentakkan kaki menaiki tangga.

"Dasar, anak itu……."

Meskipun heran, Fuutarou tetap melanjutkan makannya dengan lahap.

Fuutarou pada dasarnya merasa apa pun yang dimakannya itu enak, dengan kata lain, dia memiliki lidah rakyat jelata.

***

Matahari terbenam memancarkan cahayanya melalui jendela besar yang memenuhi dinding ruang tamu.

"Sudah sore ya……."

Fuutarou menyapu bersih piring-piring yang selesai dicuci oleh Miku dengan kain lap.

"Kita benar-benar masuk ke dalam perangkap Nino, ya. Kali ini aku harus mundur dulu."

"Maaf ya……."

Tapi, dengan begini semuanya jadi jelas. Entah kenapa, Nino memiliki rasa permusuhan khusus terhadap Fuutarou.

"Nino itu…… rasanya tidak akan pernah ada hari di mana aku bisa saling memahami dengannya."

"Menurutku…… tidak juga kok."

Miku yang selesai mencuci piring mematikan keran air, lalu berjalan menuju jendela.

"Kalau kamu menghadapinya dengan tulus, dia pasti akan mengerti."

"Dengan tulus…… harus bagaimana coba?"

Fuutarou pun meninggalkan dapur dan mendekati Miku.

"Aku pun tidak tahu kalau ditanya begitu."

Miku yang dari tadi menatap ke luar jendela berbalik menatap Fuutarou.

"Memikirkannya kan memang tugas Fuutarou, kan?"

Apakah terlalu percaya diri jika menganggap ada rasa percaya di dalam tatapan matanya itu?

Di bawah pandangan mereka berdua, pemandangan kota yang terhampar luas tampak merona merah jingga.

"……Menghadapi dengan tulus…… dengan tulus……."

Sambil merenungkan kembali kata-kata Miku, Fuutarou melangkah keluar dari pintu di area pintu masuk.

"Ah! Gawat……."

Dia menyadari ada barang yang tertinggal dan hendak kembali, tetapi pintu dalam sudah terlanjur tertutup rapat. Namun, berkat ajaran Miku, dia sudah paham sistem kunci otomatisnya.

Saat menekan nomor kamar, Miku menjawab dari balik interkom.

"Ada apa?"

"Maaf, buku kosakataku tertinggal."

"Aku lagi mandi, masuk saja sendiri."

"Oi, Miku. Memangnya tidak apa-apa……."

Entah kenapa sepertinya si kembar lima ini tidak menganggapnya sebagai seorang laki-laki. Pintu dalam terbuka, dan Fuutarou kembali naik ke lantai tiga puluh menggunakan lift.

"Pa-Permisi~……!"

Dia membuka pintu rumah, lalu memanggil dari area pintu masuk dengan suara yang agak dikencangkan.

Saat berjalan masuk ke ruang tamu, Miku sedang duduk di sofa sambil mengeringkan rambut panjangnya menggunakan pengering rambut. Hanya berbalut selembar handuk mandi, penampilannya terlihat sangat terbuka.

"M-Miku!? Kamu sudah selesai mandi?!"

Pengering rambut dimatikan, Miku menyipitkan matanya dan menatap Fuutarou lekat-lekat.

(Kalau dipikir-pikir, anak ini kan memang tipe yang tidak peduli…… Ambil cepat terus pulang ah.)

Sambil menutupi wajahnya dengan tangan, Fuutarou bergegas lewat dan mengulurkan tangan ke buku kosakata yang tergeletak di meja ketika──.

"Siapa? Miku?"

Fuutarou tersentak dan menoleh ke belakang.

"Kamu bukannya mau mandi? Sudah kosong lho?"

Di rambutnya yang sudah kering, terpasang pita kupu-kupu yang melambai-lambai.

(Ni-Nino──!?)

Seluruh darah di tubuhnya rasanya mendadak surut. Kalau dipikir-pikir, untuk ukuran Miku, terlalu cepat baginya jika sudah selesai mandi.

"Sotflensku ada di rak yang biasa, bisa tolong ambilkan tidak?"

Matanya kabur,  jadi sepertinya dia tidak tahu siapa yang sedang berdiri di sana.

(B-Bahaya nih…….)

Suaranya yang tadi untungnya tersamarkan oleh suara pengering rambut. Tapi, bagaimana ini? Ketidakjujuran yang luar biasa ini, kalau sampai ketahuan bakal berabe……!!

Karena tidak ada jawaban, Nino merasa heran.

"Ada apa? Kamu masih dendam soal aku jahat tadi siang?"

Nino yang selesai memasang kedua pitanya berdiri dan berjalan mendekat.

(Gawat! S-Softlens…… di rak yang mana!? Yang ini bukan!?)

Dia membuka pintu rak di atas akuarium.

"Tadi itu kan cuma karena terbawa emosi…… Aku juga tahu kok kalau itu salah."

Dari belakang, Nino makin mendekat.

(Sial! Di mana sih!?)

Dengan panik, dia membuka pintu yang lain, tetapi tidak ada hal yang mencurigakan.

"Kamu lagi ngapain sih? Bukan di situ tahu."

Nino berputar ke belakang Fuutarou dan menghentikan langkahnya.

"Rak yang di atasnya lagi tahu."

Nino yang mengulurkan tangan dari belakang menempelkan dadanya yang berisi ke punggung Fuutarou dengan rapat.

"……Lho, seingatku di rak ini deh……."

Setiap kali Nino berjinjit dan meraba-raba, dadanya makin tertekan, memberikan sentuhan lembut melalui selembar handuk mandi dan selembar kemeja.

(Ngyaaaaaaa~!!)

Bukan situasinya untuk berhadapan sekarang. Sudah batas maksimal…… kabur saja! Sambil menepis pelan Nino, dia berlari tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Tuh kan, benar kamu masih marah!"

Suara Nino terdengar kesal.

"Ini semua gara-gara si brengsek itu…… Semua gara-gara dia!"

Si brengsek…… maksudnya aku? Fuutarou tanpa sadar menghentikan langkahnya.

"Cuma karena diperintah Papa, berani-beraninya masuk sesuka hati ke rumah kita…… Padahal di rumah kita berlima tidak ada ruang sedikit pun untuk orang seperti dia."

Fuutarou perlahan menoleh ke arah Nino. Nino yang biasanya selalu bersikap angkuh dan tenang, kini merengut dengan bibir cemberut seperti anak kecil.

(Anak ini…… jangan-jangan…….)

"Aku sudah memutuskan! Mulai sekarang dia dilarang masuk ke sini!"

Nino mengibaskan kedua tangannya seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tangannya itu mengenai pintu rak yang dari tadi dibiarkan terbuka.

Gubrak.

"Sakiitt~……!"

Fuutarou tersentak. Akibat guncangan tadi, buku-buku tebal yang menumpuk di dalam rak bergoyang-goyang dan hendak jatuh.

"Bahaya! Atas!"

"Eh?"

Dengan kecepatan penuh, Fuutarou melesat kembali, menjatuhkan dirinya untuk melindungi Nino.

Hampir bersamaan, buku-buku jatuh menimpa mereka dengan suara debukan keras.

"Kyaa!"

──Saat ini, Fuutarou masih belum menyadarinya.

"……Si…… Siapa……?"

Nino yang terlentang menatap wajah merah Fuutarou yang berada tepat di atasnya sambil memicingkan mata.

"……Eh……."



Bayangan yang tadinya samar-samar mulai mendefinisikan diri, dan dia tampaknya sudah menyadari siapa orang itu.

Dia mengira bakal dihujani ceceran kata-kata makian, tetapi…… wajah Nino justru memerah padam dan matanya berkaca-kaca seketika.

***

Sebuah mobil sport berwarna biru yang mencolok memancarkan kedipan lampu hazard di bahu jalan.

"Terima kasih banyak untuk hari ini."

Orang yang sedang membungkuk dan mengintip ke dalam mobil adalah Ichika.

"Ichika-chan, hari ini juga luar biasa. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya ya."

Seorang pria paruh baya berkumis yang tampak genit memberikan acungan jempol kepada Ichika.

"……Baik."

Dengan raut wajah formal yang tidak pernah ditunjukkannya kepada saudarinya, Ichika tersenyum manis.

***

Di gedung olahraga tempat kejuaraan bola basket berlangsung, pertandingan antara SMA Asahi melawan SMA Nishigagaoka baru saja berakhir.

"Haah…… Haah……."

Para anggota klub basket mengelilingi Yotsuba yang sedang terengah-engah dengan wajah tersenyum.

"Terima kasih banyak! Nakano-san sangat hebat dan bisa diandalkan ya~."

Berkat Yotsuba, mereka bisa menang dengan selisih skor yang besar.

"Selanjutnya juga…… mari berjuang bersama!"

"Anu, aku punya satu permintaan."

Sang kapten melangkah mendekati Yotsuba.

"Bagaimana kalau kamu resmi masuk ke klub basket saja sekalian?"

***

Tanpa mengetahui kegaduhan yang terjadi di ruang tamu, Miku sedang berendam di dalam bak mandi.

──Kamu suka cowok berwajah kusam seperti ini?

Dia teringat kata-kata Nino.

"……Bicara yang aneh-aneh saja……."

Begitu dia membenamkan mulutnya ke dalam air dan membuat gelembung-gelembung, bebek mainannya bergoyang ke kiri dan ke kanan.

(Bukan…… seperti itu kok…….)

Pipinya yang memerah tampaknya bukan sekadar karena kehangatan air mandi.

***

Ya, Fuutarou sama sekali tidak memahami—betapa sulitnya menghadapi satu per satu dari kelompok lima orang bodoh ini. Dan dia sendiri pun nantinya akan diajari, bahwa Fuutarou juga merupakan seorang pria bodoh!

***

"Penyusup tak berizin~~~!"

Nino berteriak. Saat Fuutarou buru-buru bangkit berdiri, Nino juga ikut bangun sambil menutupi dadanya.

"B-Bukan! Aku cuma mau mengambil barangku!"

"Mengambil……? Mengambil foto telanjangku!? Dasar mesum! Penjahat kelamin! Tukang poto gelap!"

"Bukan mengambil foto yang itu tahu!"

Pada saat itu, terdengar suara jepretan kamera Kasyak!

"……Eh?" Mereka berdua serentak melihat ke arah datangnya suara.

Itsuki, yang telah mengabadikan foto bukti di ponselnya, berbicara kepada Fuutarou dengan tatapan mata seperti melihat serangga.

"……Terkutuk."

Ichika, yang terbungkus jubah hakim berwarna hitam, mengetukkan palu kayunya.

"Harap tenang!"

"Yang Mulia Hakim, silakan lihat yang satu ini."

Jaksa Itsuki menyerahkan foto yang diambilnya dengan ponsel sebagai barang bukti.

Di sana tertera sosok Fuutarou yang sedang menindih Nino yang hanya berbalut selembar handuk mandi──.

Pengacaranya adalah Miku, sementara Nino menundukkan wajahnya di kursi penggugat karena malu.

"Meski terdakwa berada dalam posisi sebagai guru privat, dia membiarkan hasratnya meledak di depan seorang siswi SMA yang segar! Foto ini tidak salah lagi adalah Terdakwa Uesugi, kan!?"

Jaksa Itsuki menunjuk dengan mantap ke arah Fuutarou yang sedang bersimpuh dan menundukkan kepala.

"I-Ini tuduhan palsu……."

Situasi apa-apaan ini…… Meskipun pemandangan di pikiran Fuutarou adalah ruang sidang, situasi sebenarnya adalah meja di ruang tamu rumah Nakano, di mana dia dikelilingi oleh si kembar lima selain Yotsuba.

Ngomong-ngomong, Yotsuba sedang absen karena menjadi pemain pengganti di klub basket.

"Yang Mulia Hakim."

Nino yang sudah berganti pakaian dengan baju olahraga merah bertuliskan 『Nakano 2』, mengangkat tangannya dengan perlahan sambil tetap menunduk.

"Ya, Penggugat Nino-kun!" Ichika tampak sangat menikmati perannya.

"Pria ini berpura-pura sudah keluar dari apartemen, lalu menunggu saya selesai mandi."

"O-Oi! Itu rekayasa!"

Nino mendongak, lalu melirik dingin ke arah Fuutarou yang panik.

"Atas tindakannya yang sangat berbahaya ini, saya menuntut agar dia dilarang masuk ke sini untuk seterusnya!"

"Nggak mungkin! Kalau begitu sih terlalu……."

"Sangat tidak bisa ditoleransi, ya."

"Ichika! Aku datang buat mengambil barangku yang ketinggalan……."

"Puuun." Ichika memalingkan wajah dengan cemberut.

"Y-Yang Mulia……."

"Ahhaha."

Menganggap ini urusan orang lain, dia benar-benar menikmati drama kecil ini.

Pada saat itu, Miku mengangkat tangannya sedikit dan berkata, "……Keberatan……."

"Fuutarou memang punya wajah penjahat, tapi dia tidak bersalah dalam hal ini."

"Hei, wajah penjahat katamu……." Benar-benar keterlaluan ya.

"Aku yang membukakan pintu lewat interkom. Rekamannya juga ada. Ini adalah kecelakaan tak terduga."

Bagaikan seorang pengacara yang kompeten, Miku berargumen dengan masuk akal.

"Miku~……."

Mendapatkan sekutu yang kuat, Fuutarou merasa matanya hangat dan terharu.

Yang tidak bisa menerima hal itu adalah Nino. Dia memajukan tubuhnya ke atas meja dan menyerang Miku.

"Kamu masih berniat membela orang ini!? Orang ini jelas-jelas bilang! 'Datang buat mengambil (tori ni kita)'! Itu kan pemotretan gelap (tousatsu)!"

"Datang buat 'mengambil' (tori ni kita) barang yang ketinggalan, kan?"

Nino yang berhasil dipojokkan dengan tenang, membuang taktik serangan frontal dan berganti ke taktik kejutan.

"……Yang Mulia. Miku membela Terdakwa karena perasaan pribadinya kepadanya~."

Wajah Miku seketika memerah padam hingga rasanya mengeluarkan uap.

"B-Bukan……."

"Miku, aku percaya kamu pasti bakal percaya padaku."

Fuutarou yang tidak menyadari hal itu mendekat dengan gembira, tapi

"Jangan mendekat lebih jauh dari itu."

Dia dihentikan secara tegas dengan tangan, dan bahkan Miku memalingkan wajah darinya.

"Lhoー!?" Ada apa dengan perubahan sikap yang mendadak ini.

"Eeeh~? Sikap begitu berarti kamu lagi waspada ya~?"

Seolah menemukan kesempatan emas, Nino memprovokasi Miku.

"Tidak kok. Cuma perasaan Nino saja."

"Asal kamu tahu ya, aku ini sudah dilihat tubuh telanjangku lho!"

"Bukan barang yang akan berkurang cuma gara-gara dilihat."

"Biar kamu begitu, aku beda tahu!"

"Tubuh kita kan sama saja."

Ichika menonton pertarungan mereka berdua dengan gembira sebagai penonton, sementara Itsuki yang panik mencoba menengahi.

"S-Sekarang bukan waktunya kalian berdua bertengkar……."

"Itsuki diam saja."

"Lagipula, kamu juga hapus foto itu dong!"

Itsuki yang dilirik dengan tatapan menakutkan oleh Miku dan Nino, menangis dan mengadu kepada Ichika, "Yang Mulia Hakim~~~~!"

"Cup cup cup……."

Sambil menenangkan Itsuki, Ichika mengambil ponsel Itsuki dan memeriksa fotonya baik-baik.

"Emm…… Meskipun seperti yang dikatakan Miku, masa bisa posisinya jadi seperti ini ya~?"

"Ichika! Ternyata kamu memang paham!"

Merasa mendapat dukungan, Nino berputar ke belakang Fuutarou dan mengecamnya.

"Orang ini tiba-tiba melompat menindihku, tahu!"

"Bukan, waktu itu kan……."

"Fuutarou, apa itu benar?" Miku bertanya dengan suara tenang.

"Y-Ya memang begitu…… tapi itu kan……."

"Ternyata bersalah. Hukuman mati."

Miku cemberut kesal dan memalingkan wajah lagi.

"Miku-san!?"

Kepercayaan yang sudah dibangunnya sedikit demi sedikit mendadak jatuh bebas sampai ke Brasil sana. Jika dia tidak membuktikan kesucian dirinya, kalau begini terus, dia tidak akan bisa menjadi guru privat lagi. Tapi, apakah mereka akan percaya hanya dengan kata-kata Fuutarou saja……

"Rak……."

Sambil memendam sedikit kecemasan, tepat saat Fuutarou hendak membela diri──

"Dia melindungi Nino dari buku yang jatuh dari rak……."

Hampir bersamaan, Itsuki mengatakannya.

"Kalau dilihat baik-baik, bisa juga diartikan seperti itu sih…… apakah salah?"

Rupanya dia sudah memastikan kembali gambar di ponselnya dengan lekat-lekat.

"I-Itu benar sekali! Terima kasih ya, Itsuki!"

Fuutarou menumpukan kedua tangannya di meja dengan kuat, lalu memajukan tubuhnya ke arah Itsuki.

"Aku tidak punya alasan untuk diberi ucapan terima kasih. Aku hanya menunjukkan salah satu kemungkinan saja."

Itsuki memalingkan wajahnya seolah sangat tidak sudi.

"Memang benar sih……."

Melihat gambar di ponsel Itsuki, Miku pun tampaknya mempertimbangkannya kembali.

"Fuutarou-kun kan memang tidak punya keberanian sejauh itu ya~."

Seperti biasa, Ichika menggodanya sambil tersenyum kelelahan.

Nino, yang situasinya langsung berbalik seratus delapan puluh derajat, membelalakkan matanya kesal.

"Tunggu dulu~! Kenapa kalian berakting seolah masalah ini sudah selesai!? Jangan bicara sembarangan dong!!"

"Nino, kamu gigih sekali." ucap Miku.

"Kamu ini ya……!"

Ichika menurunkan kakinya yang bersilang, lalu berkata dengan raut wajah dewasa, "Sudahlah, jangan emosi begitu."

"Kita kan dulu lima bersaudara yang akrab."

Entah kenapa, tatapan mata Nino mendadak menjadi redup dan gelap.

"Bagaimanapun juga, ini adalah kecelakaan yang disebabkan oleh kecelobohanku. Maaf ya."

Merasa lega karena kecurigaan terhadapnya sudah bersih, Fuutarou membungkukkan kepala kepada Nino.

"Dulu katamu…… aku itu……!"

Tanpa melirik ke arah Fuutarou, Nino mengucapkan kata-kata itu dengan suara gemetar lalu berlari keluar dari ruangan.

"Hei, dia keluar tuh? Tidak apa-apa?"

Fuutarou menjadi khawatir, tetapi tidak ada satu pun dari saudarinya yang berniat mengejarnya.

"……Biarkan saja."

Mungkin karena sudah sering bertengkar, Miku mengatakannya dengan dingin.

***

Angka indikator lantai di lift terus menurun.

"Haah…… akhirnya bisa pulang ke rumah dan belajar……."

Saat Fuutarou yang sangat lelah bersandar ke dinding, suara dering ponselnya berbunyi.

Itu adalah pesan dari Raiha. Judul pesannya tertulis 『Selamat Atas Kerja Kerasnya』.

『Halo~, makan malamnya sudah siap lho~! Hari ini menunya adalah udon kari kesukaan Kakak!』

Ekspresi Fuutarou melunak, tatapan matanya menjadi penuh kehangatan. Walaupun terkadang mereka bertengkar mulut, adiknya adalah sosok yang selalu menghangatkan hatinya.

Kejadian tadi kembali terbayang di pikirannya. Apakah mereka baik-baik saja dengan kondisi seperti itu?

(……Tapi, tidak baik juga kalau terlalu mencampuri urusan rumah orang lain.)

Begitu keluar dari pintu luar, Fuutarou mendadak menghentikan langkahnya.

Tepat di samping area pintu masuk, Nino sedang duduk memeluk lututnya.

"Ah……!"

Nino yang menyadarinya segera berdiri dengan cepat dan melesat lari ke arah pintu dalam yang masih terbuka, tetapi dia terlambat satu langkah. Nino berdiri sejenak di depan pintu yang tertutup, lalu mengurungkan niatnya dan berjalan kembali sambil menatap Fuutarou dengan jengkel.

"Dasar, benar-benar tidak berguna ya!"

"Eeeeuh……." Ini benar-benar melampiaskan kekesalan pada orang yang salah.

Nino kembali duduk di tempat yang tadi. Tampaknya dia tidak membawa kunci. Tapi di sisi lain, merasa canggung jika harus meminta tiga orang di dalam untuk membukakan pintu.

"Ngapain lihat-lihat? Aku sudah tidak mau melihat wajahmu lagi, tahu."

Dia mengucapkan kata-kata ketus sambil menatap Fuutarou dengan tajam.

"Begitu ya, maaf deh."

Kalau membantu sembarangan, bukannya berterima kasih, dia malah bakal dimarahi.

(Tunggulah sendirian di situ…….)

Fuutarou berjalan meninggalkan Nino, tetapi dia tetap merasa penasaran dan melirik ke belakang.

Melihat sosoknya yang duduk kesepian dengan wajah lesu, dia benar-benar tidak bisa membiarkannya begitu saja.

"……Haah……."

Astaga. Dia berbalik arah, lalu duduk di sisi lain area pintu masuk yang berseberangan dengan Nino, kemudian Fuutarou menarik keluar buku kosakatanya dari kantong belakang celananya.

"……Ngapain kamu?"

"Ada soal yang bagaimanapun tidak bisa kuselesaikan. Aku tidak bisa tenang kalau belum menyelesaikannya sebelum pulang."

"……Ooh begitu. Belajar-belajar terus seperti orang bodoh."

"Bilang belajar itu bodoh adalah hal yang kontradiktif…… tapi yah, bisa dikatakan karena bodoh makanya belajar sih."

Dia berbicara tanpa memalingkan mata dari buku kosakatanya.

"……Berisik. Aku benci semuanya karena semuanya bodoh."

Nino mengucapkannya seperti membuang ludah.

"Benci katamu, apa termasuk saudaramu juga?"

Fuutarou menghentikan tangannya yang sedang membalik halaman buku kosakata, lalu menatap Nino.

"Itu bohong."

"Bukan bohong! Mengundang pria tidak jelas seperti kamu masuk ke rumah itu benar-benar tidak masuk akal…… Rumah kami──."

"'Di rumah lima orang ini tidak ada ruang sedikit pun untuk orang seperti dia.'"

Fuutarou mendahului kata-kata Nino.

"Benar, kamu tadi bilang begitu kan?"

"……Sudah cukup! Diam!"

Seolah tidak ingin mendengar lebih jauh, Nino memalingkan wajahnya.

"Kalau cuma sekadar benci padaku saja tidak bisa menjelaskan semuanya. Benci pada saudari sendiri……? Bukankah justru sebaliknya? Bukankah kamu sangat menyayangi kelima saudarimu? Makanya kamu tidak menyukai keberadaanku sebagai unsur asing di antara kalian."

"……Apa-apaan itu… sama sekali tidak tepat tahu… merasa sok tahu tentang orang lain… hal seperti itu mana mungkin terjadi, jijik……."

Sambil berkata demikian, dia membenamkan wajahnya sambil memeluk lutut. Fuutarou yang tidak peka pun bisa tahu bahwa itu adalah sikap berpura-pura kuat dari Nino.

Di antara mereka berdua, untuk sekejap mengalir keheningan misterius seolah hati mereka saling terhubung.

"……Apa sih… memangnya salah…? Aku cuma……."

Nino yang mendongakkan kepala merona merah dan terbata-bata.

Tampaknya dia akhirnya mau membuka hatinya. Fuutarou pun berbicara dengan penuh semangat.

"Nino, aku mengerti perasaan itu! Aku juga punya adik perempuan……."

"Benar kan! Aku tidak salah, kan!"

"Eh……?"

Jalan ceritanya agak berbeda dari yang dibayangkannya. Saat dilihat, Nino sudah kembali ke raut wajahnya yang tangguh seperti biasa.

"Seperti orang bodoh saja! Kenapa aku harus merasa murung begini?"

Seolah meyakinkan dirinya sendiri, dia berdiri dengan penuh semangat.

"Aku sudah memutuskan!"

Sudut bibirnya tersenyum tipis.

"Aku tidak akan menganggapmu. Meskipun gara-gara hal itu aku akan dibenci oleh anak-anak itu!"

Dia menatap Fuutarou dari atas sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.

Seandainya tadi aku langsung pulang saja—meskipun menyesal, semuanya sudah terlambat. Saat Fuutarou kehabisan kata-kata, pintu luar terbuka dan Miku keluar.

"Nino. Mau di situ sampai kapan? Cepat kemari."

Miku bersikap sangat alami kepada Nino seolah tidak terjadi apa-apa.

"Miku……."

Apakah ini yang dinamakan aturan kembar lima!?

"Ah, Fuutarou juga ada di sini rupanya. Kebetulan sekali. Soal besok……."

"Ayo pulang, Miku!"

Nino memotong pembicaraan, lalu menyeret Miku secara paksa.

"Tapi, aku masih mau bicara……."

"S-U-D-A-H-L-A-H!"

Melihat Nino yang pulang sambil mendorong punggung Miku, Fuutarou mengantarnya dengan pandangan tercengang.

──Gara-gara inilah aku tidak suka terlalu mencampuri urusan orang lain……

Tepat sebelum pintu kaca pada pintu dalam tertutup, Nino menjulurkan lidahnya ke arah Fuutarou.


Chapter 2 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment