『Hari Minggu yang cerah dan indah,
bagaimana kabar Anda sekalian? Hari ini ada festival kembang api di kota
Higashi, ya…….』
Dari radio FM lokal yang
terpasang pada radio kaset kuno—benda langka yang kini jarang terlihat—di atas
meja makan lipat yang juga berfungsi sebagai meja belajar, terdengar siaran
radio.
Fuutarou, yang berada di hadapan
tumpukan buku referensi di sampingnya, memasang senyum tipis yang agak
mengerikan.
Hari ini libur seharian. Dia bisa
melupakan si kembar lima dan belajar sepuasnya!
Fuutarou yang sedang
menyelesaikan soal matematika dengan kecepatan tinggi mendadak menghentikan
tangannya, "Lho?"
"Rumus yang ini, sebaiknya
kuajari ke mereka juga ya……."
Matanya kembali tertuju pada
lembaran latihan soal yang lain.
"Soal yang ini juga bagus nih. Kalau yang ini, Yotsuba juga mungkin
bisa paham…… Oh, kalau yang ini Miku deh."
Sambil tersenyum-senyum sendiri, Fuutarou mengambil buku pelajaran tersebut,
lalu tiba-tiba dia tersadar dan melemparkannya begitu saja ke udara.
"T-Tunggu dulu!? Aku lagi
ngapain sihー!! Berasa jadi guru privat yang hebat
saja!!"
Sambil berteriak, dia
jatuh terlentang membentuk huruf X di lantai. Gara-gara mereka, belajarku tidak
ada kemajuan. Walau tidak ada di sini pun, mereka tetap saja mengganggu
belajarku……!
Pada saat itulah, bel pintu depan
berbunyi pin-pong.
"Penagih utang ya?"
Ayahnya, Isanari, hari ini juga
bekerja. Sambil merasa enggan, Fuutarou membuka pintu.
"Kalau uang, kami
ti…… dak ada."
Begitu melihat wajah sang
tamu, dengan refleks dia langsung menutup pintu kembali. Meskipun bukan penagih
utang, secara perasaan, tamu ini adalah orang yang ingin segera disuruh pulang.
"Kenapa malah ditutup, sih!
Cepat buka!"
Suara gedokan pintu terdengar
keras.
Karena Raiha mengintip dari ruang
tamu dengan cemas, mau tidak mau dia membuka pintu sekali lagi.
"Ada barang yang harus aku
serahkan kepadamu!"
Itsuki mengucapkannya dengan nada
kesal.
"Ini gaji Uesugi-kun yang
dititipkan oleh Ayah."
Menerima amplop gaji dari Itsuki
yang dipersilakan masuk ke ruang tamu, tubuh Fuutarou mulai gemetaran hebat
seolah sendi-sendinya hendak copot. Dari dahinya bercucuran keringat dalam
jumlah yang tidak wajar.
Raut wajah Fukuzawa
Yukichi-sensei (lembaran uang 10.000 yen) yang sudah lama tidak
dilihatnya──apalagi dalam jumlah serombongan besar!
Raiha mengintip ke tangan
Fuutarou dari belakang.
"Gara-gara keringat Kakak,
Pak Yukichi jadi keriput!"
"Satu hari 5.000 yen untuk 5
orang. Total 2 kali pertemuan jadi 50.000 yen."
Tidak disangka imbalannya
akan sebesar ini……
"Ibu, Kakak
berhasil."
Raiha menangkupkan kedua
tangannya dan melapor pada foto almarhumah ibunya yang dipajang di atas lemari.
(Luar biasa…… Kalau begini, utang kita bisa lunas dalam sekejap…….)
Mata Fuutarou yang
tadinya berbinar penuh keserakahan mendadak kembali sadar.
"Kalau begitu aku
pulang dulu……."
Kepada Itsuki yang hendak
berdiri, Fuutarou menepuk amplop itu keras-keras TAK! di atas meja, lalu
mengembalikannya sambil berkata, "Aku tidak bisa menerimanya."
"Memang benar aku sudah dua
kali pergi ke rumah kalian. Tapi aku sama sekali tidak melakukan apa-apa."
Itsuki sempat memasang raut wajah
terkejut sejenak, tetapi kemudian menjawab dengan santai.
"Benarkah begitu? Bukankah kau
melakukan pelecehan seksual?"
Raiha menatap Fuutarou dari
belakang dengan tatapan seperti melihat sesuatu yang kotor, "Kakak?"
"Salah paham yang
itu kan sudah beres!"
Saat Fuutarou memprotes, raut
wajah Itsuki melunak sedikit.
"Menurutku bukannya kamu
tidak melakukan apa-apa kok. Keberadaanmu mulai mengubah sesuatu dalam diri
kami berlima."
"……Berlima katamu……."
"Ah, salah, maksudku empat
orang."
Itsuki buru-buru meralatnya, lalu
mengembalikan amplop itu ke arah Fuutarou lagi.
"P-Pokoknya aku
tidak menerima pengembalian uang. Mau kamu gunakan seperti apa pun itu kebebasanmu."
Jika setiap bulan bisa
memperkirakan imbalan dalam jumlah besar begini, menggunakan sedikit saja
rasanya tidak akan kena kutukan. Fuutarou bersedekap dada sambil berpikir keras
"Emmmm di hadapan amplop tersebut, lalu akhirnya berkata.
"Raiha, ada barang
yang kamu inginkan tidak?"
***
Roda putaran permainan berhenti
di kotak hadiah utama.
"Awawawawa~!"
Sambil mengeluarkan cahaya dan
suara yang meriah, koin-koin menyembur keluar berhamburan dari lubang hadiah.
"Kak! Koinnya,
koinnya!"
Raiha panik lalu menoleh ke arah
Fuutarou yang berdiri di belakangnya.
"Hahaha, berhasil ya!"
Sambil tersenyum pada adiknya
yang bermain dengan polos, wajah Fuutarou seketika kembali datar.
"Kenapa kamu ikut-ikutan ke
sini juga."
"Mau bagaimana lagi……."
Atas permintaan Raiha, mereka
datang ke game center, tetapi entah kenapa di sebelah mereka ada Itsuki.
"Tolak dong!"
"Mana bisa menolaknya, dia
terlalu imut, tahu!"
Kalau dimintai tolong dengan mata
berkaca-kaca begitu, "Itsuki-san juga tentu saja ikut, kan? Tidak boleh
ya?", selain mengangguk, apa lagi yang bisa dilakukannya?
"Aku paham!"
Fuutarou, yang juga seorang sister-complex
alias sangat menyayangi adiknya, mengepalkan tangannya erat-erat dan setuju
sepenuhnya.
Fuutarou dan Itsuki pun menikmati
berbagai permainan bersama Raiha, seperti air hockey, permainan mesin
capit, hingga permainan taiko. Karena kebanyakan butuh refleks fisik
daripada kerja otak, Fuutarou sama sekali tidak bisa memamerkan kehebatannya,
tetapi karena Raiha tertawa gembira, dia menganggapnya tidak masalah.
Tampaknya dia sangat ingin datang
ke sini. Mata Raiha berbinar-binar sambil berjalan celingukan ke sana kemari.
"Raiha-chan kelihatan senang
sekali ya."
Itsuki tersenyum sambil berjalan
mengiringi Fuutarou dan Raiha dari belakang.
"Raiha selalu kesusahan
gara-gara keadaan rumah kami. Padahal sebenarnya pasti ada banyak hal yang
ingin dia lakukan."
Sama seperti anak-anak lainnya,
sesekali dia pasti ingin pergi ke suatu tempat bersama keluarga. Memasak
makanan setiap hari juga pasti merepotkan, tetapi Raiha tidak pernah mengeluh
satu kali pun.
"Semua keinginannya akan kupenuhi."
Itsuki menatap profil wajah
Fuutarou dari samping yang tampak sangat serius, tidak seperti biasanya.
"Kakak, Itsuki-san! Terakhir,
aku mau coba main yang itu bertiga dong."
Fuutarou menahan napas saat
melihat benda yang ditunjuk oleh Raiha. Itu adalah purikura (booth foto
stiker) yang sering didengar lewat rumor. Bukankah itu barang milik orang-orang
populer (riajuu) yang hidup di dimensi berbeda darinya?
"D-Daripada itu, mending
yang sebelah sana saja……."
Saat Fuutarou hendak melangkah ke
arah berlawanan, Itsuki menepuk bahunya pelan.
"Semua keinginannya……
kan?"
Matanya yang bertekad seolah
mengatakan bahwa Anda juga harus pasrah saja.
Dengan enggan, mereka masuk ke
bilik pemotretan, Raiha berdiri di atas panggung kecil di tengah, sedangkan
Fuutarou dan Itsuki berdiri di kedua sisinya. Mesin purikura secara
berlebihan memandu dengan suara yang sangat ceria, 『Ayo bergaya dengan senyuman terbaikmu☆』.
"Muka kalian berdua kaku
banget!"
Raiha tersenyum ceria, tetapi
wajah Itsuki tidak kalah kaku dari Fuutarou.
"Mending kalian
berdua saja yang……."
Raiha menggenggam erat
tangan Fuutarou yang hendak keluar dari bilik.
"Tidak akan kubiarkan kabur!
Nah, Itsuki-san juga." Sambil memegang tangan Itsuki dengan tangannya yang satu lagi.
"Entah kenapa ini kelihatan
seperti foto keluarga ya."
"…………!"
Mengabaikan mereka berdua
yang sedang panik, suara jepretan kamera Kasyak! berbunyi.
Begitu keluar dan
menunggu beberapa menit, foto stiker yang telah dicetak keluar dari mesin purikura.
"Muka apa yang kamu pasang
itu."
"Kamu sendiri
bagaimana."
Saat Fuutarou dan Itsuki saling
mengejek satu sama lain, Raiha menoleh dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Kakak, Itsuki-san, terima
kasih ya! Ini akan kujadikan harta karun seumur hidupku."
Sambil berkata demikian, dia
menempelkan foto purikura itu ke dadanya dengan berharga.
Melihat sosok Raiha yang sangat
polos itu, tanpa disadari, keduanya melupakan kecanggungan mereka dan ikut
tersenyum.
Saat keluar dari game center,
matahari sudah hampir terbenam.
Sambil melihat foto purikura,
Raiha berjalan di depan dengan gembira.
"Pada akhirnya hari Minggu
malah habis begitu saja……."
Walaupun bagus karena Raiha
merasa gembira, jadwal Fuutarou jadi berantakan besar.
"Tidak, masih ada malam.
Kalian juga belajar ya malam ini."
Saat Fuutarou berkata begitu,
Itsuki tampak jelas tersentak kaget.
"A…… saya dari sini
mau……."
Dia berbalik arah 180
derajat dan mencoba berjalan pulang dengan terburu-buru.
"Agak mencurigakan
nih…… Pekerjaan rumah ada, kan? Sudah selesai?"
"Waaaah, jangan
ikuti saya!"
Itsuki berusaha keras
kabur dari Fuutarou yang mengejarnya sambil menjulurkan kedua tangannya seperti
zombie.
Tiba-tiba, terdengar
suara Raiha dari belakang yang merasa heran.
"Kakak, Itsuki-san ada empat
orang."
"Eh?"
Di mata Fuutarou yang menoleh,
terlihat kembar lima lainnya selain Itsuki yang mengenakan yukata.
"Ah!! Uesugi-san!"
Yotsuba adalah yang pertama kali berseru. Dia memakai yukata bermotif
bunga yang imut berlatar hijau, sama dengan pita telinga kelinci di kepalanya.
"Itsuki! Kenapa kamu bisa
sama si brengsek itu."
Nino yang modis memakai yukata
warna ungu muda dengan cetakan gambar kelinci.
Miku yang memakai yukata bermotif
burung layang-layang berlatar biru muda, entah kenapa kelihatan berwajah
cemberut.
"Jangan-jangan lagi kencan
ya? Maaf ya~?"
Ichika menggoda sambil
tertawa. Yukata bermotif kincir angin dengan aksen warna kuning milik
Ichika adalah yang paling kelihatan dewasa di antara mereka berempat.
"Bukan!"
Itsuki yang menanggapi
candaan Ichika secara serius, membantahnya dengan sekuat tenaga.
"Ooh, ini adik
perempuannya Uesugi-san ya?"
Yotsuba melangkah
mendekat, lalu berjongkok di depan Raiha.
"Mulai sekarang, ayo pergi
ke festival kembang api bersama-sama!"
"Kembang api!?" Wajah Raiha seketika
berbinar-binar.
Fuutarou juga sangat
ingin mengajak adiknya pergi, tetapi dia tidak bisa terus-menerus bermain.
"Tunggu sebentar! Aku
punya rencana untuk belajar, dan kalian juga ada pekerjaan rumah, kan."
Si kembar lima tersentak
secara bersamaan.
"Kakak……."
Raiha menatap Fuutarou
dari bawah dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak boleh ya?"
"Tentu saja boleh!"
Langsung menjawab dengan
tersenyum, selamat tinggal hari Minggu.
Tapi dia tidak akan
menyerah begitu saja. Fuutarou berbalik menghadap si kembar lima dengan wajah
tegas.
Di lokasi acara yang diterangi
temaram lampu lampion, berjejer banyak stan makanan dan sudah dipadati oleh
banyak orang.
"Akhirnya selesai
juga~!"
Nino meregangkan tangannya
lebar-lebar.
Mereka sempat kembali ke
apartemen, dan di bawah pengawasan ketat dari Fuutarou, si kembar lima berhasil
menyelesaikan misi mereka.
"Semuanya, terima kasih atas
kerja kerasnya~!"
Raiha yang menunggu di rumah
mereka sampai pekerjaan rumah selesai pun ikut bergabung.
"Kembang apinya mulai jam
berapa ya?"
"Jam tujuh belas sampai jam
dua puluh."
"Masih ada waktu satu jam
lagi, ayo ke stan makanan~!!"
Yotsuba, Miku, dan Ichika
berjalan sambil berdiskusi dengan ramai.
(Ada apa dengan semangat setinggi itu……?)
Fuutarou yang berjalan
mengikuti dari belakang memancarkan aura suram sendirian.
"Ah, mau coba main serok ikan mas tidak?"
"Wah, mau~!"
Yotsuba dan Raiha yang sama-sama berjiwa anak-anak tampak sangat akrab dan
cocok satu sama lain.
Fuutarou berbalik, lalu duduk di tiang pembatas jalan yang ada di dekat
situ. Ya, meskipun langka bagi si kembar lima, bahkan Nino yang tadi mengomel,
"Festival kembang apinya bakal mulai lho~!!" pun mengerjakan tugas
sekolahnya tanpa berulah, jadi kali ini dia bersabar dan mengikuti mereka.
Tapi, apa sampai segitunya ingin melihat kembang api…….
"Ada apa dengan raut wajah yang sama sekali tidak cocok dengan suasana
festival itu……?"
Dipanggil begitu,
Fuutarou mendongak sambil bergumam, "A?"
Rambutnya disanggul
rendah dengan menyisakan rambut di kedua sisi, memakai yukata bermotif
garis-garis merah, dan di tangannya memegang corndog yang baru dimakan
separuh.
Saat Fuutarou menatapnya
lekat-lekat, wajah gadis itu seketika memerah padam.
"A…… jangan terlalu
diperhatikan dong."
Tangannya memegang leher
bagian belakang, lalu berpaling dengan malu-malu.
"Siapa?"
"……Hah!?"
"Padahal wajah kalian sama
saja dan sudah bikin bingung. Jangan mengubah gaya rambut dong."
"I…… Itsuki tahu! Mau
seperti apa gaya rambutku itu, kan terserah aku!"
"A~ah, tidak boleh begitu
tahu~."
Ichika yang memasang raut wajah
jahil datang bersama Miku.
"Kalau anak perempuan
mengubah gaya rambutnya, setidaknya harus dipuji dong."
Dia membungkukkan badan, lalu
berbisik di telinga Fuutarou.
"Nih, apa kamu tidak
penasaran apakah yukata itu benar-benar tidak memakai pakaian
dalam?"
"Itu kan cerita zaman dulu.
Aku sudah tahu."
Fuutarou yang mulai kebal
terhadap godaan Ichika sama sekali tidak bergeming.
"Masa sih~?"
Secara tidak terduga, dia sedikit
membuka bagian kerah yukata-nya.
"Ichika……!"
Itsuki dan Miku tersentak kaget.
"Bercanda kok~. Bagaimana? Agak berdebar, tidak?"
"……Ngeyel
banget."
Ada apa dengan suasana
yang aneh ini? Fuutarou memegang kepalanya.
Pada saat itu, ponsel di
dalam tas kain Ichika bergetar. Sambil mengeluarkan ponselnya, dia menjauh
sedikit untuk mengambil jarak.
Sebagai gantinya, Nino datang.
"Kalian lagi ngapain sih di
tempat seperti ini. Ichika, ayo jalan!"
Ichika berkata, "Maaf, ada
telepon sebentar." sambil membelakangi mereka dan menempelkan ponsel ke
telinganya.
"Ya…… eh…… nanti
malam?"
Saat Fuutarou melirik secara
tidak sengaja, entah kenapa raut wajah Ichika berubah menjadi muram saat
berbicara. Sangat berbeda dengan Ichika yang tadi suka bercanda.
"Lagipula!"
Saat mengalihkan pandangan
kembali ke suara yang terdengar marah itu, Nino sedang bersedekap dada sambil
menatap Fuutarou dari atas.
"Hari ini kita berlima
datang untuk melihat kembang api. Kenapa kamu juga ada di sini sih."
"Aku cuma datang menemani
adikku kok."
Tepat setelah mengucapkannya,
Raiha berjalan mendekat bersama Yotsuba.
"Kakak~, lihat-lihat!
Yotsuba-san mengambilkannya untukku!"
Banyak sekali ikan mas
yang berenang—atau lebih tepatnya menggeliat—di dalam kantong plastik. Ditambah
lagi, ada tiga kantong. Ini bukan lagi tingkat serok ikan mas yang biasa,
melainkan kata "tangkapan besar" yang terlintas di pikiran.
"……Yotsuba. Apa kamu
tidak bisa agak menahan diri sedikit?"
"Ahaha…… kalau melihat
Raiha-chan, entah kenapa aku jadi ingin memberinya hadiah."
"Ini juga dibelikan
lho!"
Raiha memperlihatkan satu set
kembang api yang dipegang dengan gembira.
"Itu barang yang
paling tidak dibutuhkan hari ini, tahu!"
"Habisnya sudah
tidak sabar sih~."
Dasar, mau dimainkan kapan coba……
tapi karena dia imut, dimaafkan deh.
"Kamu sudah bilang terima
kasih dengan benar ke Kak Yotsuba belum?"
"Yotsuba-san, terima kasih
ya! Sayang banget!"
Raiha memeluk Yotsuba.
"Aahn, Raiha-chan imut
banget. Ingin kujadikan adikku deh!"
Yotsuba yang gemas sambil
mengesekkan pipinya ke pipi Raiha mendadak memasang raut wajah serius.
"Tunggu dulu…… kalau aku
menikah dengan Uesugi-san, secara legal kita bisa jadi kakak dan adik
dong……."
"Kamu sadar tidak sih sama
apa yang kamu katakan?"
Nino menyela, lalu menunjuk jari
tepat di depan hidung Fuutarou.
"Kamu juga jangan berpikiran
yang aneh-aneh ya ke Yotsuba!"
"Mana ada!"
Siku Fuutarou yang mendadak
mundur ke belakang tanpa sengaja menyenggol dada Miku.
"Ah, maaf!"
"T-Tidak apa-apa
kok……."
Tepat saat Miku memerah dan
menundukkan kepala, Ichika kembali.
"Maaf membuat menunggu. Nah,
ayo pergi."
"Hm? Mau pergi ke
mana?"
Atas pertanyaan polos Fuutarou,
Miku menjawab.
"Nino menyewa area atap restoran."
"Menyewa!? Dasar borjuis!"
Tetapi daripada kerumunan orang yang sampai tidak bisa bergerak begini,
tempat itu pasti jauh lebih tenang untuk menonton. Lagipula, Raiha yang
bertubuh pendek tidak perlu bersusah payah.
"Tunggu sebentar."
Mendengar suara tajam Nino, rombongan yang tadinya mulai berjalan berbalik
menoleh.
"Padahal sudah susah-susah datang ke festival, masa tidak membeli itu
dulu?"
Empat saudarinya serentak
berseru "Ah."
"Kalau dipikir-pikir
itu belum dibeli……."
"Ah, jangan-jangan kamu lagi
membicarakan soal itu?"
"Memangnya ada stan yang
jualan itu ya."
"Ingin cepat-cepat makan itu
deh~."
Miku, Ichika, Itsuki, dan Yotsuba
mulai berbicara secara bersamaan tentang "itu". Sepertinya itu
adalah makanan kesukaan si kembar lima.
"Apaan sih…… itu yang
dimaksud?"
Karena penasaran, Fuutarou
bertanya, lalu kelimanya mencocokkan suara "Satu, dua!"
Ichika menjawab "Es
serut", Nino "Manisan apel", Miku "Kue boneka",
Yotsuba "Pisang cokelat", dan Itsuki "Yakisoba".
Kata "itu" yang
diucapkan secara bersamaan ternyata berbeda-beda secara luar biasa.
"「「「「「Ayo beli semuanya~!」」」」」"
Cuma bagian itunya saja pendapat
mereka cocok.
"……Aku makin ragu apakah
kalian ini beneran kembar lima."
Fuutarou bergumam pelan.
Mendekati jam peluncuran, jumlah
pengunjung yang datang semakin bertambah banyak.
"Raiha, kalau terpisah nanti
bisa tersesat. Pegang di sini ya."
Fuutarou menyodorkan lengan
kemeja lengan pendeknya.
Raiha menjawab, "Iya~"
sambil memegang lengan kemejanya lalu berjalan.
Nino yang berjalan di dekat situ
melirik sekilas ke arah keakraban kakak-adik tersebut.
"Aku benar-benar
tidak bisa menerima ini! ……Pemilik toko itu."
Itsuki sedang marah
besar. Paman penjual baby castella yang dihampiri karena tergiur
aromanya memberi bonus melimpah sampai meluap ke kantong Ichika dengan alasan
"Buat si cantik", tetapi kantong Itsuki justru sangat kempis.
"Maksudnya apa coba? Padahal
wajah kami sama."
"Perasaan kembar lima yang
rumit…" gumam Miku pelan.
"Raiha-chan! Selanjutnya, ayo main lempar gelang!"
"Wah, mau~!"
Yotsuba dan Raiha berlari penuh semangat menuju stan permainan sambil
berseru, "Ayo~!".
"Jangan sampai tersesat lho!" Fuutarou merasa sangat cemas.
"Ah, yakisoba,
yakisoba!"
Itsuki langsung menyerbu
stan incarannya. Ichika pun menyusul.
"Kalian lambat
banget!!"
Nino yang berjalan di
paling depan menoleh dengan kesal.
"Nino semangat
banget ya."
Fuutarou berbicara sambil
berjalan sejajar dengan Miku yang memakai topeng Hyottoko di kepalanya. Kenapa dari sekian banyak pilihan topeng
dia memilih yang itu. Selera
Miku memang unik, dan sejujurnya agak terkesan seperti orang tua.
"Kalian juga dari tadi
semangat terus. Kembang api kan setiap tahun juga ada."
"……Kembang api itu kenangan
bersama Ibu."
Miku mulai bercerita dengan
pandangan mata yang jauh dan tampak sendu.
"Karena Ibu suka kembang
api, setiap tahun kami selalu pergi menonton bersama…… Setelah Ibu tidak ada
pun, setiap tahun kami tetap pergi bersama…… Bagi kami, kembang api itu
memiliki arti seperti itu."
Jadi begitu ya…… Fuutarou
mengalihkan pandangannya dari Miku ke Nino. Pantas saja anak itu tampak begitu
bersemangat. Di tengah kerumunan orang, entah kenapa hanya sosok punggung Nino
yang tampak menonjol.
『Terima kasih telah menunggu lama. Festival
kembang api akan segera dimulai.』
Pengumuman terdengar dari
pengeras suara yang dipasang di lokasi acara, lalu kehebohan bersorak dari para
pengunjung.
"Kalian ini……
lho?"
Nino yang berjalan
sendirian di depan berbalik dan celingukan.
Sosok yang lainnya tidak
terlihat. Tanpa disadari,
jarak di antara mereka sepertinya sudah semakin jauh.
"Aduh, siapa sih yang
menginjak kakiku!"
Orang-orang mulai
bergerak secara bersamaan menuju lokasi kembang api. Nino mencoba berjalan
melawan arus untuk mencari mereka, tetapi gelombang manusia terus berdatangan.
"Tunggu dulu…… kalian semua
di mana!?"
Bagaimana kalau tidak bisa
bertemu? Rasa cemas mulai hinggap perlahan.
"Yotsuba! Ichika! Itsuki!
Miku! Ue……."
Seseorang menggenggam dan menarik
tangan Nino yang hampir terjatuh karena terdorong.
"Pegang di sini."
Sama seperti yang dilakukannya
pada adiknya tadi, Fuutarou mengarahkan tangan Nino ke lengan kemejanya.
"A-Apa-apaan sih……!"
"Di tempat seperti ini tidak
akan ada selesainya. Untuk
sementara, antar aku ke restoran yang kamu sewa itu."
Setelah berkata demikian,
Fuutarou melepas tangan Nino lalu menghadap ke depan. Miku yang tadi berjalan
bersamanya pun tanpa disadari sudah terpisah.
"Aku tidak
mengundangmu tahu."
"Iya iya, ayo jalan.
Kamu mau melihat kembang api
berlima, kan."
Punggung Fuutarou di depannya
entah kenapa tampak begitu besar. Meskipun merasa kesal, rasa lega juga memang
ada──Nino memerah dan dengan perlahan memegang lengan kemeja Fuutarou dengan
jarinya lalu berjalan.
Akhirnya mereka berhasil keluar
dari kerumunan orang dan sampai di restoran tujuan.
"……Di sini?"
"Iya. Di atap gedung
ini."
Waktu mulai acara sudah sangat
dekat. Mereka berdua menaiki tangga dengan cepat.
"Haah haah haah…… pasti
semuanya sudah berkumpul……."
Begitu sampai di atap, suara
kembang api Hyuuu~ meluncur ke atas.
"Ah!"
Duaaar! Suara ledakan besar terdengar,
dan bunga besar beraneka warna mekar di langit malam.
"Bagaimana
ini……."
Tersinari oleh kembang
api, Nino memasang senyuman canggung dan serba salah.
"Kalau dipikir-pikir
baik-baik, lokasi restorannya cuma aku yang tahu……."
──Sisa waktu sampai
festival kembang api berakhir: 59 menit 51 detik.
Duaaar, dar-dar,
duaaar.
Kembang api meluncur naik
satu demi satu.
Nino sejak tadi diam
mematung dengan mata seperti ikan mati, dan Fuutarou yang merasa canggung
dengan keheningan itu mulai menceritakan wawasan soal kembang api.
"Ada teori yang
mengatakan orang Jepang pertama yang melihat kembang api adalah Tokugawa
Ieyasu. Asalnya dari
Tiongkok, tetapi melalui Eropa, sampai ke Tanegashima bersamaan dengan senjata
api……."
"Sama sekali tidak seru!
Memangnya hal menyedihkan apa yang membuatku harus menonton kembang api berdua
denganmu sih!"
"Itu kan gara-gara
kamu sendiri!"
Fuutarou membalas omelan
Nino yang malah emosi balik.
Sambil memegang
ponselnya, Nino menggigit bibirnya dan menunduk.
"Ponsel juga sama sekali
tidak dapat sinyal…… padahal sudah berusaha keras menyelesaikan tugas sekolah……
kenapa jadi begini sih……."
Nino yang tampak lesu begitu
terlihat tidak seperti dirinya yang biasa, membuat Fuutarou juga merasa
kasihan.
Pada saat itu, panggilan masuk
dari Yotsuba masuk ke ponsel Nino.
"Yotsuba? Duh, kalian ada di
mana? Eh, menara jam? Ya, paham. Aku jemput ke sana, jadi di situ saja,
a……."
Di tengah pembicaraan, telepon
terputus, berganti menjadi suara nada elektronik tut-tut.
"……Duh! Adikmu tidak
apa-apa. Dia bersama Yotsuba kok."
"A-Ah, begitu……."
"Jangan melamun saja, kamu
juga telepon sana!"
"Ah, benar juga."
Dengan panik, Fuutarou
mengeluarkan ponselnya, tetapi kontak yang terdaftar hanya ada dua, yaitu 『Ayah』 dan 『Raiha』.
"Sial, ponsel ini
tidak berguna!!"
"Yang tidak berguna
itu kamu!!"
"……Lho?"
Fuutarou
yang kebetulan melihat ke arah alun-alun di bawah, menemukan sosok punggung
dengan yukata yang tidak asing lagi baginya.
"Eh,
bukankah itu Ichika?"
"Eh!? A-Ah,
beneran!"
Nino dengan panik
meneleponnya, tetapi yang terdengar hanyalah pengumuman suara yang menyatakan
sambungan tidak aktif.
"Kenapa sih!
Sinyalnya hilang lagi……."
Melihat kepanikan
Nino, suara Miku yang pernah berkata, "Kencan itu adalah kenangan bersama
Ibu," kembali terngiang di benak Fuutarou. Sembari memutar balik badannya,
Fuutarou tiba-tiba berbicara.
"Tunggu di
sini. Aku akan menjemput mereka semua."
Sambil berkata
begitu, dia melangkah menuju pintu keluar atap.
"……Karena
aku juga tidak mau berdua saja denganmu."
Dia sempat
berhenti di tengah jalan, lalu menambahkan alasan itu dengan nada membela diri
tanpa menatap mata Nino.
"Huh, aku
juga……." Nino hendak membatalkan ucapannya. Dia mengepalkan tangannya
erat-erat pada pagar pembatas. Ini bukan waktunya untuk bertengkar.
Meskipun
menyebalkan, satu-satunya orang yang bisa diandalkannya hanyalah Fuutarou.
"……Bukan
apa-apa. Urusan mereka semua aku serahkan padamu ya."
Nino menoleh ke
arah Fuutarou, lalu menatap matanya secara langsung dan berkata demikian.
***
Di antara
kerumunan penonton yang terpesona oleh kembang api, Fuutarou bergegas menuju
tempat Ichika berada.
"Ichika!"
Ichika menoleh
dengan terkejut. Fuutarou
menghentikan langkahnya dan berkata sambil terengah-engah.
"……Syukurlah.
Nino sedang menunggu. Cepat kembali ke restoran."
Tangannya
yang terulur hendak menggapai Ichika, tiba-tiba ditepis dengan keras oleh
seseorang.
"Kamu
siapa?"
Orang
yang muncul adalah seorang pria paruh baya berkumis yang mengenakan sweater
ungu mencolok.
(A-Anak
muda?. Justru kamu ini siapa!?)
Pria
paruh baya yang kelihatan genit itu.
"Ada hubungan apa dengan Ichika-chan?"
Fuutarou menepis tangan yang mencengkeramnya.
"Hubungan?" Saat ditanya begitu, kata-kata tidak
langsung keluar dari mulutnya. Dia menunduk dan berpikir keras.
"Aku…… anu……
teman…… pengajar…… rekan…… kenalan…… benar, cuma kenalan!"
Begitu dia
menemukan kata-kata yang tepat dan mendongakkan kepalanya, si pria berkumis itu
sudah tidak ada.
"Lho……?"
Dia menoleh ke
sana kemari untuk mencari, tetapi Ichika juga ikut menghilang bersama pria itu.
"Padahal
cuma kenalanー!?"
Dia tanpa sadar
berteriak ke arah langit, menarik perhatian seluruh orang di sekitarnya.
──Sebenarnya apa maksud dari semua ini, Ichika!?
"Fuutarou."
Dipanggil begitu,
Fuutarou terlonjak kaget dan menoleh.
"……Ichika……."
Pikirannya keliru, ternyata orang yang ada di sana bukanlah Ichika, melainkan
Miku yang mengenakan topeng Hyottoko di kepalanya—bukan, bukan Hyottoko.
"Miku,
syukurlah! Syukurlah kamu bisa menemukanku."
"Iya……
karena kamu terlalu mencolok."
Miku memalingkan wajahnya dengan canggung. Kesadaran seorang ksatria
mencegahnya mengatakan "dalam arti yang buruk".
"Ah, benar,
kita harus mengejar Ichika! Ikut aku."
Saat Fuutarou
hendak bergerak, Miku berjongkok sambil berkata, "A-Ah, tunggu!"
"Sakit……
kakiku…… terinjak orang……."
Saat dilihat,
punggung kaki Miku memerah dan membengkak.
"Fuutarou
duluan saja."
"……Naiklah
ke punggungku."
Fuutarou
berjongkok membelakangi Miku, lalu menggendongnya tanpa memberi kesempatan bagi
Miku untuk menjawab.
Kedekatan hingga
bisa merasakan suhu tubuh membuat pipi Miku merona tipis.
"Miku,
apakah dari sini kamu bisa melihat Ichika?"
Sambil digendong
oleh Fuutarou, Miku berjinjit dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Ichika……?
Tidak kelihatan sih……."
Fuutarou berjalan
satu langkah lalu berhenti, melangkah satu langkah lagi lalu berhenti.
"Jangan-jangan,
kamu berniat mengejarnya terus begini……."
Merasa Miku
mengatakannya dengan rasa malu, Fuutarou menurunkan Miku dari punggungnya tanpa
berkata apa-apa.
"Berat,
jadi tidak mungkin bisa mengejarnya."
Dia
mendeklarasikannya dengan tegas. Pinggangnya sakit. Beban punggungnya
benar-benar berbeda jauh dari Raiha.
Mendudukkan Miku
di tangga terdekat, Fuutarou melilitkan sapu tangan miliknya ke kaki Miku.
"Dengan
begini harusnya sudah agak mendingan, kan."
"Makasih."
Ucap Miku sambil memalingkan wajahnya dengan ketus.
(Lho…… kok dia
malah marah……?)
Fuutarou memang
sosok yang sama sekali tidak peka.
***
Yotsuba yang
terpisah dari yang lain berada di dekat dasar menara jam bersama Raiha.
"Raiha-chan,
mau kubelikan takoyaki? Eh, di sebelah sana ada yakisoba! Di seberang sana juga
ada okonomiyaki……."
Raiha yang duduk
di atas undakan batu menggenggam erat ujung baju Yotsuba yang hendak pergi.
"Yotsuba-san,
kita tidak boleh pergi dari sini."
Mereka tidak akan
berpindah tempat sampai seseorang menemukan mereka. Itulah aturan dasar saat
tersesat.
Perut Yotsuba
berbunyi nyaring dan bertenaga: kruuuuk.
"Nah. Makan
ini untuk bersabar ya."
Raiha
mengeluarkan manisan apel dari dalam kantong kertas lalu tersenyum manis. Kalau
begini, jadi tidak tahu siapa yang sebenarnya lebih tua sebagai kakak.
"Ahahaha……
malu banget aku……."
Yotsuba menggaruk
kepalanya sambil tersenyum canggung.
"Jadi…… kamu
benar-benar melihat Ichika?"
Miku dan Fuutarou
sedang duduk di tangga sambil mengobrol.
"Iya……
padahal dia seharusnya sadar ada aku, tapi dia malah pergi entah ke mana
bersama paman berkumis itu. Apa kamu tahu sesuatu?"
"Tidak……
ah."
Meskipun sempat
menggelengkan kepala, Miku mendadak teringat sesuatu.
"Dulu, aku
mungkin pernah melihat Ichika keluar dari mobil pria berkumis itu."
"Apa-apaan
itu, jangan-jangan mereka punya hubungan yang mencurigakan…… yah, terserah sih,
tidak peduli juga."
Dia mengeluarkan
ponselnya dan memastikan waktu. Sudah jam 19.20.
"Tinggal 40
menit lagi. Lagi ngapain sih anak itu. Kalau begini terus, kembang apinya akan
selesai sebelum kalian berlima berkumpul."
Miku menatap
Fuutarou dengan heran.
"Padahal
tidak ada hubungannya sama belajar, tapi kamu kooperatif banget ya. Padahal
kamu Fuutarou."
"Tidak
sopan…… Aku juga punya pemikiran sendiri, tahu." ucapnya sambil berdiri.
"……Aku kan
melihat sendiri betapa gigihnya kalian mengerjakan tugas sekolah demi hal
ini."
Dia menoleh ke
arah Miku dan menyodorkan tangannya, "Bisa jalan?"
"……Iya."
Meski sama sekali
tidak peka, Fuutarou itu baik hati. Miku pun tersenyum dan mengulurkan
tangannya.
Tepat saat tangan
mereka berdua bersentuhan, seseorang memanggil, "Permisi."
Beberapa wanita
yang tampaknya staf acara berdiri sambil memegang papan klip.
"Kami sedang
melakukan survei untuk pengunjung yang datang ke festival kembang api. Kalau
boleh tahu, kalian berdua punya hubungan seperti apa ya?"
Apa-apaan ini,
déjà vu? Fuutarou membeku. Pemandangan saat paman berkumis tadi menanyakan
hubungannya dengan Ichika kembali terbayang.
"Ah, tidak
perlu ditanya lagi ya. Kalian berdua ini pasangan kekasih, kan."
Wanita yang
satunya lagi menimpali, lalu para staf itu saling melemparkan senyuman satu
sama lain.
"K-Kami
bukan kekasih……!"
Saat Miku mencoba
memberi penjelasan, staf wanita itu menatapnya dengan heran.
"……Dilihat
dari sudut mana pun kelihatan seperti itu kok……."
Arah pandangan
mata mereka tertuju pada tangan Fuutarou dan Miku yang saling bertautan.
Keduanya yang
baru menyadari hal itu seketika memerah padam dan langsung melepaskan genggaman
tangan mereka.
"I-Ini
tuh……."
"Bukan
seperti itu…… k-kami ini…… te……."
"Cuma
sebatas kenalan kok."
Fuutarou menyela
kata-kata Miku dengan cepat.
"Hm? Atau
lebih tepatnya teman sekelas ya…… hmmm, rasanya kalau cuma itu masih kurang
tepat…… teman
kenalan…… klien……."
Dia
bergumam sendirian sambil mencari jawaban yang pas.
Seolah
ingin menghindari masalah, para staf wanita itu berkata, "O-Oh begitu ya. Maaf
atas ketidaksopanannya~" lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Fuutarou."
Miku
cemberut dan menatap Fuutarou dengan tajam.
"Eh……? A-Ada
apa?"
Apa aku bikin dia
marah lagi……? Tentu saja dia sama sekali tidak tahu alasannya.
Melihat Fuutarou
yang panik, Miku tersenyum tipis dengan raut wajah agak sedih.
"……Tidak
kok. Bukan apa-apa."
Meskipun mulutnya
berkata begitu, ekspresi Miku yang tadi terus mengganjal di pikiran Fuutarou.
"Ah,
Fuutarou. Itu tuh."
Miku menunjuk ke
arah kerumunan orang. Yukata dengan garis-garis merah itu adalah Itsuki. Dia
sedang berjalan celingukan sambil memegang ponsel di tangannya.
"Tunggu di
sini, aku akan membawanya ke mari."
Fuutarou
menerobos kerumunan orang dan mengejar Itsuki.
"Itsuki!"
Itsuki terkejut
dan menoleh. Senyuman lega yang ceria di wajahnya seketika redup seperti bohlam
yang mati begitu melihat Fuutarou.
"Apa,
ternyata kau……."
"Sembunyikan
sedikit rasa kecewamu itu dong. Di sebelah sana, Miku sedang istirahat. Untuk
sementara ayo berkumpul dulu."
"Ah,
baik……."
"Kalau
begini, yang hilang tinggal Ichika saja ya."
Sambil berjalan,
Fuutarou berbicara ke arah punggung Itsuki yang berjalan di depannya.
"……Boleh
kutanya satu hal? Sebenarnya hubungan kita ini seperti apa sih?"
"Pertanyaan
mengerikan macam apa itu."
Karena hatinya
sudah mulai sekeras baja, jawaban tajam dari Itsuki pun diabaikan dengan
tenang.
"Bagaimana
ya…… kalau mengalah seratus langkah, mungkin orang asing?"
"Mengalah
seratus langkah pun cuma sebatas itu!?" Hatinya patah dengan sangat mudah.
Benar-benar hancur berkeping-keping.
"……Lagipula,
tanpa perlu bertanya padaku pun."
Itsuki
menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Fuutarou.
"Bukannya kamu
sudah memiliki jawaban itu?" BLAR! Kembang
api yang sangat besar meletus di belakang Itsuki.
……Jawaban
apa maksudnya. Fuutarou memiringkan kepalanya bingung. Memang benar, hubungan
antarmanusia itu jauh lebih rumit daripada belajar.
"Sekarang
yang lebih penting adalah Ichika. Dia pergi ke mana ya."
Itsuki berjalan
ke depan dengan raut wajah cemas.
"Syukurlah.
Kamu sudah bisa berkumpul dengan Itsuki-chan, ya."
Tepat di belakang
Fuutarou, sebuah suara mendadak terdengar.
"Ichi……!"
Tepat saat
Fuutarou hendak memanggil namanya, Ichika menempelkan jarinya ke mulut
Fuutarou, lalu menarik Fuutarou ke arah berlawanan untuk menjauhkannya dari
Itsuki sambil berkata, "Kemari sebentar."
"Kamu sudah
lihat kembang apinya? Luar biasa ya."
"Hei! Mau
pergi ke mana, kita kan mau nonton berlima!?"
Jarak mereka
semakin jauh dari Itsuki yang belum menyadari bahwa Fuutarou sudah tidak ada.
"Ahaha, sudah-sudah, tenang saja."
Sambil membawa Fuutarou yang bingung ke dalam gang sempit,
Ichika melakukan kabe-don terbalik padanya.
"……Terus ya. Soal yang tadi tolong dirahasiakan
ya."
Meskipun terasa tekad yang kuat di matanya, dari wajah
maupun suaranya sama sekali tidak bisa dibaca emosi apa pun.
"Aku tidak bisa menonton kembang api bersama yang
lainnya."
Tepat saat Ichika mengucapkan hal itu, lima letusan kembang
api membumbung tinggi secara beruntun.
Pada saat yang
sama, kembar lima lainnya──.
"……Eh?
Uesugi-kun?"
Itsuki yang baru
menyadari bahwa sosok Fuutarou yang tadinya ada di belakangnya sudah tidak ada,
mulai mencari Fuutarou dengan wajah cemas di tengah gelombang kerumunan orang.
Berdiri terdiam
sendirian di depan etalase toko di dekat tangga adalah Miku, yang sedang
menunggu Fuutarou yang tak kunjung kembali.
Yotsuba dan Raiha
yang berada di menara jam sama sekali tidak menyangka bahwa yang lainnya berada
dalam situasi seperti itu.
"Indah
banget ya."
"Iya!"
Mereka sengaja
memilih untuk tinggal di sana, duduk berjejer di bawah menara jam sambil
menikmati kembang api dengan polosnya.
Dan Nino yang
ditinggalkan di atap gedung, menatap kembang api yang seharusnya ditonton
berlima itu sendirian dengan rasa sendu.
──Sisa
waktu sampai festival kembang api berakhir: tinggal 24 menit lagi.


Post a Comment