Chapter 5
Kecocokan yang Sempurna ♡
『Jam
istirahat siang, datanglah ke ruang kelas kosong.』
『Mau datang
ke ruang kelas kosong pas jam istirahat siang nggak?』
Hari ini adalah sehari setelah aku
berpapasan dengan mantan pacar Hinata-san.
Meski tanpa kejadian itu pun kemarin sudah
dipenuhi berbagai macam hal, awal pagi di hari baru ini sudah memberikan
firasat bahwa sesuatu yang lain akan kembali terjadi.
"……Ini tuh kebetulan, atau sengaja
janjian, ya?"
Yah... hal itu bakal ketahuan begitu jam
istirahat siang tiba, kan?
Meskipun situasinya berbeda dari biasanya, aku
sama sekali tidak punya alasan untuk menolak ajakan Hinata-san dan yang
lainnya, jadi aku memutuskan untuk pasti datang dan menyimpan ponselku.
"Soal yang kemarin itu—"
"Latihan kemarin tuh ya—"
Seperti biasa, Kanata dan Rio sedang asyik
mengobrol tepat di hadapanku.
Mereka meminjam kursi dari bangku sebelah dan
berkumpul di mejaku, tapi pemandangan seperti ini sudah menjadi rutinitas yang
berlangsung lama.
Agak memalukan kalau diucapkan, tapi kami
bertiga benar-benar sangat akur.
Mungkin kalau dicari di seluruh negeri pun,
jarang sekali ada persahabatan yang seerat ini, kan?
"Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini klub
bola sibuk banget, jadi aku nggak sempat main."
"Iya juga ya... Andai kata kita bisa
lebih sering main-main bareng."
Melihat mereka berdua yang sedang asyik
mengobrol lekat-lekat, aku jadi teringat masa-masa ketika kami baru mulai
dekat.
Dulu, aku pernah menyelamatkan Rio yang sedang
digombalin preman di jalan, dan berkat Kanata yang memang sudah sering
mengobrol denganku sebelumnya, jarakku dengan Rio pun menjadi sangat dekat
dalam waktu singkat.
Kalau kejadian itu tidak pernah terjadi,
mungkin hubungan kami tidak akan seperti ini, tapi sekarang aku sangat
berterima kasih karena itu menjadi pemicu akrabnya kami bertiga.
"Hoo~i, Tsubaki~?"
"Eh…… oh."
Sambil melambaikan tangan di depan
wajahku, aku langsung tersadar dari lamunan.
Ternyata aku melamun mengingat masa lalu lebih
lama dari yang kukira.
Melihat mereka menatapku dengan cemas, aku
lantas jujur mengaku kalau aku tadi sedang bernostalgia.
"Masa lalu?"
"Yaelah, ingat pas aku nolongin Rio waktu
hampir digombalin preman itu lho."
"Ah~!"
"Dih…… Waktu itu memang jadi awal aku
bisa dekat sama Tsubaki-kun, tapi memori tentang sampah-sampah kayak mereka
nggak usah diingat-ingat lagi~!"
Bagi Rio, itu pasti jadi kenangan pahit, tapi
mendengar kata-katanya yang tetap blak-blakan membuatku tersenyum.
"Musim panas sebentar lagi tiba dan
turnamen sepak bola juga mau mulai, kan? Kanata, usahakan jangan sampai cedera,
ya, dan Rio, dukung dia baik-baik, ya."
"Ngomong kayak orang tua aja lu... Tapi,
ah! Makasih ya!"
"Iya! Supaya Kanata nggak aneh-aneh dan
bikin Tsubaki-kun khawatir, bakal kutonjok sampai pingsan kalau dia nekat
berulah, jadi tenang aja!"
"Itu mah berlebihan...?"
Pokoknya, aku hanya bisa berdoa agar Rio tidak
menjadi penyebab Kanata cedera.
"Tapi ya, tiap hari dipamerin kalian
berdua yang kelakuannya kayak couple bucin begini, jujur bikin aku senang
sih."
"I-iya
kah!"
"Dih♪
Dibilang couple bucin~♪"
Kanata
menggaruk kepalanya karena malu, sementara Rio menggoyangkan tubuhnya sambil
berkata, "Iih, ih."
Gerakan
Rio itu, kalau seandainya dilakukan oleh Hinata-san atau Arisa-san, pasti dada
besarnya akan ikut berguncang hebat... Tapi di kasus Rio, tidak ada yang bisa
diguncang—ah bukan, karena dia mengenakan seragam sekolah dengan rapi, jadi
yang berguncang cuma dasinya doang.
"Rio nge-trank lagi tuh."
"Ufufu~♪"
"Kalau Rio sudah kumat begituan,
bakal lama... Nah, mending aku ke toilet dulu sebelum bel homeroom mulai."
"Sip."
Beberapa saat setelah Kanata keluar dari kelas,
Rio akhirnya sadar kembali dari lamunannya.
"……Eh!? Kanata mana?!"
"Ke toilet. Waktu kamu lagi 'trank' tadi."
"Begitu ya... Astaga, kebiasaan
burukku kambuh lagi, ya."
Rio menaruh sikunya di atas meja, menopang
dagunya dengan tangan, lalu menatapku.
Ia membuka suara dengan senyuman lembut
yang benar-benar tidak pernah kuharapkan dari sosok Rio di masa lalu yang
kukenal.
"Seperti yang Tsubaki-kun bilang
tadi, kalau melihat kami berdua senang bikin kamu ikut senang, aku juga paling
suka lihat Kanata akur sama Tsubaki-kun. Soalnya, orang yang paling aku percaya
setelah Kanata ya cuma Tsubaki-kun."
Padahal kami sedang berhadapan langsung,
tapi dia berani banget ngomong hal-hal memalukan seperti itu.
Meskipun jantungku sama sekali tidak
berdegup kencang, aku refleks mengalihkan pandangan, dan Rio, yang mengira itu
adalah caraku menyembunyikan rasa malu, malah mulai menyeringai jahil.
"Ah, iya benar! Tsubaki-kun, ayo
ngobrolin koi-bana (cerita cinta) yuk?"
"Cerita cinta?"
"Iya! Tsubaki-kun, emangnya nggak ada
orang yang lagi kamu taksir?"
"Orang yang kutaksir... ya."
Begitu ditanya soal orang yang ditaksir,
bayangan Hinata-san dan Arisa-san langsung melintas di benakku.
"Eh……? Dari reaksimu itu, berarti ada
ya!?"
"……Yah."
"Siapaaa?!"
"Rahasia."
"Muuu~~~~!!"
Aku juga salah karena memberikan respons yang
penuh teka-teki seperti itu. Sampai Kanata kembali ke kelas, aku terus-terusan dibombardir
pertanyaan oleh Rio yang mendesakku untuk menyebutkan siapa orangnya, tapi
untungnya aku berhasil mengelak dan selamat dari interogasi itu.
***
Waktu terus berjalan hingga akhirnya tiba jam
istirahat siang seperti yang dijanjikan dengan Hinata-san dan yang lainnya.
"Ah, dia datang."
"Yahho~♪"
Begitu aku tiba di ruang kelas kosong di lantai
tiga, keduanya sudah menunggu bersama-sama.
Ternyata ini bukan kebetulan, ya... Kalau
begitu, aku mulai merasa tegang memikirkan topik apa yang sebenarnya akan kami
bicarakan nanti.
"Sini, Tsubaki."
"Sini dong, Tsubaki-kun."
Dipanggil dengan lambaian tangan mereka,
langkah kakiku seolah tersedot mendekat.
Begitu jarak di antara kami menyusut,
Hinata-san langsung menggenggam tangan kananku, sementara Arisa-san merapat
memeluk lengan kiriku.
"............"
Situasi dipojokkan oleh dua senior gyaru yang
cantik ini... Sebenarnya apa-apaan ini!?
"Nih, Tsubaki?"
"I-iya!"
Uwah... suaraku sampai melengking saking
kagetnya...
Suara bernada tinggi mirip perempuan yang
keluar dari mulutku sukses membuat pipiku semakin panas, tapi Hinata-san yang
menatapku hanya terkekeh geli sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Aku dan Tsubaki itu sex friend... Tapi, hubungan kita ini jauh lebih dalam daripada seks biasa, tahu? Tolong
jangan ajukan protes apa pun soal ini, mutlak."
"B-baik, Nee-chan!"
"Bagus, jawaban yang pintar. Nah, Arisa
juga bilang pengin menghabiskan waktu dengan Tsubaki seperti aku. Makanya, aku
memang prioritas utamanya, tapi sesekali layani juga si Arisa ini, ya."
"Sebentar! Kalau cuma 'sesekali' sih aku
nggak mau ya!?"
Arisa-san memprotes dengan nada meninggi,
namun Hinata-san hanya menggelengkan kepala pelan seolah merasa repot.
"Ini sudah batas kompromiku, lho? Lagian,
bukannya kamu sendiri yang tiba-tiba nyelonong masuk di antara aku dan Tsubaki?
Padahal aslinya Tsubaki itu cuma milikku seorang."
"Mana bisa gitu! Waktu aku ajak ngobrol, dia ternyata anak yang baik
banget, manis banget... Sampai-sampai aku nganggep dia kayak adik kandung
sendiri! Gemes banget, jadi aku pengin manjain dan ngurusin dia terus!"
"Gimana
caranya bisa sampai 'gemes' begitu."
"Bodo amat! Intinya aku tetap sex friend-nya
Tsubaki-kun! Kalau sampai Tsubaki-kun nggak ada, aku bakal mati kesepian
sendirian~!"
K-kenapa Arisa-san ini selalu kelihatan heavy
banget, sih!?
Hinata-san memang menanggapi ucapannya sebagai
candaan, tapi bagiku yang pernah mendengar suara lirih bernada putus asa
darinya tempo hari, aku sama sekali tidak bisa menganggapnya hanya sebagai
gurauan semata.
"Nih, Tsubaki... Jangan-jangan kamu nggak
mood ya?"
"……Eh?"
Karena aku sempat terdiam, rupanya hal itu
membuat Hinata-san dan Arisa-san merasa cemas.
Aku sama sekali tidak sanggup melihat ekspresi
cemas di wajah mereka bahkan untuk sedetik pun, jadi aku langsung buru-buru
menggelengkan kepala menyangkalnya.
"E-etto... nggak kok. Aku senang
banget bisa punya hubungan seperti ini dengan kalian berdua... Dan aku bakal
sedih banget kalau sampai kami nggak bisa berhubungan lagi... Meskipun
seandainya kami nggak melakukan hal-hal dewasa itu, aku tetap merasa senang kok
cuma dengan menghabiskan waktu bersama kalian berdua."
Namun... di saat yang sama, ada satu hal lain
yang sempat kupikirkan.
Yaitu tentang keraguan mewah yang sempat
melintas di benakku semalam.
"Anu... bolehkah aku minta waktu sebentar
buat cerita?"
"Boleh."
"Tentu saja."
Baik Hinata-san maupun Arisa-san mengangguk
lembut.
Jujur saja, waktu yang kuhabiskan bersama
mereka masih sangat singkat... Tidak peduli bagaimana cara aku berpikir, durasi
itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lamanya waktu berteman dengan
Kanata atau Rio.
Tapi, mungkin karena aura keibuan dan
kelembutan sebagai Nee-chan kelas yang terpancar dari mereka—serta perasaan
bahwa mereka akan menerima apa pun dariku karena aku adalah aku—membuatku
menaruh kepercayaan sebesar itu pada mereka berdua.
"Aku... senang banget bisa kenal sama
Hinata-san dan Arisa-san. Seperti yang kubilang tadi, cuma bisa menghabiskan
waktu bersama saja sudah membuatku bahagia... Tapi, aku merasa hubungan kita
bertiga ini tidak biasa."
"Iya."
"Betul juga ya."
Benar... hubungan kami memang tidak biasa.
Mungkin aku terlalu banyak berpikir, tapi
status sex friend adalah hubungan yang tidak bisa diumbar secara publik, dan
tentu saja bukan sesuatu yang bisa dibanggakan di depan orang lain.
Aku bahkan tidak bisa mengatakannya kepada
Kanata, Rio, atau bahkan kepada Ibu.
Meskipun Hinata-san dan Arisa-san bukanlah
orang jahat… meskipun aku tahu mereka adalah orang yang baik, hubungan ini
bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja diceritakan kepada orang lain.
"Biar tidak salah paham, aku tegaskan
kalau aku tetap ingin terus bersama Hinata-san dan Arisa-san ke depannya...
Tapi meskipun perasaanku itu nyata, aku sempat galau mikirin ke depannya bakal
gimana karena hubungan kita ini tidak lazim."
Hinata-san dan Arisa-san terus mendengarkan
ucapanku dengan penuh perhatian.
Mereka berdua sepertinya bukan tipe orang yang
akan pusing memikirkan hal semacam ini... tapi meskipun begitu, mereka tidak
memotong ucapanku dan terus menyimak.
Sambil merasa bersyukur atas hal itu dan
melanjutkan kata-kataku... aku mendadak tersadar.
Kegelisahan yang terlampau mewah ini sudah
kurasakan sejak semalam. Bukankah aku sebenarnya sudah mengucapkan jawabannya
sendiri saat sedang mengobrol seperti ini?
"Ah... anu, maaf—sebenarnya aku sudah
menemukan jawabannya. Aku ingin terus melanjutkan hubungan ini dengan
Hinata-san dan Arisa-san... Kesimpulan itu sudah kudapatkan, karena tidak ada
keraguan apa pun yang bisa menandingi kebahagiaan saat bisa menghabiskan waktu
bersama kalian."
Sensasi bahwa hubungan ini tidak lazim memang
tidak serta-merta hilang begitu saja, namun alasan mengapa aku tidak berniat
mengakhirinya adalah karena aku sudah terlanjur terpesona oleh hubungan ini.
"Mengatakan kalau 'semuanya jadi tidak
penting lagi' mungkin terlalu berlebihan, tapi sensasi itu... sensasi yang
berhasil merombak seluruh duniaku... aku sudah benar-benar menjadi tawanan
kalian berdua."
Begitu mengucapkannya, rasa malu yang luar
biasa langsung menyerangku hingga sekujur tubuhku terasa panas.
Kurasa mereka berdua juga menyadari wajahku
yang memerah padam... Alih-alih mengejek, mereka justru tersenyum lembut lalu
semakin merapatkan tubuh dan memelukku erat-erat.
"Duh, seberapa besar sih kata-kata manis
yang bisa kamu keluarkan buat bikin aku senang... Tapi aku paham kok perasaanku
sendiri. Aku sadar kalau hubungan kita ini nggak lazim, dan aku juga paham
kalau aku memaksakan hal ini ke kamu, tapi aku tetap nggak bisa
menghentikannya."
"Betul banget! Perasaan ini sudah nggak
bisa dibendung lagi, dan di mataku, Tsubaki-kun sudah terlanjur jadi adik
kesayangan, jadi pisah darinya itu mutlak mustahil! Makanya aku senang banget
dengar kamu ngomong begitu♪"
Ah... bukan cuma lewat kata-kata, kehangatan
lembut yang mengalir dari kedua sisiku berhasil melenyapkan segala keraguan
dalam sekejap.
Meskipun sempat terlintas di kepalaku sebelum
tidur semalam, begitu aku ngobrol langsung dengan mereka, segala keresahan itu
langsung lenyap entah ke mana... Itu benar-benar kekhawatiran yang tidak
penting.
"……ugh"
Namun, dalam situasi mesra seperti ini,
masalah lain justru muncul di tubuhku.
Aroma manis yang menguar dari jarak sedekat
ini, berpadu dengan kelembutan tubuh mereka yang menekan tubuhku dengan
intensitas yang kelewat batas, membuatku terangsang hebat hingga ke tingkat
yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Alasannya sederhana, karena Hinata-san dan
Arisa-san sedang menghimpitku secara bersamaan seperti ini.
"Ah...
ngomong-ngomong Arisa."
"Apa~?"
"Di sini beneran nggak bakal ada
orang yang datang, kan?"
"Iya sih... Ooh, aku mengerti
maksudmu!"
"Hinata-san? Arisa-san?"
Sebenarnya apa yang sedang mereka
bicarakan...?!
Saling bertatapan, lalu tersenyum penuh arti
sambil mengangguk bersamaan—Hinata-san dan Arisa-san.
Aura yang mereka pancarkan adalah suasana
erotis yang seharusnya tidak boleh ada di lingkungan sekolah... Suasana itu
sangat mirip dengan atmosfer sebelum kami melakukan hubungan intim, dan begitu
menyadari itu, dadaku bergemuruh penuh antisipasi.
"Karena kamu sudah repot-repot datang ke
sini, bakal kubuat kamu merasa lega."
"Ide bagus! Kalau tanpa honban (penetrasi
penuh), mungkin suaranya nggak bakal bocor jadi pas banget."
"Eh!?"
Jangan-jangan... jangan-jangan kami
benar-benar akan melakukannya di sini!?
Hinata-san melepas kancing teratas bajunya
lalu membungkuk ke depan, sementara Arisa-san mendekatkan wajahnya dan langsung
menempelkan bibirnya padaku.
Hanya dengan ciuman yang saling membelitkan
lidah saja sudah cukup membuatku merasa luar biasa nikmat, ditambah lagi,
bagian bawah tubuhku juga sedang diurus oleh Hinata-san dengan terampil…
Seriusan deh… situasi macam apa di mana aku sedang digoda habis-habisan oleh
dua orang senior gyaru ini di sekolah!?
"Arisa tadi bilang, kamu suka banget
kalau dilayani pakai dada, kan? Dipikir-pikir lagi, aku belum pernah bikin kamu
keenakan pakai dadaku, jadi biar kutunjukkan seberapa hebat teknik yang satu
ini."
Apa pun yang dilakukan Hinata-san padaku
selalu terasa membahagiakan… Dan aku sudah tahu betul kalau dia selalu bisa
membuatku merasa nikmat.
Sebenarnya aku sangat ingin mengatakan hal itu
padanya, namun karena bibirku sudah dibungkam oleh Arisa-san, niat itu terpaksa
tertelan bulat-bulat... Sebagai gantinya, untuk menunjukkan rasa terima kasih
sekaligus sebagai salah satu hal yang paling disukai Hinata-san saat bercinta,
aku mengulurkan tangan dan mengelus lembut kepalanya.
"Ah...♡"
Desahan manis lolos dari bibir Hinata-san, dan
selanjutnya aku menikmati servis tingkat dewa yang menggabungkan sentuhan dada
dan ciuman bibir secara bersamaan.
"Hei, fokus ke sini juga dong? Ayo ciuman
lagi yang banyak? Nih, nih♡"
Dagu ku ditarik ke atas agar aku kembali fokus
berciuman dengan Arisa-san.
Hanya dengan ciuman dalam saja, kepalaku sudah
melayang karena kenikmatan. Namun, ditambah lagi, gelombang kenikmatan dari
tubuh bagian bawah juga merambat naik secara bersamaan.
Menerima gelombang kenikmatan dari atas dan
bawah secara beruntun membuat sensasi itu bertemu tepat di tengah-tengah
tubuhku... Entah apa yang kubicarakan, tapi intinya sensasinya benar-benar
senikmat itu!
"Chu... reloroo..."
Permainan lidah Hinata-san... desahan
erotisnya sukses menggetarkan gendang telingaku, dan saat aku hampir tersedot
sepenuhnya ke dalam ritmenya, ciuman Arisa-san tiba-tiba menjadi jauh lebih
agresif.
"Amu... un... churu..."
Sebaliknya, saat perhatianku hampir ditarik
sepenuhnya oleh ciuman Arisa-san, gerakan Hinata-san mendadak meningkat hingga
membuatku nyaris mengeluarkan suara yang memalukan.
Seolah-olah mereka sedang bersaing satu sama
lain, begitu aku mulai terlena pada salah satu dari mereka, yang lain langsung
menegur dan menarik kembali perhatianku.
"Tsubaki-kun, wajahmu kelihatan mesum
banget, gemesin♡"
"Soalnya ini enak banget..."
"Ciuman dariku yang lebih enak,
kan?"
"Bukan gitu. Pundak dan dada Nee-chan
yang bikin enak, tahu."
Menjepitku di antara... ralat, yang
dijepit di tengah itu sebenarnya bagian bawah tubuhku.
Meskipun mereka saling beradu argumen dan
saling melotot di hadapanku, sama sekali tidak ada kesan benci dari tatapan
itu... Sebaliknya, di balik perdebatan kecil tersebut, aku bisa merasakan
betapa akurnya mereka berdua.
"Nih, Tsubaki."
"Ya?"
"Ciuman dari Arisa sama dadaku, enakan
yang mana?"
"……Eh?"
P-pertanyaan macam apa yang diajukan orang
ini!?
"Pertanyaan bagus tuh. Aku juga
penasaran, lho?"
Arisa-san ternyata juga mendukung
pertanyaannya...!?
Jawaban mana yang merupakan jawaban paling
benar di sini...?
Jawaban paling aman sepertinya adalah menjawab
"dua-duanya" secara adil... Tapi Hinata-san dan Arisa-san pastinya
tidak mencari jawaban yang abu-abu seperti itu dari seorang pengecut.
Tapi... Tapi ya!
Jawaban yang tidak tegas itu memang adalah isi
hatiku yang sebenarnya, dan menentukan mana yang lebih baik secara mutlak itu
sulit... Yah, kalau bicara soal mana yang langsung memicu kenikmatan sih memang
lebih condong ke Hinata-san, tapi... Gghhh!
"Ettto... anu..."
Keduanya menatapku lekat-lekat, menunggu
jawaban keluar.
Pada akhirnya... aku tidak bisa memberikan
jawaban pasti, dan sambil meminta maaf karena aku bahkan tidak bisa bercanda
memilih salah satu di antara mereka, aku terdiam.
Mendengar itu, Hinata-san dan Arisa-san kompak
terkekeh geli, lalu menenangkanku dengan kata-kata manis.
"Yah, memberikan pertanyaan sesulit itu
di situasi kayak gini memang agak kejam, ya."
"Iya juga sih, aku jadi agak merasa
bersenang-senang di atas penderitaannya."
Melihat reaksi mereka, aku sontak
mengembuskan napas lega.
Namun, detik berikutnya, gelombang
kenikmatan yang jauh lebih ganas dari sebelumnya langsung menghantamku tanpa
ampun!
"Sebagai permintaan maaf karena sudah
bikin Tsubaki bingung, bakal kuhukum kamu biar makin puas, ya… Kubikin kamu
merasakan nikmat yang sebanyak-banyaknya♡"
"Betul-betul♪ Nih, Tsubaki-kun, kita
mulai lagi ciumannya, ya? Ayo berciuman sepuasnya sama Nee-chan, sambil
dilelehkan di atas dada Hinata sampai kamu lemas tersiksa kenikmatan♡"
Hinata-san menatapku tajam bagaikan
predator yang baru menerkam mangsanya, sementara Arisa-san memasang ekspresi
menggoda dengan suara lembut yang sukses membuat bulu kudukku meremang.
Mulai saat itu, aku benar-benar merasakan
amukan kesungguhan dari kedua senior tersebut dengan seluruh ragaku.
***
"Aku mau ke toilet dulu sebelum balik ke
kelas. Sampai nanti ya, Tsubaki-kun♪"
"Iya… sampai jumpa…"
Ah, parah... Suaraku bahkan ikut meleleh
lemas.
Meskipun kami tidak sampai melakukan honban,
Arisa-san meninggalkan kelas dengan menebarkan aura feromon erotis yang pekat
di sekitarnya… Apakah dia bakal baik-baik saja di luar sana?
Setelah mengantar kepergian Arisa-san dengan
mata, Hinata-san masih tinggal menemaniku di sisi ruang kelas.
"……Wah, benar-benar waktu yang luar biasa
tadi."
"Enak banget, ya?"
"Iya... nggak nyangka bakal dilayani sama
kalian berdua sekaligus."
Bisa dibilang ini adalah situasi… yang
nyaris mendekati 3P, ya.
"Bisa berhubungan intim dengan wanita
secantik Hinata-san saja sudah merupakan keajaiban besar buatku, tapi aku
benar-benar tidak pernah membayangkan diriku bisa mengalami adegan klise ala
manga seperti ini."
"Begitu ya. Kalau Tsubaki senang, aku
juga ikut senang."
Dengan gerakan imut, Hinata-san
menyandarkan kepalanya di bahuku.
Berbeda dari suasana panas dan manis bak
madu beberapa saat lalu, momen ini terasa begitu tenang dan menenangkan…
Sepertinya Hinata-san bertekad untuk menghabiskan detik-detik terakhir sebelum
jam istirahat usai dengan posisi seperti ini.
"Makasih ya untuk kemarin."
"Sama-sama, omong-omong, apakah ada
masalah setelah kejadian itu?"
"Nggak, semuanya aman kok."
Kejadian kemarin... maksudnya soal Kaito-senpai.
Aku tahu persis kalau tidak ada hal yang perlu
dicemaskan, namun Hinata-san bersikap begitu santai seolah insiden kemarin
tidak pernah terjadi sama sekali.
"Kalau melihat situasinya kemarin,
sepertinya dia bakal mikir dua kali... meskipun aku nggak berani jamin dia
bakal kapok selamanya, sih. Mana mungkin dia berani mendekat lagi setelah disuguhi
ciuman seksi separah itu tepat di depan matanya?"
"Tadi aku sempat mikir… jangan-jangan itu
masuk kategori brain damage (menghancurkan mental seseorang) ya."
"Kayaknya mirip skenario 'cewek masa
kecil yang dicintai dan belum bisa dilupakan ternyata tahu-tahu sudah jadi
milik cowok lain saat ditemui lagi' gitu, ya?"
"Spesifik banget contohnya!"
Kalau dicari di aplikasi komik dengan judul
seperti itu, sepertinya manganya benar-benar ada.
Dari segi genre, itu mirip cerita berunsur NTR…
Entah kenapa, karena membayangkan hal itu, aku jadi spontan melontarkan
pertanyaan ini kepada Hinata-san.
"Kita berdua ini... kan statusnya sex friend ya."
"Iya."
"Hubungan yang tidak perlu dipusingkan
secara mendalam... Tapi Hinata-san, um... saat ini, apa kamu juga...
melakukannya dengan orang lain selain aku?"
Mendengar pertanyaanku, Hinata-san
mengerjap kaget.
…Sebenarnya, itu adalah hal yang selama
ini berusaha kuabaikan dan kutahan-tahan agar tidak kupikirkan.
Hinata-san yang selalu tersenyum manis di
depanku... Hinata-san yang membiarkanku menyentuh tubuhnya, karena status kami
hanyalah sex friend, aku jadi penasaran apakah di luar waktu bersamaku
dia juga melakukan hal yang sama dengan pria lain… Pikiran itu terus mengusik benakku.
"Hoo~? Kamu penasaran, ya?"
"……Iya."
"Tenang saja, sekarang cuma Tsubaki kok
orangnya. Dan bakal tetap begitu ke depannya."
Hinata-san tersenyum manis.
Rasa cemas yang sempat mencengkeram dadaku
langsung menguap seketika, namun di saat yang sama, aku bertanya-tanya apakah
aku punya hak untuk mencemaskan hal semacam itu.
Sudah kukatakan berulang kali, hubungan kami
hanyalah sex friend kasual tanpa beban ikatan yang rumit.
Oleh karena itu, aku sama sekali tidak punya
hak untuk membatasi gerak-geriknya, dan berharap agar dia hanya melihatku
seorang adalah sebuah keinginan yang terlampau lancang.
"……Maaf ya, aku malah nanya hal
aneh."
"Kamu peduli padanya, kan? Yah, buat
ukuran sex friend biasa, kedekatan kita memang sudah keterlaluan sih."
"Iya..."
"……Ah,
ampun deh, junior yang satu ini benar-benar bikin repot."
Hinata-san
bangkit berdiri tepat di depanku, lalu menarik kepalaku hingga terbenam di
dadanya.
"Aku
sadar kok... Jarak kita jauh lebih dekat dibanding sex friend pada umumnya, dan aku sendiri merasa sangat nyaman dengan
kedekatan itu. Kecocokan fisik kita luar biasa, dan dari segi kepribadian pun
kamu sangat menyenangkan... Itulah kenapa aku ingin terus bersama
Tsubaki."
"……Hinata-san."
"Ke
depannya nanti hubungan kita bakal bermuara jadi bentuk seperti apa, aku juga
belum tahu... Tapi meskipun begitu, aku tetap ingin terus berada di sisi
Tsubaki. Makanya, jangan khawatir—selama hubungan ini tidak mendadak berakhir
di tengah jalan, aku sama sekali nggak punya niat buat melakukan hal intim itu
dengan orang selain Tsubaki."
Betapa...
betapa baik dan hangatnya wanita ini.
Hal
itu sebenarnya sudah kutahu sejak lama, namun mendengarnya diucapkan secara
langsung membuatku sadar sekaligus memperkuat tekadku bahwa aku tidak boleh
biarkan hubungan ini berakhir dengan cara apa pun.
"Arisa sepertinya juga punya pemikiran
yang sama... Yah, soal itu sih sudah pasti nggak perlu diragukan lagi."
"……Arisa-san juga."
"Anak itu sekarang juga nggak pernah
melakukannya dengan orang lain selain Tsubaki. Itu artinya dia sudah
benar-benar dibuat bertekuk lutut dan lemas tak berdaya oleh segala perlakuan
intimmu, termasuk urusan ranjang."
"Bertekuk lutut... Sebaliknya, aku lho
yang dibuat lemas tak berdaya."
"Yah, anggap saja kita impas."
Begitu ya... Arisa-san juga merasakan hal yang
sama.
"Makanya, Tsubaki juga cukup jadi dirimu
yang sekarang saja. Aku dan Arisa menginginkan Tsubaki, dan Tsubaki juga
menginginkan kami berdua... Sambil menikmati hari-hari penuh kesenangan seperti
ini bersama-sama... Bukankah itu sudah lebih dari cukup?"
"……Ahaha, benar juga ya."
Iya betul... apa kata Hinata-san memang benar
adanya.
"Hal semacam itu tidak perlu dipikirkan
terlalu rumit, dan kalau memang itu yang kuinginkan sekaligus diinginkan oleh
Hinata-san dan Arisa-san, ya sudah, tidak apa-apa."
Namun…… Aku mengepalkan telapak tanganku
erat-erat.
"Aku…… akan berusaha――agar tidak sampai
dibenci oleh Hinata-san dan Arisa-san, dan agar kalian bisa merasa lebih
bersyukur lagi karena sudah mengenalku dibandingkan sebelumnya."
"……Sungguh, kamu ini junior yang manis
banget, ya♡"
"Biar Hinata-san terus mengatakan hal itu
padaku…… Biar aku terus dibilang manis, makanya aku akan berusaha."
"Nih, bagaimana kalau jam pelajaran sore
ini kita membolos saja――dan langsung itu sekarang juga?"
Rayuan itu dibisikkan dengan suara lembut yang
sukses mengguncang isi kepalaku.
Aku mengerahkan tekad sekuat baja untuk
menahannya…… Yah, sungguh, membolos jam pelajaran sebagai seorang pelajar itu
tetap saja tindakan yang tidak boleh dilakukan, ya.
Meskipun begitu…… setelah jam sekolah berakhir
pun, aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan betapa aku sebenarnya sangat
ingin melakukannya.
▼▽
"Aku pulang~"
Begitu tiba di rumah, Arisa bersenandung kecil
sambil melangkah menuju kamarnya.
Kedua orang tuanya masih belum pulang dari bekerja,
dan sosok sang adik yang sempat membuatnya begitu cemas beberapa waktu lalu pun
belum tampak batang hidungnya.
Agar tidak terjadi kesalahpahaman, bukan
berarti dia tidak peduli pada adiknya, melainkan rasa overprotektifnya yang
abnormal itu kini sudah sepenuhnya beralih kepada sosok lain bernama Tsubaki.
"Hah……"
Setibanya di kamar, Arisa meletakkan tasnya
lalu merebahkan diri di atas ranjang.
Tanpa mengganti seragamnya dan tanpa
memedulikan seprai kasurnya yang menjadi kusut, dia hanya menatap kosong ke
langit-langit kamar.
"……Tsubaki-kun, manis banget, ya."
Meskipun tadi mereka sempat membicarakan hal
serius, yang paling membekas di ingatannya tetaplah adegan intim tanpa
penetrasi penuh itu.
Sayang sekali bagian membersihkan cairan bawah
tadi diambil alih oleh Hinata, tapi ciuman tadi saja sudah lebih dari cukup
untuk membuatnya sangat puas. Sungguh, ini pertama kalinya dia merasa begitu
terpenuhi hanya dari berciuman saja.
"Kalau boleh jujur, hubungan satu lawan
satu itu memang yang paling juara... Tapi ya, bertiga bersama Hinata juga sama
sekali tidak buruk, atau bahkan..."
Sambil tersenyum puas karena berhasil
menemukan sudut pandang baru, Arisa bangkit dari tempat tidur dan mulai meraih
pakaiannya.
"Ganti baju dulu, deh."
Dia memegang bagian pinggang roknya,
melonggarkan ritsletingnya, hingga pakaian itu meluncur jatuh mengikuti gaya
gravitasi.
Selanjutnya, dia melepas kancing seragam
sekolahnya satu per satu, hingga akhirnya payudara berukuran H miliknya yang
berlimpah dan selama ini tersembunyi pun terekspos sepenuhnya.
Baik pakaian dalam atas maupun bawahnya sama
sekali bukan barang yang pantas dikenakan oleh anak SMA, karena berupa setelan
renda berwarna merah mencolok. Namun, berkat proporsi tubuhnya yang menyaingi
model majalah dewasa—sama persis seperti Hinata—pakaian itu tampak sangat cocok
melekat di tubuhnya.
"Badanku benar-benar jadi semakin bagus,
ya. Meskipun ukurannya sebesar ini sampai bikin bahu pegal dan repot sendiri, kalau
itu bikin Tsubaki-kun tergila-gila, ya syukurlah♪"
Sosok yang terpantul di cermin adalah seorang
gadis cantik yang bahkan jika dianggap terlalu percaya diri pun, orang-orang
pasti akan memaklumi.
Rambut pirangnya yang dirawat dengan telaten
hingga tak bercabang sedikit pun, perut rata tanpa lemak berlebih, serta dada
montok yang begitu dipuja-puja oleh Tsubaki—semuanya berpadu sempurna untuk
menonjolkan keelokan fisik Arisa.
"Perasaan suka itu benar-benar bisa
mengubah seseorang…… bisa menumbuhkan hati sekaligus raga, ya. Tapi akhir-akhir
ini, pakaian dalamku rasanya mulai agak sempit lagi…… Jangan-jangan ini juga
bentuk cinta ke Tsubaki-kun!?"
Arisa lantas membayangkan apa yang sedang
dilakukan oleh Tsubaki saat ini.
"Padahal awalnya aku cuma penasaran apa
sih yang sebenarnya dilakukan Hinata sama dia…"
Awal mula semua ini hanyalah sekadar rasa
ingin tahu belaka.
Dia hanya mengira akan sangat seru saat
memergoki Hinata—yang sudah dianggapnya sebagai sahabat karib—tengah
menghabiskan waktu bersama Tsubaki. Namun, siapa sangka, kini dia justru begitu
menyayangi Tsubaki hingga mengukuhkan dirinya sendiri sebagai "Nee-chan"
bagi pemuda itu.
"……ah…… Ampun deh, aku ini kenapa sih."
Tanpa sadar, Arisa sudah mendaratkan telapak
tangannya di atas dadanya sendiri.
Bahkan dia sendiri tahu kalau tingkat
kekenyalan dan sensitivitas bagian itu sedang berada di puncaknya. Terbukti, hanya
dengan membayangkan Tsubaki saja, sensasi manis langsung merambati seluruh
tubuhnya.
Tenggelam lebih dalam ke dalam lautan
kenikmatan itu sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi adik laki-lakinya
sepertinya sebentar lagi akan pulang, jadi dia mengurungkan niatnya.
"Kira-kira kapan ya aku bisa main ke
rumah Tsubaki lagi…… Datang ke rumahku sebenarnya juga boleh-boleh saja sih,
tapi kita harus cari waktu pas rumah lagi sepi."
Menepis pikiran itu sejenak, Arisa
menyelesaikan berganti pakaian lalu kembali merebahkan diri di ranjang.
Dia memeluk erat guling berbentuk lumba-lumba
yang selalu menemaninya di sisi ranjang—berimajinasi seolah-olah itu adalah
Tsubaki—serta menggesek-gesekkan seluruh tubuhnya pada benda tersebut.
"……Ahn♡"
Tanpa sadar, Arisa mulai merangsang bagian
bawah tubuhnya menggunakan guling tersebut.
Dia sama sekali tidak sengaja melakukannya,
dan hal itu justru membuatnya ngeri sendiri karena merasa dirinya mungkin sudah
mencapai tingkat parah.
"Aku…… nggak separah itu, kan? Cuma
mikirin Tsubaki-kun saja, tubuhku langsung bergerak sendiri buat mencari
kenikmatan..."
Tentu saja hal itu terjadi karena rasa
cintanya pada Tsubaki sudah meluap-luap sampai di luar batas, namun jika
kondisinya seperti ini terus, dia jadi agak cemas apakah dirinya tidak akan
berbuat senekat itu di tempat umum.
"……Ah, tapi nggak mungkin separah itu
juga kali. Aku memang sadar kalau aku ini agak mesum khusus buat Tsubaki-kun
saja, tapi otakku juga nggak sampai sepenuhnya dikuasai nafsu kok…… Pasti aman,
kan!?"
Untuk saat ini, dia memutuskan untuk mengusir
jauh-jauh segala lamunan berbau mesum tersebut.
Begitu dia memejamkan mata seolah hendak
bermeditasi, suasana hatinya perlahan mulai tenang, meski isi kepalanya tetap
saja dipenuhi oleh bayangan Tsubaki.
"……Eh, kalau begini kan sama saja
bohong!"
Melontarkan lelucon untuk menertawakan dirinya
sendiri, Arisa akhirnya berhenti berpikir.
"Anak yang baik itu…… emang paling
berharga, ya."
Baik saat Tsubaki mengucapkan kata-kata lembut
maupun ketika pemuda itu menunjukkan perbuatannya secara langsung, semuanya
selalu berhasil membuatnya bahagia.
Namun, momen yang paling membekas kuat di
ingatan Arisa adalah saat Tsubaki menceritakan tentang ibunya.
Bayangan saat pemuda itu memperlihatkan sisi
tersebut, disusul dengan adegan digendong ala princess carry setelahnya, masih
terpatri sangat jelas di kepalanya.
Dia sudah telanjur jatuh cinta…… benar-benar
jatuh cinta sedalam-dalamnya tanpa bisa ditarik mundur.
"Aduh~ ampun deh…… Suhu tubuhku malah
makin panas nggak karuan. Makan es krim dulu deh."
Dengan gerakan lincah, Arisa bangkit dan
melangkah menuju ruang keluarga.
Di tengah jalan, kebetulan dia berpapasan
dengan Takuya—sang adik yang sedang berada di puncak masa
pemberontakannya—namun Arisa hanya menyapanya dengan satu kalimat singkat.
"Selamat datang."
Hanya itu saja.
Biasanya dia selalu memanfaatkan momen untuk
mengobrol panjang lebar, tapi belakangan sikapnya benar-benar berubah drastis
seperti ini.
"……Nee-chan?"
Meskipun Takuya sempat memanggilnya dengan
sebutan yang sudah lama tidak didengarnya, hati Arisa sama sekali tidak terusik
sedikit pun.
▼▽
Di saat Arisa sedang hanyut memikirkan
Tsubaki, di tempat lain juga ada sosok yang tengah melamunkan pemuda yang sama.
"…………"
Hinata.
Di luar situasi saat dia berdua dengan
Tsubaki, gadis berwajah dingin itu kini sedang berjalan-jalan tanpa tujuan yang
jelas di tengah kota.
(……Rasa Tsubaki tadi bener-bener enak
banget.)
Di balik ekspresi datarnya, isi kepala
Hinata hanya dipenuhi oleh bayangan Tsubaki seorang diri.
Percakapan di jam istirahat tadi masih
sangat segar di ingatannya, ditambah lagi aksi mereka menggunakan mulut dan
dada untuk memuaskan Tsubaki seusai membicarakan hal penting.
Ekspresi Tsubaki yang tampak malu-malu
saat mendongak, hingga raut wajahnya yang begitu menikmati sentuhannya—semua
itu terasa begitu menggemaskan hingga membuat Hinata gemas sendiri.
"Beli permen dulu, deh."
Dia mengambil permen bertangkai dari dalam
saku mantelnya, dengan hati-hati merobek bungkusnya, lalu memasukkannya ke
dalam mulut.
Rasa soda langsung menyebar di rongga
mulutnya…… Namun, Hinata tersenyum kecut dalam hati, berpikir bahwa rasa manis
ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa cairan Tsubaki
yang jauh lebih pekat dan sanggup memenuhi hatinya.
"Permennya enak, sih."
Hinata memang sangat menyukai segala jenis
permen atau permen karet.
Itulah sebabnya, ketika sedang berjalan
sendirian, orang-orang di sekitar—termasuk Arisa atau teman sekelasnya—sudah
tidak asing lagi melihatnya berjalan sambil mengemut permen seperti ini.
"……Hmm."
Hinata menatap lekat-lekat permen yang ada
di dalam mulutnya.
Permen bulat yang sudah dibasahi air
liurnya itu ukurannya lumayan besar, dan jika dibiarkan sampai benar-benar
larut, sepertinya butuh waktu yang cukup lama.
Kira-kira, apa alasan Hinata sampai
menghentikan langkahnya hanya untuk menatap permen tersebut?
"……Jangan-jangan, aku malah ngebayangin
rasanya lagi nyemut kepunyaan Tsubaki, ya."
Isi kepala Hinata kini sudah berubah
sepenuhnya menjadi warna merah muda.
Begitu pikiran itu terbersit di benaknya,
mengendalikannya menjadi hal yang mustahil, sehingga Hinata kembali menghisap
permen itu dengan cara yang terlampau menggoda.
"Rero……
julu……"
Semakin
dia menghisap permen itu, sensasi rasa soda yang meleleh di lidahnya semakin
bergeser dan terkonversi menjadi bayangan kepunyaan Tsubaki, membuat mata
Hinata dihiasi oleh simbol hati yang nyata.
Para
pejalan kaki yang berpapasan dengannya sempat menoleh karena penasaran, namun
begitu melihat atmosfer erotis yang dipancarkannya, mereka kontan merona malu
dan buru-buru mengalihkan pandangan.
"……Ah."
Namun,
Hinata belum sepenuhnya kehilangan akal sehat.
Sadar
dengan situasi di tempat umum, dia buru-buru menghentikan lamunannya dan
kembali melangkahkan kaki.
"Fun
fun fun~♪"
Didorong
oleh suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga berkat pertemuannya dengan
Tsubaki, senandung kecil terus meluncur dari bibirnya meski ia tetap
mempertahankan ekspresi dingin yang menolak kehadiran orang lain di sekitarnya.
Di
tengah suasana hati yang sedang sempurna itu, Hinata tak sengaja menyaksikan
sesuatu.
"Ah……♡"
Simbol
hati yang hampir memudar di matanya kembali berpendar terang, tatkala punggung
sosok yang paling ingin dipeluknya saat ini tertangkap oleh penglihatannya.
Sosok
yang dilihat Hinata tidak lain adalah punggung Tsubaki.
"Tsubaki……?"
Namun,
gerak-gerik Tsubaki tampak sangat mencurigakan.
Pemuda
itu terlihat seolah sedang bersembunyi dari sesuatu…… ralat, dia tampak sedang memasang telinga dan menguping percakapan
orang lain.
"……Dia lagi ngapain, ya?"
Menguping bukanlah sebuah tindakan yang
terpuji.
Namun, melihat Tsubaki sampai bertingkah
senekat itu, Hinata menduga pasti ada alasan kuat di baliknya.
Dan dugaan itu ternyata terbukti benar.
"Itu kan……"
Begitu Hinata perlahan mendekat dari arah
belakang Tsubaki, pemandangan sebenarnya pun mulai terlihat jelas.
Tepat di bangku taman yang berada dalam
jangkauan pandangan Tsubaki, duduk sepasang pria dan wanita dengan posisi
membelakangi Tsubaki.
"Begitu rupanya."
Meskipun wajah mereka tidak terlihat,
hanya dari postur punggungnya saja, Hinata langsung mengenali siapa mereka
berdua.
Mereka adalah Kaito—sang mantan pacar
sekaligus teman masa kecil Hinata—serta wanita yang selama ini terus-menerus
menjelek-jelekkan Hinata di hadapan Kaito, yaitu Murayama Kaho, teman sekelas
mereka saat SMP.
"Hmm…… Jadi begitu. Anak itu sekarang
sudah punya pacar baru lagi, ya."
"Iya…… Padahal aku baru benar-benar sadar
setelah berpisah dengannya."
"Kasihan banget, ya. Padahal kalian sudah
bersama sejak kecil."
Kaho menempelkan tubuhnya ke sisi Kaito seolah
hendak menghiburnya.
Meskipun pemandangan itu sepintas tampak
seperti wujud kepedulian yang manis, di mata Hinata, adegan tersebut sama
sekali tidak lebih dari tontonan yang memuakkan.
Hinata sudah berdiri tepat di belakang
Tsubaki, namun pemuda itu begitu fokus mendengarkan sampai-sampai tidak
menyadari kehadiran Hinata di sisinya.
(……Biar aku ikutan dengar juga, deh……
Kira-kira omongan sampah apa lagi yang bakal dikeluarkan sama orang-orang ini.)
Menahan napas, Hinata ikut memasang telinga.
Tsubaki tentu saja tidak menyadari
kehadirannya, begitu pula dengan Kaito dan Kaho, sehingga percakapan itu terus
berlanjut.
"Kan sudah kubilang dari dulu? Cewek itu
memang doyan banget main sama cowok di belakangmu. Waktu masih pacaran sama kamu pun dia tetap pasang muka tanpa dosa, kan?
Dia sebenarnya cuma merendahkan kamu selama ini."
"Gh…… Aku――"
"Kamu lihat sendiri kan, cowok yang jalan
sama dia kemarin? Entah sudah cowok ke berapa itu. Tapi tenang saja…… mulai
sekarang kamu cukup menghabiskan waktu sama aku saja."
"Eh?"
Menghadapi Kaito yang tampak terkejut, wanita
itu terus melancarkan serangannya tanpa jeda.
"Lupakan saja cewek gampangan kayak gitu.
Setelah sekian lama berlalu, sifat, hobi, dan selera kalian pasti sudah jauh
berbeda dan nggak sejalan lagi, kan? Daripada cewek tidak berharga seperti itu,
mendingan kamu sama aku saja, kan?"
"A, aku……"
"Sudah, nggak usah dipikirin lagi, kan?
Cewek sampah yang gampang ditebak kayak gitu sama sekali nggak ada gunanya buat
kamu pusingin."
Tidak berharga, cewek sampah…… Sungguh
kata-kata yang amat sangat kasar.
Meskipun Hinata sudah tidak peduli lagi pada
Kaito maupun Kaho, bukan berarti dia bisa tinggal diam begitu saja saat
mendengar dirinya dihina sembarangan oleh orang lain.
Namun, kali ini dia memilih untuk menahan
diri.
Alasannya sederhana—karena Tsubaki sedang
mengepalkan tangannya erat-erat, tampak bersiap meledakkan amarahnya dan
berniat maju menghadapi mereka berdua saat itu juga.
(……Anak ini benar-benar berhati malaikat.)
Sambil tersenyum simpul, Hinata perlahan
meraih dan menggenggam tangan Tsubaki dari belakang.
"Eh!?"
"Ssst,
jangan bersuara, ya."
"……Hinata-san?"
Tsubaki
sempat tersentak kaget, namun begitu menyadari itu adalah Hinata, dia langsung
menghela napas lega.
Merasa
bersalah karena sempat mengejutkannya, Hinata lantas memeluk tubuh Tsubaki
dengan lembut untuk menenangkan emosi pemuda itu.
"Tsubaki
nggak perlu ikut-ikutan marah gara-gara hal sepele kayak gini. Omongan sampah
dari orang-orang nggak penting itu sudah nggak ada artinya lagi buat aku
sekarang."
"……Tapi."
"Beneran
kok, nggak apa-apa—selama kamu sendiri paham siapa aku sebenarnya, itu saja
sudah lebih dari cukup buat aku."
Hinata
melirik sekilas ke arah Kaito dan Kaho yang masih duduk di bangku taman, lalu
menarik tangan Tsubaki untuk berbalik pergi tanpa berniat melihat mereka lebih
lama lagi.
Mereka
berjalan dengan langkah santai menuju sebuah taman bermain terdekat.
Di
tengah area yang masih diwarnai suara riang anak-anak bermain, keduanya duduk
berdampingan di ayunan.
Hinata
mencuri pandang ke arah Tsubaki, dan sepertinya amarah pemuda itu masih belum
sepenuhnya reda.
"Nih,
Tsubaki? Beneran nggak usah dipikirin lagi, ya?"
"……Tapi aku tetap sebal, Hianta-san. Mana bisa aku terima mereka ngomongin Hinata-san sembarangan begitu."
Dan sekali lagi, Tsubaki mengepalkan tinjunya
dengan kuat.
Melihat reaksi itu, Hinata sempat tersenyum
kecil, namun senyuman tersebut perlahan berubah menjadi ekspresi yang sedikit
intens…… seolah menikmati betapa besar kepedulian dan kemarahan Tsubaki yang
dicurahkan demi dirinya.
Senyuman itu sarat akan rasa ingin mendominasi
dan menguasai Tsubaki seutuhnya.
Dia tahu betul kalau Tsubaki menganggapnya
sebagai senior yang cantik, jadi Hinata buru-buru meredam senyuman anehnya agar
tidak ketahuan.
Namun, di dalam hatinya, dia tiba-tiba
terdorong untuk menikmati kemarahan Tsubaki lebih lama lagi.
"Cewek
gampangan, nggak berharga, sampah ya…… Wah, mereka benar-benar ngomong
seenaknya, ya."
Ucapan
Kaito dan Kaho sama sekali tidak meninggalkan bekas di hatinya.
Namun,
dengan sengaja mengulang kata-kata itu secara langsung di hadapan Tsubaki, dia
tahu pemuda itu akan semakin merasa tidak terima.
Dan
terbukti, Tsubaki langsung menaikkan nada suaranya persis seperti yang
diharapkan Hinata.
"Hinata-san
bukan tipe orang yang pantas dibilang begitu!"
"……♡"
Tsubaki
benar-benar tulus.
Pemuda
itu benar-benar merasa sakit hati dan meluapkan amarah yang tulus demi membela
reputasi Hinata, sementara Hinata sendiri justru membiarkan simbol hati
terpancar di matanya, melonggarkan bibirnya karena diliputi rasa bahagia……
Meskipun begitu, rasa sayangnya pada Tsubaki membuatnya tidak ingin pemuda itu
sampai merusak suasana hatinya sendiri karena masalah ini.
"Tsubaki."
"Gh……"
"Bagi
aku sekarang, tahu kalau kamu berpikiran seperti itu saja sudah lebih dari
cukup. Suara-suara dari luar sana itu benar-benar tidak penting."
Hinata
mengulurkan tangannya ke arah Tsubaki, menempelkan jari telunjuknya ke bibir
pemuda itu sambil tersenyum lembut.
"……Baiklah."
Meskipun
terlihat masih ada uneg-uneg yang ingin disampaikannya, Tsubaki akhirnya
menuruti permintaannya dan meredam amarahnya.
Merasa puas dengan kepatuhan itu, Hinata mulai
mengayunkan ayunannya.
Tanpa memedulikan roknya yang tersingkap
akibat terpaan angin dan gaya sentrifugal, dia terus memompa ayunan itu semakin
tinggi dan kencang.
"Hinata-san!? Roknya!"
"Tenang saja, aku tahu kok."
"Mana bisa tenang dalam situasi
begini!?"
"Biarin, kan yang lagi lihat cuma
Tsubaki seorang."
Di taman itu memang ada anak-anak dan
sepasang lansia yang sedang berjalan-jalan, namun karena satu-satunya orang
yang memandangnya dengan tatapan penuh adalah Tsubaki, maka tidak ada satu pun
hal yang perlu dikhawatirkan.
Hinata semakin melebarkan ayunan kakinya,
menambah kecepatan laju ayunan tersebut.
Dan pada puncaknya, tentu saja dia melakukan
lompatan spektakuler dari atas ayunan yang melaju tinggi.
"Hop!"
Kombinasi antara momentum dan ketinggian
menghasilkan jarak lompatan yang cukup jauh.
Dia berhasil mendarat dengan sempurna
menggunakan kedua kakinya, namun tentu saja roknya sempat terangkat
tinggi-tinggi, memamerkan pakaian dalamnya secara terang-terangan.
"Nah, yuk kita pulang."
Hinata mengulurkan tangannya kepada Tsubaki
yang masih merona merah, kemungkinan besar masih syok karena baru saja melihat
bagian dalamnya.
Begitu tangan mereka bertaut, posisi itu
secara otomatis berubah menjadi gandengan lengan yang erat, di mana Hinata
menempelkan tubuh montoknya dengan kuat ke sisi tubuh Tsubaki sambil mulai
berbicara.
"Sebenarnya aku nggak berniat ngomong hal
yang mirip kayak Arisa sih, tapi……"
"Eh?"
"Aku ini…… kayaknya sudah kecanduan
banget sama Tsubaki? Hampir tiap hari sebelum tidur, aku selalu ngebayangin
Tsubaki sambil 'melakukannya' sendiri, tapi tetap saja rasanya kurang
puas."
"Hah!?"
"Fufu, kaget, ya?"
"Ya, jelas kagetlah dengarnya!"
Ngomong-ngomong, ini sama sekali bukan
kebohongan melainkan fakta yang sesungguhnya.
Tepat di dekat telinga Tsubaki yang tampak
sangat penasaran dan salah tingkah itu, Hinata berbisik dengan penuh
penghayatan.
"Aku memang ngebayangin kepunyaan
Tsubaki, tapi pada akhirnya itu kan cuma mainan, ya? Memang enak sih, tapi
selalu ada perasaan 'kurang dikit lagi' di ujungnya. Mau keluar…… eh, mau
klimaks♡…… Ah, tapi rasanya tetap beda banget kalau dibandingin waktu aku
melakukannya langsung sama Tsubaki—begitu rasanya."
"Begitu, ya……"
"Kalau Tsubaki sendiri, pernah nggak
ngebayangin aku waktu sedang melakukannya sendiri?"
"…………"
Melihat rona merah di wajah Tsubaki yang
semakin menjadi-jadi, Hinata mengangguk puas.
Menghabiskan waktu bersama Tsubaki selalu
terasa begitu menyenangkan, sampai-sampai senyuman pun selalu terukir secara
alami hanya dengan mengobrol dengannya.
Di saat Hinata sedang menikmati suasana hati
yang begitu berbunga-bunga itu, Tsubaki justru melontarkan satu kalimat
pamungkas yang sukses menjadi pukulan telak.
"……Senyumannya Hinata-san itu benar-benar
manis banget."
"Ah……♡"
Otak Hinata terasa bergoncang hebat, dan dia
bisa merasakan gelombang kebahagiaan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Sebagai bukti nyata, genggaman tangannya di
lengan Tsubaki semakin menguat, dan bayangan saat bercinta dengan pemuda itu
sukses membuat pakaian dalamnya kembali basah oleh cairan pelumas yang meluap.
Namun sayangnya.
Hari ini mereka harus segera berpisah…… Dan
kenyataan itu terasa amat sangat disayangkan.
"Tsubaki ini benar-benar cowok yang
berbahaya, ya."
"Eh?"
"Bisa-bisanya bikin aku…… eh, bukan cuma
aku, bahkan sampai Arisa tergila-gila separah ini."
"……Aku senang kalau Nee-chan sekalian
bisa tergila-gila padaku. Aku sendiri juga sudah kecanduan sama Hinata-san dan Arisa-san,
kok."
Sifat jujur yang dimiliki pemuda inilah yang
menjadi salah satu alasan terbesar mengapa Hinata begitu jatuh hati.
Ketiadaan kepalsuan dalam setiap sikapnya
berhasil mendulang poin plus di mata Hinata—terutama karena Tsubaki sama sekali
tidak berusaha menutupi hasrat mesum seusia remaja, yang justru semakin
menambah nilai plus bagi Hinata yang memang berhati longgar jika menyangkut
pemuda itu.
"Anu…… Hinata-san?"
"Ada apa?"
"Kok aku ditarik dengan tenaga yang
kuat banget begini, ya?"
"……Ah."
Tampaknya, saking senangnya, tanpa sadar
Hinata hampir menyeret Tsubaki langsung ke love hotel.
(Semenjak kenal sama Tsubaki, aku jadi
berubah sebanyak ini, ya…… Ini perubahan yang bagus sih, tapi seandainya……
Seandainya suatu hari nanti aku sampai nggak bisa ketemu lagi sama Tsubaki,
bakal jadi apa aku nanti?)
Bahkan membayangkannya saja dia tidak
sanggup.
Ini adalah pertama kalinya dia merasakan
rindu dan ketertarikan sebesar ini kepada seseorang…… Meskipun hubungan mereka
dibungkus dalam status abu-abu sebagai sefre (teman tapi tidur), sudah sangat
jelas dan tidak terbantahkan lagi bahwa dia menyimpan perasaan suka yang
teramat besar kepada Tsubaki.
(Kecocokan fisik yang luar biasa…… Ah,
sungguh hal yang mengerikan.)
Tingkat kecocokan—baik secara mental
maupun fisik—yang mampu merombak dan menimpa seluruh kenangan masa lalunya.
Merasa bersyukur karena orang yang menjadi
pasangan takdirnya adalah Tsubaki, Hinata terus melangkah dengan perasaan yang
dipenuhi kehangatan.


Post a Comment