Chapter 6
Senpai yang Menggoda di Mana-mana
Beberapa hari telah
berlalu sejak perbincangan penting mengenai masa depan kami bersama Hinata-san
dan Arisa-san.
Sekarang,
kupikir sudah saatnya aku menegaskan kembali hal ini. Sungguh, ada banyak
sekali hal yang terjadi sampai sekarang……
"Rasa
sebal yang kurasakan waktu dengar obrolan Kaito-san dan wanita itu juga sudah……
yah, masih sedikit tersisa sih."
Kemarahan
yang sempat membuncah saat itu memang sudah diredam berkat Hinata-san, tapi
tetap saja, kata-kata sekejam itu sungguh keterlaluan dan membuatku
mempertanyakan kewarasan mereka sebagai manusia.
Yah,
Arisa-san juga merasakan hal yang sama denganku, tapi sungguh luar biasa
bagaimana mereka berdua bisa menertawakan dan mengabaikan hal itu begitu saja.
"……Eh,
apa tuh?"
Sambil
memikirkan mereka berdua, aku tahu-tahu sudah sampai di gerbang sekolah.
Saat
hendak melangkah masuk ke area pintu masuk seperti biasa, aku mendapati
pemandangan yang sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"……Ah,
benar juga. Hari ini ada gerakan sapa pagi!"
Sekelompok
orang yang berbaris rapi di depan pintu masuk khusus siswa ternyata adalah para
pengurus OSIS, dan aku baru teringat kalau hari ini adalah jadwal kegiatan sapa
pagi yang diadakan sebulan sekali.
OSIS adalah
panutan bagi para siswa, jadi wajar saja kalau mereka aktif melaksanakan
kegiatan seperti ini.
"Selamat
pagi~!"
"Selamat
pagi!"
Suara sapaan
yang penuh semangat menggema di udara.
Tentu saja,
suara yang paling besar berasal dari para anggota OSIS itu sendiri, namun
hampir seluruh siswa membalas sapaan tersebut dengan ramah.
Meskipun ada
beberapa siswa yang tampak acuh tak acuh atau berekspresi malas, mereka
tergolong sebagai minoritas.
"Selamat
pagi."
Tentu saja
aku juga termasuk pihak yang menyapa duluan.
Biasanya aku
selalu disapa lebih dulu oleh mereka, tapi hari ini aku sengaja mengambil
inisiatif untuk menyapa duluan sebagai bentuk rasa penasaran sedikit.
Mendengar
itu, salah seorang pengurus OSIS tersenyum tipis, menatapku.
"Selamat
pagi. Salam yang bagus."
Orang yang
mengatakannya adalah sosok yang paling mencolok di antara jajaran pengurus
OSIS.
Hal itu
wajar saja. Dialah sang ketua OSIS, pemimpin tertinggi di sekolah ini—namanya
adalah Shinomiya Utsuho-senpai.
Beliau adalah tipe senior cantik yang berbeda dari
Hinata-san maupun Arisa-san.
Rambut peraknya yang bergelombang indah, garis wajah
sempurna yang memancarkan sedikit kesan dingin, serta aura elegan yang
melingkupi dirinya…… Aku pernah dengar kalau keluarganya adalah orang kaya raya
alias golongan kaum borjuis.
Dan yang paling menakjubkan, proporsi tubuhnya sama
sekali tidak kalah hebat dari Hinata-san dan Arisa-san.
"……Tunggu, bahaya bahaya."
Tanpa sadar aku menghentikan langkah dan menatapnya
lekat-lekat.
Karena tidak ingin disangka aneh-aneh, aku langsung
kembali melangkah, namun entah kenapa Utsuho-senpai justru memanggilku.
"Tunggu
sebentar."
"Eh?
Aku, Senpai?"
"Iya,
kamu."
Utsuho-senpai
mengangguk, berjalan mendekat, lalu menyentuh pundakku.
Jantungku
sempat berdegup kencang sesaat, sebelum kusadari bahwa gerakannya itu
semata-mata untuk menyingkirkan sehelai debu yang menempel di pundakku.
"Ada
debu yang menempel tadi."
"Ah……
terima kasih banyak, senpai."
"Sama-sama.
Kalau begitu aku duluan ya――omong-omong, Mikasa-kun."
"?"
Eh……
Utsuho-senpai tahu namaku?
Tidak aneh
memang kalau aku tahu namanya karena dia adalah ketua OSIS, tapi bagi
Utsuho-senpai, aku hanyalah satu dari sekian banyak siswa di sekolah ini.
Meskipun
begitu, dia bahkan tahu namaku…… Kalau dia juga mengingat nama siswa-siswa
lainnya, daya ingatnya benar-benar luar biasa……
"……Ngomong-ngomong,
Utsuho-senpai populer banget, ya."
Para siswa
yang disapa oleh Utsuho-senpai tampak begitu gembira.
Meskipun
terlihat dingin karena kecantikannya, kepribadiannya sangat baik seperti yang
terlihat dari kejadian barusan, dan dia juga sangat dipercaya oleh para guru.
Wajar saja
kalau disapa oleh orang sehebat itu membuat para siswa merasa senang.
Saat aku
sedang memperhatikan Utsuho-senpai, tiba-tiba sebuah benda berdaya kenyal luar
biasa menghantam punggungku dengan empuk.
"Selamat
pagi, Tsubaki-kun♪"
"Ah……
s, selamat pagi, Arisa-san."
Sambil
terkikik geli, Arisa-san mempererat pelukannya, padahal saat ini kami sedang
berada di pintu masuk sekolah yang dipenuhi banyak orang……!
Sentuhan
dada di punggungku langsung membuatku tahu siapa pelakunya tanpa perlu menoleh!
Aku memang
sangat menyukai payudaranya dan menikmati perlakuan seperti ini, tapi—!
"Um,
Arisa-san…… Aku senang sih, tapi boleh tolong lepaskan dulu?"
"Eh~,
mau gimana lagi."
Arisa-san
sepertinya juga memperhitungkan tatapan orang-orang di sekitar, sehingga dia
langsung melepaskan pelukannya dengan mudah, lalu berjalan berdampingan
denganku sampai ke area yang lebih sepi.
Kalau
dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya kami berjalan beriringan secara
terang-terangan di sekolah, dan meskipun banyak siswa kelas tiga yang menatap
kami dengan pandangan tajam, Arisa-san langsung membalas tatapan mereka hingga
mereka mengalihkan pandangan.
"Di
kelas juga sebenarnya kita nggak banyak ngobrol sih, tapi risih juga ditatapin
terus."
"Ahaha……
Terima kasih ya, senpai."
"Sama-sama♪
Tapi ngobrol bareng Tsubaki-kun sejak pagi begini bikin aku senang
banget♪"
"Aku
juga merasakan hal yang sama――"
Seketika itu
juga, wajahku kembali terbenam ke dalam benda empuk.
"Huhu~♪
Tsubaki-kun jujur banget, gemesin deh♪"
Hal yang membungkus wajahku adalah dada besar
Arisa-san.
Seperti biasa, dia mengenakan seragam dengan kancing
atas yang sedikit terbuka untuk memamerkan belahan dadanya, sehingga sentuhan
kulitnya terasa langsung di wajahku, sementara aroma manisnya memenuhi rongga
hidungku…… Aku tahu pikiran ini
tergolong mesum, tapi aku memang sangat menyukai aroma ini.
"……A,
ah…… gimana nih, Tsubaki-kun."
"Eh?"
"Aku
ngerasa ada hawa pembunuh dari arah belakang."
"Hawa
pembunuh……?"
Hawa
pembunuh macam apa itu tadi……!?
Suara
Arisa-san yang sedikit bergetar jelas bukan sekadar candaan, dia benar-benar
merasakan kehadiran sesuatu yang menyeramkan itu…… Eh?
"Um……
Arisa-san?"
"A, ada
apa?"
"Aku
nggak tahu itu hawa pembunuh atau bukan, tapi…… apa suhu udara di sekitar sini
turun drastis sampai berasa kayak musim dingin? Ahaha, cuma perasaanku saja,
ya?"
"Jangan-jangan
itu memang benar-benar hawa pembunuh……!?"
"B,
begitu ya?!"
Jadi ini
rupanya yang dinamakan hawa pembunuh……!
……Yah,
mengesampingkan candaan itu, aku sebenarnya ingin mencari tahu sumber hawa
dingin ini, tapi Arisa-san terlanjur ketakutan setengah mati dan mencengkeramku
erat-erat tanpa mau melepaskannya.
Hingga
akhirnya, identitas dari pemilik "hawa pembunuh" tersebut terungkap.
"Lagi
pada ngapain di tempat ramai begini?"
"H,
Hinata……?"
Ternyata
sosok itu adalah Hinata-san.
Berkat
Arisa-san yang akhirnya melepaskan pelukannya, aku bisa melihat wujud
Hinata-san dengan jelas.
Hinata-san
yang menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi benar-benar terlihat menakutkan.
Namun,
dia langsung menghela napas pendek dan berjalan mendekat, berdiri di hadapanku.
"Selamat
pagi, Tsubaki."
"S,
selamat pagi juga, Hinata-san."
"Hm."
Begitu
sapaan itu terucap, atmosfer dingin di sekitarnya langsung menguap entah ke
mana.
Hinata-san
tersenyum tipis, lalu tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya—merenggutku dari
sisi Arisa-san…… Tentu saja wajahku kembali terbenam di dalam dada Hinata-san.
"Aku
harus menyingkirkan sisa-sisa aroma Arisa dari dirimu."
"T,
tunggu, curang banget sih!?"
"Bukannya
kamu sendiri yang duluan mencuri kesempatan."
"Hah!?
Padahal kita tadinya mau bareng, tapi karena aku kesiangan, makanya aku suruh
kamu jalan duluan, tahu!"
"……Tehe."
"Jangan
'tehe'!"
Begitu
rupanya…… Rupanya ada cerita di balik itu semua.
Setelah aroma
tubuh Hinata-san benar-benar menutupi segalanya, kami masuk ke gedung sekolah
seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Dan
tepat sebelum kami berpisah di koridor…… Arisa-san membisikkan sesuatu di telingaku.
"Omong-omong,
Tsubaki-kun."
"Ya?"
"Kamu
penasaran nggak lihat kami berdua basah kuyup karena keringat?"
"……Eh?"
"Jam
pelajaran keempat nanti kan jadwalnya olahraga, materinya lari maraton dan
kurasa kami bakal keringatan parah…… Agak malu sih, tapi aku mikir mungkin kamu
tertarik sama pemandangan kayak begitu."
"Tertarik……
Eh!?"
Tanpa
sadar…… aku mengangguk secara refleks.
Arisa-san
tampak geli melihat reaksimu, sementara Hinata-san rupanya juga sepemikiran,
hingga akhirnya kami berjanji untuk bertemu di gudang olahraga membawa bekal
saat jam istirahat siang nanti.
"Keringetan……
pakaian olahraga…… dua senior gyaru
cantik…… Pasti bakal terjadi sesuatu, kan!"
Harapanku……
boleh kubelanjakan setinggi ini, kan!
Padahal
beberapa hari lalu aku sempat galau memikirkan apakah hubungan semacam ini
benar-benar wajar, tapi sekarang aku rupanya sudah teradiksi begitu dalam oleh
Hinata-san dan Arisa-san.
Sudah terwarnai oleh mereka
berdua!
Kalau
sampai aku ngomong begitu, jangan-jangan mereka bakal makin menjadi-jadi dan
menindihku sambil bilang 'kalau begitu bakal kuberi warna yang lebih pekat
lagi'…… Yah, skenario itu sebenarnya tidak buruk juga sih.
"……Hah,
semoga jam istirahat siangnya cepat datang."
Menertawakan
diri sendiri yang ternyata begitu tidak sabaran, aku melangkah menuju kelas.
Setiap
kali jam pelajaran usai dan waktu istirahat tiba, Kanata dan Rio yang melihatku
bertingkah gelisah langsung menunjukkan rasa penasaran mereka secara
terang-terangan. Sambil tersenyum lebar, mereka mengangkat jempol seolah
menyuruhku untuk tidak khawatir, meski aku sendiri heran kenapa justru aku yang
dicemaskan oleh mereka.
***
Waktu
berlalu begitu cepat hingga jam istirahat siang tiba, dan aku langsung bergegas
menuju gudang olahraga.
"Permisi……"
"Oh,
akhirnya datang juga."
"Datang
juga ya♪"
Wah……
untunglah. Mereka benar-benar menungguku.
Duduk
bersila di atas matras dengan pakaian olahraga yang basah oleh keringat sehabis
pelajaran lari maraton, pemandangan mereka benar-benar luar biasa.
Tas-tas
mereka juga diletakkan tak jauh dari situ…… Jangan-jangan mereka tadi sempat
kembali ke kelas dulu sebelum sengaja datang ke sini.
"…………"
Atau
lebih tepatnya…… situasi ini benar-benar gawat.
Bukan
hanya rambut yang menempel di pipi mereka karena keringat, namun udara di dalam
ruangan tertutup seperti gudang olahraga ini dipenuhi oleh aroma khas tubuh
Hinata-san dan Arisa-san.
Mungkin
itu memang bau keringat, tapi yang bisa kucium hanyalah aroma manis yang selalu
tercium setiap kali kami saling menyatukan tubuh.
"Melihat
kami sampai segitunya, ya."
"Tsubaki-kun
suka banget sih sama kita berdua♪"
Aku
mendekati mereka berdua yang melambaikan tangan dengan gestur menggoda.
Aromanya
semakin pekat hingga membuat kepalaku terasa melayang…… Tapi, aku sendiri yang
tadi bilang ingin melihat penampilan mereka yang basah karena keringat, jadi
aku bersyukur mereka tidak menganggapku jijik.
"Itu……
aku tadi refleks ngangguk karena jujur, dan kalian nggak merasa risih,
kan?"
"Sama
sekali nggak? Lawannya Tsubaki jadi nggak ada yang perlu dipedulikan."
"Betul
banget! Rasanya jadi pengin
bikin kamu makin tenggelam dalam pesona 'Nee-chan' ini!"
Aku sempat
cemas karena kejujuran mereka, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak
beralasan.
Mendengar
jawaban itu, aku memutuskan untuk mengikuti hasratku dan melangkah semakin
dekat.
Semakin
dekat aku menghampiri mereka, aroma yang dilepaskan tubuh keduanya semakin
menguat, meresap melalui hidungku ke seluruh tubuh…… Sensasi terpenuhi itu
datang berbarengan dengan meningkatnya gairah, membuatku ingin segera menerkam
mereka berdua saat itu juga.
"Tapi……
badan kita agak bau keringat, lho?"
"Ah……
iya juga ya, rasanya agak risih juga."
Padahal
tadi mereka sendiri yang antusias dan menggoda, tapi begitu aku mendekat,
mereka justru jadi malu-malu karena masalah bau keringat.
"Eh?
Rasanya cuma ada aroma paling enak di dunia kok di sini…… Aku nggak bohong.
Sejak aku masuk ke sini, yang kucium cuma aroma favoritku!"
"……Fufu,
begitu ya."
"Kalau
begitu kami jadi tenang."
Keduanya
menghela napas lega, lalu bangkit berdiri dan langsung memperpendek jarak di
antara kami.
Aku tahu
betul…… ekspresi yang sedang mereka pasang saat ini adalah raut wajah tepat
sebelum melakukan hubungan intim, alias tanda-tanda kalau mereka sedang
mengalami fase berahi.
Aroma tubuh
yang semakin pekat menguar dari tubuh mereka berdua yang berdiri tepat di
hadapanku.
Tanganku
ditarik agar aku duduk di atas kotak loncat dengan ketinggian yang pas,
sementara bagian bawah tubuhku yang sudah memberikan protes keras ingin segera
dimanja, langsung dijamah oleh mereka.
"Hari
ini giliranku yang menciummu. Arisa, tolong urusi bagian bawah ya."
"Kalau
nggak dibilang begitu pun, aku pasti protes. Nah, ayo kita mulai!"
Arisa-san
berlutut dengan posisi berkebalikan dari saat di ruang kelas kosong, sementara
Hinata-san mendekatkan wajahnya, membuatku memutuskan untuk menyerahkan diri
sepenuhnya pada mereka.
Aku
bertukar ciuman mesra dengan Hinata-san, sementara lidah Arisa-san mulai
menjilat dan memberikan stimulasi di bawah sana.
Padahal
baru saja dimulai, tapi betapa bahagianya waktu yang kuhabiskan ini…… Ditambah
lagi lokasi kami yang berada di sekolah memberikan sensasi tabu yang sukses
merambati tulang belakangku dengan debaran luar biasa.
"……?"
"Hinata-san……?"
Namun,
belum genap sepuluh detik, kegiatan itu terpaksa berhenti sejenak.
Hinata-san
menghentikan ciumannya, menoleh ke arah pintu masuk gudang olahraga, lalu
menunjuk celah di antara tumpukan alat-alat olahraga.
"Tsubaki,
Arisa, sembunyi sebentar."
"Eh?"
"Baiklah~.
Tsubaki-kun, kemari ya."
"Uwah!?"
Lenganku
ditarik dan aku diseret untuk bersembunyi di balik tumpukan barang.
"Sembunyi dulu ya sebentar?"
"B, baik……"
"Biar suaranya nggak bocor, aku kasih 'ini'
ya."
Di saat aku masih belum sepenuhnya mencerna situasi,
Arisa-san tiba-tiba menyingkap pakaian olahraganya sendiri dan
menyelubungkannya menutupi kepalaku.
Kepalaku kini terkurung di dalam baju olahraga
Arisa-san, terjepit di antara belahan dada berukuran H yang terbalut bra
hitam…… Ditambah lagi, Arisa-san masih melanjutkan stimulasi pada bagian bawah
tubuhku dalam posisi tertutup seperti itu.
"Ph……"
"Tenang
saja, tenang saja, ayo kita rasakan nikmatnya tanpa mengeluarkan suara
ya."
Bersamaan
dengan bisikan itu, gerakan dari sisi Hinata-san sepertinya juga mulai beraksi.
"Motomiya-san,
sedang apa kamu di sini?"
"Biasa
saja? Kenapa kamu sendiri yang ada di sini?"
"Karena
aku melihat kalian keluar dari kelas mengenakan pakaian olahraga, aku
penasaran. Ngomong-ngomong…… di mana Murakumo-san?"
"Arisa
lagi ke toilet kali?"
Seseorang
baru saja memasuki gudang olahraga…… Suara itu adalah suara wanita itu.
"Aduh~……
Kenapa Utsuho malah datang ke sini sih."
Ternyata memang benar, Utsuho-senpai.
"Membawa barang-barang…… dan makan
siang di tempat seperti ini? Kamu bukan tipe orang yang sengaja mencari tempat
tersembunyi untuk makan, kan?"
"Aku cuma pengen ngobrol rahasia
berdua sama Arisa kok. Nggak bikin repot siapa-siapa, apalagi melanggar
peraturan sekolah, kan?"
"Itu…… memang benar sih."
Hinata-san sama sekali tidak gentar
menghadapi Utsuho-senpai.
Yah, wajar saja kalau ada yang
bertanya-tanya obrolan rahasia macam apa yang dilakukan di tempat seperti ini,
tapi seperti kata Hinata-san, kami tidak melanggar aturan sekolah ataupun
melakukan tindakan yang mengganggu.
Percakapan antara Hinata-san dan
Utsuho-senpai terus berlanjut, sementara tangan Arisa-san di bawah sana sama
sekali tidak berhenti bergerak.
"Utsuho itu galak banget, ya…… Coba
kalau dia lebih santai sedikit, hidupnya pasti bakal lebih gampang."
"…………"
"Ngomong-ngomong…… meski aku yang
ngomong begini, Tsubaki-kun, kamu kelihatan bergairah banget ya di situasi
kayak gini?"
"Eh!?"
Itu……! Tapi tunggu, Arisa-san bukannya
malah lebih menikmati ini daripada aku!?
"Um…… Arisa-san."
"Ahn♡ Ada apa?"
"Aku coba pikirkan baik-baik…… Bukankah
ketahuan melakukan hal seperti ini di sekolah itu gawat banget ya?"
"Bisa dibilang begitu sih. Tapi kalau
sama Utsuho, aman kok—seandainya ketahuan pun, tinggal kita bungkam saja."
Dibungkam maksudnya…… mau diapakan, ya?
Tepat saat itu, aku akhirnya dibebaskan dari
kurungan pakaian, namun ciuman yang diberikan Arisa-san membuat mulutku kembali
tertutup rapat.
Karena gerakan itu, kakiku tak sengaja
menabrak kotak loncat dan menghasilkan suara gedebuk yang cukup keras.
"Suara apa barusan?"
"Entahlah. Makanya, sana buruan
balik."
"……Paham. Pastikan kalian jangan sampai
terlambat masuk kelas, ya?"
"Paham kok, shishishi."
Utsuho-senpai sempat menunjukkan ekspresi
curiga, tapi sepertinya kami berhasil melewatinya tanpa masalah.
Begitu rasa lega melingkupi kami, Hinata-san
kembali dan dengan agak kasar menjauhkan wajah Arisa-san yang masih menempel
padaku.
"Awit!?"
"Ciuman itu tugasku…… Hah, momen bagusnya
jadi terganggu."
"Padahal buat aku itu momen terbaik
loh♪"
"……Cih."
Hinata-san mendecakkan lidah sambil melototi
Arisa-san, lalu mendekatkan wajahnya kepadaku.
Ciuman langsung terjalin kembali, terasa
begitu penuh gairah seolah-olah dia sedang melampiaskan rasa stres akibat
interaksinya dengan Utsuho-senpai barusan.
"Woah…… Bergairah banget. Aku juga nggak
mau kalah, ya♪"
Lalu, stimulasi dari tangan Arisa-san kembali
dimulai.
Tubuhku terasa semakin panas, tak kalah dari
kedua gadis yang baru saja selesai berolahraga itu, dan berkat ciuman intens
serta gerakan tangan mereka, aku langsung disadarkan menuju puncak kelegaan
dalam waktu singkat.
***
Setelah itu, kami bertiga duduk bersama dengan
akrab untuk menikmati bekal masing-masing.
Hinata-san memakan roti yakisoba yang
dibelinya di kantin, aku memakan bekal buatan Ibu, sedangkan Arisa-san membawa
bekal buatannya sendiri.
"Bekal kalian berdua kelihatan enak
banget."
"Mau coba tamagoyaki? Ini masakan jagoan
Ibu."
"Mau!"
"Silakan."
Meski sempat merasa kurang sopan, aku
mengambil sepotong dengan sumpit dan menyuapkannya.
"Katakan 'aah'."
"Ah, iya! Aah……"
"Aah…… amum……! Enak!"
Melihat ekspresinya yang seperti ingin meminta
lagi, tentu saja aku memberikannya lagi.
Saat aku menggerakkan potongan itu ke kanan
dan ke kiri di depan wajahnya, Hinata-san mengikutinya dengan menggerakkan
wajahnya persis seperti hewan peliharaan yang sedang menunggu umpan, sungguh
menggemaskan.
Bu, terbukti kan kalau masakan buatan Ibu itu
memang yang terbaik!
"Yamada-san――ah, maksudku ibunya Tsubaki
ya…… kelihatannya orang yang sangat lembut, ya."
"Aku jadi ingin ketemu…… Berhubung ibunya
Tsubaki-kun, sudah pasti orang baik."
"Ahaha…… Ibuku memang benar-benar ibu
yang bisa dibanggakan."
Sekarang, apakah Ibu sedang bekerja keras di
tempat kerjanya?
Sebagai seorang anak, rasanya aku tidak ingin
dia terlalu memaksakan diri, tapi Ibu menikmati pekerjaannya sebagai desainer
dan selalu bersemangat setiap hari.
Dulu mungkin iya, tapi akhir-akhir ini dia
tidak pernah sampai jatuh sakit karena benar-benar menjaga kesehatan dengan
ketat, jadi aku tahu dia disiplin…… tapi tetap saja, aku ingin dia sama sekali
tidak memaksakan diri.
"……Wajahmu kelihatan indah."
"Iya…… ekspresinya lembut banget."
"Ah…… maaf, aku jadi melamun."
Pipi kucolek-colek oleh mereka berdua hingga
aku tersadar dari lamunan.
Kalau sudah memikirkan tentang Ibu, aku pasti
langsung jadi bengong dan selalu mengkhawatirkannya……
"Aku jadi cemas…… apa aku ini tidak akan
pernah bisa mandiri dari orang tua, ya?"
"Emangnya kenapa, kan nggak apa-apa?
Menyayangi keluarga itu hal yang mulia, malah bagus kan. Kamu boleh bangga
kok."
"Betul tuh! Perasaan Tsubaki-kun yang
sangat menyayangi ibunya…… kebaikan hati itu adalah salah satu sisi terbaik
dari dirimu loh♪"
"……Iya!"
Benar juga ya…… Rasanya agak aneh kalau
mengatakannya sendiri, tapi aku paham kalau perasaan menyayangi keluarga adalah
hal yang indah dan berharga…… Kalau begitu, tidak ada yang perlu aku malu dari
diriku yang memikirkan Ibu seperti ini.
Setelah selesai makan siang, kami tidak
langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Bukan hanya aku, Hinata-san dan Arisa-san
pun rupanya sama sekali tidak berniat kembali ke kelas, karena kami berdua
berbagi perasaan yang sama untuk tetap ingin berduaan lebih lama.
"Um…… Hinata-san, dan juga
Arisa-san."
"Ada apa?"
"Kenapa?"
Begitu nama mereka dipanggil, keduanya
langsung merespons seketika.
Mereka berdua sudah berganti pakaian dari
pakaian olahraga yang basah oleh keringat menjadi seragam sekolah, dengan gaya
khas yang tetap memamerkan belahan dada, benar-benar pemandangan yang
menyegarkan mata.
Menatap mereka lekat-lekat saja sudah
merupakan momen terbaik, tapi justru karena mereka berada begitu dekat, aku
tiba-tiba punya…… sedikit keinginan yang ingin kucoba.
"Bolehkah aku…… berbaring sambil
memeluk kalian berdua?"
"Hal kayak gitu nggak perlu minta izin
kali."
"Kalau sama Tsubaki-kun, apa pun
diizinkan kok♪"
Begitu lampu hijau diberikan, aku langsung
merengkuh tubuh mereka berdua.
Sambil mempertahankan pelukan itu, aku
merebahkan badan, membuat kami bertiga berbaring bersama di atas matras yang
empuk.
Memeluk
Hinata-san dan Arisa-san di kedua belah lenganku…… Kalau dilihat dari samping,
situasinya mirip sekali dengan protagonis harem di manga atau anime.
"Aku
pernah lihat adegan begini di manga atau anime…… Dan mumpung kalian berdua ada
di dekatku, aku pengen banget merasakannya langsung."
"Begitu ya. Permintaan yang manja
banget."
"Duh, bikin kita makin klepek-klepek aja,
mau kamu apain juga boleh kok♪"
Sambil berkata begitu, Hinata-san dan
Arisa-san memiringkan tubuh mereka ke arahku, merapatkan diri hingga kaki kami
saling bersentuhan.
Tentu saja, hal itu saja sudah lebih dari
cukup untuk membuatku puas, namun bisikan iblis kemudian terdengar.
"Aku mau dipeluk lebih erat lagi.
Maksudku, kamu boleh kok meremas dadaku sepuasnya atau melakukan apa pun yang
kamu mau."
Mendengar bisikan Hinata-san, aku menelan
ludah dan langsung mengangguk.
Lagipula…… meremas dada rasanya terdengar
seperti hal sepele kalau dibandingkan dengan apa yang baru saja kami lakukan
tadi, bukan?
Dengan jari-jari yang bergerak gelisah, aku
menempelkan tanganku ke dada mereka berdua.
Begitu sedikit diberi tekanan, jari-jariku
langsung merosot tenggelam ke dalam kelembutan daging dada dari balik seragam
sekolah…… Sensasinya benar-benar luar biasa nikmat.
"Empuk banget."
"Iyalah."
"Soalnya ini adalah kebanggaan
kami."
Tidak ada yang akan protes kalau mereka
membanggakan ini…… Atau lebih tepatnya, tidak bakal kubiarkan ada yang protes!
"Rasanya jadi…… mirip raja di negeri
antah berantah."
"Macam raja di istana kesenangan
gitu?"
"Iya."
"Bukankah tipe karakter begitu biasanya
bakal dikalahkan sama protagonis cerita?"
"Ah, benar juga…… Eh, tapi nggak apa-apa,
aku pasti bakal menang. Sekalipun ada karakter mirip protagonis di luar sana,
aku nggak bakal pernah melepaskan Hinata-san dan Arisa-san!"
"Baguslah, awas aja kalau sampai
coba-coba melepaskan kami."
"Yah, toh aku nggak bakal ke mana-mana
juga."
Senang rasanya mendengar ucapan itu…… Mereka
berdua benar-benar senior yang luar biasa.
Sementara aku sedang meremas dada Hinata-san
dan Arisa-san, mereka berdua pun dengan lembut membelai tubuhku, bahkan
meniupkan napas hangat di telingaku sambil menciumi pipiku, godaan yang sungguh
dahsyat.
"Ampun deh, Tsubaki juga sudah berubah
jadi anak nakal ya."
"Meski penyebab utamanya adalah kita
berdua sih♪"
Anak nakal…… Aku tidak berniat membantah, tapi
seperti kata Arisa-san, pihak senior seperti kalian berdua juga ikut andil
sebagai penyebabnya, ya.
"Aku
bener-bener sudah diwarnai oleh Hinata-san dan Arisa-san, ya."
"Kamu sadar sendiri rupanya?"
"……Kamu ini gemesin banget sih."
Suara kecupan bibir terus bergema
bertubi-tubi.
Ciumannya jadi tidak bisa dihentikan dan
aku pun tidak bisa bergerak…… Kalau begitu, bolehkah aku meminta satu
permintaan egois lagi!
"Makanya, kalian berdua…… hal-hal mesum
itu cukup dilakukan di depanku saja, ya――"
"Boleh."
"Tentu saja."
"Guek!?"
Respons atas permintaanku memang menyenangkan,
tapi suara yang keluar dari tenggorokanku justru berupa erangan kesakitan yang
jauh dari kata gembira.
Alasannya karena tubuhku langsung didekap
semakin erat hingga membuatku sama sekali tidak bisa bergerak…… Astaga, kalian berdua! Jam istirahat siang kan
sebentar lagi habis!
"T-Tunggu dulu, Hinata-san……
Arisa-san……!?"
"Udah ngomong hal semanis itu sampai
bikin kita kesenangan begini…… Bukannya kejam banget kalau habis ini kita malah
udahan gara-gara jam pelajaran?"
"Mau alasan apa pun, itu tandanya kamu
sudah siap, kan? Maksudnya mau mengabaikan pelajaran dan membiarkan kami
menerkammu, iya kan? Iya kan, Tsubaki-kun?"
Mana mungkin aku berniat begitu…… Walaupun
sebenarnya sedikit ada sih……!
Aku
tidak sempat mengucapkannya, namun ekspresiku rupanya sudah terbaca oleh mereka
berdua. Setelah menerima perlakuan yang begitu manis dan intim hingga rasanya
meleleh, aku akhirnya baru dibebaskan.
Tentu
saja aku tidak sampai terlambat masuk kelas, meski waktunya sudah mepet sekali.
***
"……Waktu yang luar biasa tadi."
Menghabiskan waktu bersama mereka berdua
selalu menyenangkan dan membahagiakan, tapi godaan berbau mesum itu benar-benar
menguji ketahanan mental…… Yah, justru sisi Hinata-san dan Arisa-san yang
seperti itulah yang membuat mereka begitu memikat.
"Baiklah~, mari bersemangat untuk
pelajaran siang!"
Mengeluarkan teriakan penyemangat dalam hati,
aku melangkah kembali ke kelas.
Baiklah, setelah jam pelajaran sekolah yang
merupakan tugas utama pelajar ini selesai, tibalah waktu pulang…… Begitu jam
sekolah usai, aku tinggal pulang ke rumah dan hari ini selesai, begitu pikirku
tadinya.
Namun, hari ini tidak berjalan seperti itu.
Begitu kegiatan wali kelas selesai dan aku
melangkah keluar kelas, Wali kelas kami, Pak Yamamoto, memanggilku.
"Tunggu sebentar, Mikasa."
"Ya?"
"Ada apa? Kamu bikin masalah ya?"
"Nggak ngapa-ngapain kok…… Bentar ya, aku
ke sana dulu. Duluan ya, Kanata, Rio. Semangat ikutan klubnya!"
"Yoi!"
"Sampai nanti!"
Aku melambaikan tangan kepada Kanata dan
bergegas menghampiri guru tersebut.
"Saya ada bikin salah, Pak?"
"Entahlah. Yang menentukan itu si
Utsuho."
"Utsuho?…… Eh, Maksudnya Ketua OSIS
Utsuho-senpai?"
"Hm-mm."
Kenapa nama Utsuho-senpai mendadak disebut di
sini?
Kalau dipikir-pikir, interaksi layak disebut
obrolan dengan Utsuho-senpai baru terjadi tadi pagi, selebihnya tidak ada
urusan khusus…… ah.
"…………"
Bayangan tentang kejadian di jam istirahat
siang tadi sempat melintas di kepalaku, tapi sepertinya hal itu seharusnya
tidak ketahuan……
"Setelah wali kelas selesai, dia minta
kamu datang ke ruang OSIS, katanya ada pesan…… Dengar ya, Mikasa, kamu
benar-benar tidak berbuat ulah apa pun, kan?"
"Seharusnya sih tidak ada…… ya."
"Begitu ya, kamu kan anak yang rajin,
jadi mustahil kalau sampai dicap jelek sama si Utsuho. Ya sudah, coba ke sana
dulu sebentar, ya?"
"Baiklah, Pak."
Mau bagaimana lagi…… Mau tidak mau aku harus pergi, kan.
Panggilan langsung dari Ketua OSIS pastilah
menyangkut urusan penting, kalau tidak mana mungkin terjadi…… pikiran itu
justru membuatku cemas karena merasa ada sesuatu yang pasti telah terbongkar.
Aku sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya
membulatkan tekad dan melangkah menuju ruang OSIS.
"……Baiklah."
Setelah menarik napas dalam-dalam, aku
mengetuk pintu kayu di depannya.
Balasan terdengar dari dalam, menyuruhku
masuk, lalu aku membuka pintu dan melangkah masuk ke ruangan.
"Permisi."
"Ya, selamat datang."
Orang yang berada di dalam ternyata hanya
Utsuho-senpai seorang diri.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama
kalinya aku menginjakkan kaki di ruang OSIS, dan suasananya benar-benar berbeda
dari ruang kelas kami, selayaknya ruang kerja seorang ketua OSIS sesungguhnya.
Ada sofa tampak mahal, lemari pajangan
piring…… bahkan ada kulkas juga di sudut sana, hebat benar.
"Silakan duduk, jangan sungkan."
"B, baik……"
Begitu aku mendudukkan diri di sofa yang
terletak di tengah ruangan, Utsuho-senpai berjalan ke arah lemari penyimpanan.
"Kamu bisa minum kopi, kan?"
"Bisa kok……!"
"Tunggu sebentar ya. Aku buatkan
dulu."
Sebenarnya ingin kukatakan kalau tidak usah
repot-repot…… tapi melihat Utsuho-senpai sudah mulai menggiling biji kopi
sendiri, niat itu kutelan mentah-mentah.
Beberapa saat kemudian, secangkir kopi yang
mengepul diletakkan di atas meja di hadapanku.
"Silakan."
"Terima kasih banyak."
Kutambahkan sedikit susu cair, lalu
mencicipinya seteguk…… Enak sekali.
"Kopi ini…… rasanya enak banget."
"Terima kasih. Aku memang cukup jago
menyeduh kopi."
"Begitu ya……"
Gerakannya saat menggiling biji kopi tadi
memang terlihat terampil sih……
Bukan berarti aku memujinya hanya karena
melihat proses tadi, tapi aura kebangsawanan dan keanggunan dalam setiap
gerakan Utsuho-senpai memang selalu terpancar secara alami, membuatku merasa
sosok seorang putri bangsawan benar-benar nyata pada dirinya.
"Um…… Sebenarnya, kenapa ya saya
dipanggil ke sini?"
Aku
langsung to the point menanyakannya.
Memanggilku secara khusus ke tempat ini pasti
karena ada suatu alasan…… Aku ingin mendengarnya langsung supaya bisa segera
merasa lega, entah itu pertanda baik maupun pertanda buruk.
Utsuho-senpai meletakkan cangkirnya, menatapku
lekat-lekat, lalu membuka suara.
"Jangan terlalu tegang begitu. Aku
memanggilmu ke sini karena ada beberapa hal yang ingin kutanyakan."
"……Hal
yang ingin ditanyakan?"
"Iya……"
"?"
Saat itu, rona kemerahan muncul di pipi
Utsuho-senpai.
Ada apa……? Bukan sekadar tersipu, dia terlihat
seperti sedang merasa malu……?
Tentu saja aku tidak sampai salah paham
mengira dia menyukaiku, apalagi berasumsi kalau dia punya perasaan khusus
padaku…… Tapi justru saat melihat reaksi seperti ini, aku malah semakin tidak
mengerti.
Utsuho-senpai berdeham untuk menetralkan
suasana, lalu memasang ekspresi tegas kembali.
"Anak-anak di kelas melihatmu berduaan
dengan Motomiya-san. Sebenarnya itu bukan masalah besar, tapi anak itu bilang,
jangan-jangan kamu sedang dibully oleh Motomiya-san."
"……Ha?"
Mendengar inti permasalahan yang akhirnya
diutarakan, mataku langsung membelalak.
Aku
dibully oleh Hinata-san……? Apa-apaan itu.
Begitu
nama Hinata-san keluar dari mulut Utsuho-senpai, jantungku sempat berdegup
kencang, namun isi pembicaraan yang di luar dugaan itu langsung menggantikan
rasa panik dengan keterkejutan.
"Dari reaksimu sepertinya sama sekali
tidak begitu, ya?"
"Tentu
saja tidak! Saya tidak pernah dibully oleh Hinata-san…… malah saya diperlakukan dengan sangat baik."
"Diperlakukan dengan…… baik,
ya."
"Utsuho-senpai?"
"T, tidak apa-apa. Lalu, kenapa sampai
ada pembicaraan seperti itu? Pertama, karena Motomiya-san bukan murid dengan
perilaku yang baik, ditambah lagi kombinasi kalian berdua belum pernah terlihat
sebelumnya."
"Ah, begitu ya……"
"Tadi pagi, kamu juga terlihat cukup
akrab dengan Murakumo-san, kan? Apakah itu juga bukan karena dibully?"
"Ya! Arisa-san juga tidak pernah
melakukan hal seperti itu kepada saya!"
Begitu aku menegaskannya dengan mantap,
Utsuho-senpai mengangguk paham.
Tapi begitu ya…… Aku sama sekali tidak
menyangka kalau kedekatan kami dengan Hinata-san akan ditanggapi seperti ini.
"Itu…… maafkan aku, ya? Seberapa besar
pun rasa penasaranku, apakah pertanyaanku tadi membuatmu merasa tidak
nyaman?"
"Ah…… tidak, sama sekali tidak. Hanya
saja, kalau Anda tahu bahwa Hinata-san tidak pernah berbuat jahat kepadaku, dan
sebaliknya justru memperlakukanku dengan sangat baik, itu sudah lebih dari
cukup bagi saya."
"Diperlakukan dengan…… baik,
ya……"
Eh…… Kenapa wajahnya memerah lagi.
Ekspresi tenangnya langsung lenyap, dia
sempat melirik ke arahku sekilas lalu mengalihkan pandangannya.
Sambil memutar-mutar ujung rambutnya untuk
menyembunyikan rasa malu…… Tidak, aku tidak boleh salah paham!
"Uhm…… jadi, hanya itu alasan saya
dipanggil ke sini?"
"Y, ya! Aku lega kalau ternyata tidak ada
apa-apa. Kalau seandainya kecurigaanku itu benar, sebagai ketua OSIS, aku
merasa harus turun tangan menolongmu."
"Kalau soal itu…… terima kasih
banyak."
Jadi kesimpulannya aku dipanggil bukan karena
ada masalah apa pun, ya…… Tapi seorang ketua OSIS mau turun tangan langsung
demi satu murid, betapa luar biasanya orang ini.
Utsuho-senpai dikenal memiliki kepribadian
yang baik, berintegritas tinggi, dan dikagumi banyak murid.
Terlepas dari auranya yang sulit didekati atau
rumor tentang caranya menolak pernyataan cinta yang terkenal kejam, melihat
sisi ini membuatnya memberikan kesan sebagai orang yang sangat lembut.
"Terima kasih sudah mau menceritakannya,
Mikasa-kun."
"Sama-sama, kalau begitu saya sudah boleh
pulang?"
"Hati-hati di jalan ya."
"Baik."
Untuk saat ini, aku merasa lega karena tidak
terjadi masalah apa pun.
Mungkin karena perasaanku sudah lebih tenang,
aku jadi mendadak ingin mengobrol sedikit lagi tentang Hinata-san, membuat
langkah kakiku terhenti sejenak.
"Ketua Utsuho."
"Ada apa?"
"Belakangan ini aku menjadi dekat dengan
Hinata-san dan yang lainnya, dan tidak bisa dipungkiri pertemuan dengan mereka
telah mengubah hari-hariku. Bukan berarti hari-hariku sebelum mengenal mereka
itu tidak menyenangkan, tapi sekarang aku menjalani hari-hari yang jauh lebih
menyenangkan."
"Begitu ya, sampai segitunya."
"Kupikir ada baiknya aku mengatakannya
sekarang, berjaga-jaga kalau nanti ada kesalahpahaman lagi seperti hari
ini."
"Fufu, begitu ya."
Dengan percakapan itu sebagai penutup, aku
meninggalkan ruang OSIS.
Begitu pintu tertutup, aku langsung
menyandarkan punggungku ke daun pintu dan menghela napas panjang.
Meskipun tidak terjadi hal yang berat,
dipanggil oleh ketua OSIS terlepas dari bagaimana karakter Utsuho-senpai, tetap
saja sedikit membuat jantungku mau copot……
"Kerja bagus."
"……Eh!?"
Suara yang tiba-tiba terdengar dari samping
membuat bahuku bergidik kencang.
"H, Hinata-san……?"
"Iya."
Sosok yang berdiri di sana ternyata adalah
Hinata-san.
Dia menyandarkan punggungnya ke dinding tepat
di sebelah pintu, sambil meniup-niup permen karet di mulutnya…… Tunggu dulu,
jangan-jangan!?
"Uhm…… apa kamu mendengarkan
pembicaraannya?"
"……Iya."
Katanya, kebetulan dia melihat saat aku
berjalan menuju ruang OSIS, dan merasa penasaran lalu mengikutiku.
Selain itu, sepertinya aku tidak menutup pintu
ruang OSIS dengan sempurna, sehingga suara percakapan kami bocor keluar melalui
celah kecil dan semuanya terdengar olehnya.
"Maaf ya? Tidak kusangka kamu sampai
dipanggil gara-gara hal seperti itu……"
"Tidak perlu minta maaf. Memang sempat
kaget sih, tapi Utsuho-senpai sepertinya sudah mengerti dengan baik…… dan aku
juga sudah menyampaikan perasaanku yang sebenarnya tentang kalian kepada
beliau."
"Orang yang telah mengubahmu……
ya."
Ucapan Hinata-san yang dilontarkan dengan nada
malu-malu membuatku ikut merasa salah tingkah.
"Hinata-san…… wajahmu merah."
"Ngomong apa sih. Tsubaki juga
merah."
"……Benar juga ya."
"……Iya."
Guhooooo, suasana apa ini…… Rasanya manis agak
asam, tapi Hinata-san kelihatan manis banget! Yah, dia memang selalu kelihatan
manis sih!
Jumlah kata-kata yang keluar dari mulutku
maupun Hinata-san berkurang drastis, tapi kami berjalan keluar sekolah
berdampingan.
Melihat Hinata-san yang berjalan begitu rapat
menyamakan langkah di sebelahku, sepertinya opsi untuk pulang berpisah jalan
sama sekali tidak ada dalam kamus kami.
"……Ah."
Di tengah perjalanan, saat melintasi area
lapangan olahraga, langkah kakiku terhenti sejenak.
Di sana, aku melihat para anggota klub sepak
bola yang sedang berlari di lapangan…… Terutama Kanata yang sedang berkeringat
dan berlari dengan sungguh-sungguh, serta Rio yang sedang menatap ke arah
Kanata.
"Temanmu?"
"Iya, sudah seperti sahabat
sendiri."
"Yang mana?"
Aku menunjuk ke arah mereka agar Hinata-san
tahu.
"Sepertinya aku tahu anak laki-laki yang
itu. Sepertinya anak-anak sekelasku sempat
membicarakan tentang junior yang keren."
"Begitu ya……"
"Yah, tapi bagiku Tsubaki tetap yang
nomor satu."
"Ah…… terima kasih banyak."
Setelah beberapa saat menikmati
pemandangan latihan sepak bola tersebut, kami kembali melangkah melanjutkan
perjalanan.
Mau ke mana selanjutnya, sampai di mana
kami akan bersama, kami berjalan tanpa membicarakan hal-hal semacam itu, ketika
tiba-tiba terdengar suara bel sepeda kring-kring dari arah belakang.
Begitu aku menoleh, sebuah sepeda sedang
melaju ke arah kami.
Meskipun sudah membunyikan bel, jalurnya
agak sempit sehingga aku merasakan bahaya bahwa sepeda itu hampir menabrak
Hinata-san.
"Hinata-san!"
"Eh?"
Tanpa pikir panjang, aku mencengkeram bahu
Hinata-san dan menariknya merapat ke pelukannya.
Tindakan dan prediksiku ternyata tepat, si
bodoh yang mengendarai sepeda itu ternyata sedang sibuk memainkan ponselnya,
dan kalau dibiarkan, dia pasti sudah menabrak Hinata-san telak.
Si bodoh itu menabrak pembatas jalan,
kehilangan keseimbangan, dan akhirnya terjatuh dengan tidak karuan.
"Sialan…… Bawa sepeda, bukannya melihat
jalan, malah main HP."
"Terima kasih ya, Tsubaki."
"Sama-sama, yang salah kan si bodoh
tadi."
Pria yang terjatuh itu tampak merengut dengan
wajah memerah, melontarkan sumpah serapah.
Meskipun terlihat kesakitan di beberapa bagian
tubuhnya, karena itu adalah akibat perbuatannya sendiri, aku sama sekali tidak
merasa kasihan.
"Tsubaki, sebagai ucapan terima kasih
karena sudah menolongku, aku beri hadiah."
"Hadiah?"
"Iya, kuberikan permen."
Sambil berkata begitu, Hinata-san memberikan
permen yang baru saja ia emut kepadaku.
Barang yang baru saja masuk ke dalam
mulutnya……!?
Tanpa berpikir panjang, aku langsung
membuka mulut dan permen itu langsung dimasukkan ke dalam mulutku olehnya.
"……Enak."
Rasanya normal dan manis.
Meskipun ada sensasi licin akibat sisa air
liur Hinata-san, rasa jeruk yang manis langsung menyebar di dalam mulutku.
Meskipun begitu, menerima permen yang baru
saja diulum orang lain secara langsung sungguh di luar dugaan.
"Uhm…… kalau ditatap terus begitu,
aku jadi malu."
"Aku cuma sedang melihat Tsubaki yang
kelihatan begitu menikmati permen bekas milikku di dalam mulutnya."
Justru hal itulah yang bikin malu……!
Tapi…… bukan hanya karena bisa menikmati
permen bekas Hinata-san, hanya dengan saling menatap saja, jantungku sudah
berdebar kencang.
Saat pandanganku sedikit turun dari wajah
cantiknya, belahan dada yang besar itu terlihat jelas.
Pemandangan belahan dada yang sengaja
ditonjolkan itu membuatku merasa kalau tidak melihatnya justru adalah sebuah
ketidaksopanan…… Mengingat kejadian di jam istirahat tadi,
sekarang aku jadi sangat…… ingin memeluk Hinata-san yang ada di hadapanku ini.
"Hinata-san, setelah ini…… waktunya masih
aman, kan?"
Hei…… Apa yang baru saja aku katakan.
"Aman banget kok."
"K, kalau begitu……"
Kata-kataku tak bisa dihentikan lagi.
Bolehkah aku mengatakan hal seperti ini secara
tiba-tiba…… Aku sempat cemas kalau-kalau nanti dianggap merepotkan, tapi aku
tetap tidak bisa menghentikannya.
"Aku ingin…… melakukan hal mesum dengan
Hinata-san."
"…………"
Mendengar ucapanku, Hinata-san memasang
ekspresi terkejut dengan mulut sedikit terbuka.
Aku sempat hampir menyesal karena
mengucapkannya terlalu tiba-tiba, namun Hinata-san langsung mencengkeram
tanganku erat-erat.
"Boleh, ayo kita lakukan♪"
Bahkan sebelum aku sempat membalas, tanganku
ditarik dengan penuh semangat.
Tempat yang dituju adalah taman yang sama dengan
tempat kami menaiki ayunan sebelumnya. Lalu kami masuk lebih jauh ke area
pepohonan di bagian belakang.
"Uhm…… Hinata-san?"
"Di sekitar sini benar-benar tidak
ada orang yang lewat. Meskipun tidak 100% dijamin, tempat ini jarang
sekali didatangi orang kecuali ada keadaan khusus."
"Kamu tahu betul tempat ini, ya?"
"Tempat di mana aku bisa bermanja-manja
dengan Tsubaki sudah aku survei sebelumnya."
Begitu ya…… Kalau begitu aman!
Tempat sesepi ini mungkin sedikit menyeramkan
bagi anak kecil sehingga mereka tidak akan mendekat, dan keremidannya yang pas
membuatnya sangat ideal untuk bersembunyi.
"……Ah."
"Ada apa?"
"Kalau dipikir-pikir secara jernih, anu……
ini pertama kalinya di luar ruangan, ya."
"Mau membiasakan diri? Kalau terus
bersamaku, hal-hal seperti ini bakal sering terjadi lho?"
Seriusan…… Aku tanpa sadar menelan ludah.
Hinata-san menyandarkan punggungnya ke pohon
yang batangnya relatif bersih, sambil menggerakkan bibirnya yang ranum dengan
pipi yang sudah merona merah.
"Aku senang waktu Tsubaki sendiri yang
mengajak duluan."
"……Maaf ya, aku tidak bisa menahannya
lagi."
"Boleh mengajakku kapan saja kok. Kalau
begitu, Tsubaki…… hari ini aku mau mode kekasih dari awal."
"……Baik!"
Gawat…… Menghadapi orang seperti ini membuatku
tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Demi memasuki mode kekasih yang diminta oleh
Hinata-san, aku menarik napas dalam-dalam secara perlahan lalu memanggil
namanya.
"Hinata."
"Ah……♡"
Seketika itu juga, desahan terdengar dari
bibir Hinata-san.
Melihat matanya yang seolah-olah dipenuhi
lambang hati, rasanya karena Hinata-san begitu menggemaskan hingga aku tak
kuasa menahan diri.
Dengan tangan kiriku, aku menggenggam
pergelangan tangan kiri Hinata-san, mengangkatnya, lalu mengambil posisi mirip
kabedon (menyudutkannya ke dinding pohon).
"Aku akan menciummu."
"Cium aku♡ Cepat…… cepetan cium aku♡"
Suara
Hinata-san sudah terdengar meleleh……!
Meskipun
seharusnya tidak ada orang lain di belakang kami, rasanya seperti ada dorongan
dari punggungku yang menyuruhku untuk segera merespons Hinata-san.
Mendekatkan
wajah ke arah Hinata-san yang sudah tampak tidak sabar, aku membungkam
bibirnya.
Panas……
Tubuhku terasa sangat panas, begitu pula dengan tubuh Hinata-san yang
bersentuhan denganku.
"Uhn……
churu……っ♡"
Sambil
berciuman, aku meremas dada Hinata-san.
Meremasnya
dengan lembut dari balik seragam, lalu memperkuat tekanannya secara
bergantian…… Tidak, sentuhan seperti ini saja tidak cukup memuaskanku.
Aku
mulai melonggarkan kancing seragam sekolahnya, merasa takjub pada betapa
terbiasanya tanganku melakukan gerakan ini.
Begitu
kail pengait di tengah pakaian dalamnya berhasil dibuka, dada indahnya yang
besar langsung memantul keluar dan terekspos, membuat jariku menyusuri
permukaannya…… lalu menenggelamkannya ke dalam kelembutan
itu.
"Kamu suka dadaku?"
"Suka…… aku sangat menyukainya."
"Iyang♡ Aku paling suka Tsubaki yang jujur! Suka
banget♡"
Sudah kuduga…… Hinata-san dalam mode seperti
ini daya hancurnya benar-benar luar biasa.
Menyadari bahwa akulah yang berhasil
mengeluarkan sisi Hinata-san yang ini membuatku merasa bangga, dan aku ingin
melihat Hinata-san lebih banyak lagi…… Aku ingin tahu ekspresi seperti apa dan
kata-kata apa yang akan ia gunakan untuk meminta diriku.
Iseng-iseng aku mencoba menjauhkan wajahku,
membuat Hinata-san langsung meninggikan suaranya protes.
"Kenapa! Kenapa ciumannya dihentikan!
Lanjutkan lagi…… ayo!"
Permintaan itu terdengar hampir seperti sebuah
permohonan.
Kekuatan suara yang dikeluarkan dengan mata
berkaca-kaca itu tidak perlu dipertanyakan lagi…… Meskipun aku tahu ini mungkin
salah, tapi rasanya aku jadi merasa seperti sedang melakukan perbuatan yang
sangat jahat.
Berpikir bahwa aku tidak boleh membuat
Hinata-san semakin tersiksa dalam penantian, aku kembali melanjutkan ciuman
kami.
Seiring berlanjutnya ciuman tersebut, gairah
di antara kami semakin meningkat, hingga akhirnya momen puncak yang
sesungguhnya pun tiba.
"Hinata."
"Boleh…… ayo cepat lakukan♡"
Hinata-san meletakkan tangannya di batang
pohon, menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri untuk memancingku.
Pengaman dipasang dalam kecepatan kilat,
membuatku sudah sepenuhnya siap…… Dengan mencengkeram pinggul Hinata-san
erat-erat, aku mulai mendorongnya perlahan.
"Ngaaaaaaah♡"
Suara desahan yang bergema, berpadu dengan
tubuh Hinata-san yang bergetar lembut.
Segala hal di tempat ini merangsang gairahku,
menjadikannya dorongan kuat untuk menikmati tubuhnya lebih jauh lagi.
"Tsubaki…… teknikmu makin jago ya…… Rasanya enak
banget♡"
"……Aku…
berhasil membuat Hinata-san merasa nikmat, kan?"
"Hmm♡ Enak banget…… ah♡"
Aku belum sepenuhnya paham apa yang sebenarnya
membuat seorang wanita merasa bahagia.
Tapi sekarang, aku sudah bisa mengerti lewat
naluri, apa yang harus kulakukan agar Hinata-san dan Arisa-san merasa senang.
"K-Kenapa!? Itu…… itu enak banget♡"
Sambil
mengulurkan tangan ke dada Hinata-san yang bergoyang mengikuti gravitasi,
meremasnya dengan kuat sementara pinggulku terus bergerak…… Hinata-san
benar-benar kelewat imut.
Berusaha
menyampaikan rasa cintaku sekuat tenaga, serta mengekspresikan betapa
bahagianya aku bisa bercinta seperti ini dengan seluruh tubuhku, aku berfokus
sepenuhnya pada hubungan intim bersama Hinata-san.
"……Kerja
bagus, Tsubaki."
"Ya……
huft."
Beberapa
waktu kemudian, aku dan Hinata-san saling berpelukan erat.
"Meskipun
saat melakukannya itu terasa sangat luar biasa, tapi aku paling suka saat kita
berpelukan begini sambil menikmati sisa-sisa rasanya."
"Aku juga suka."
"……Selain itu, aku juga suka melihat
Hinata-san dengan pakaian yang sedikit berantakan."
"……Hei, Tsubaki? Rasanya itu agak
berlebihan, tahu? Kamu terus saja mengucapkan hal-hal yang
bikin senang begini…… Kamu ini benar-benar penakluk wanita."
"A, ahaha……"
Dibilang penakluk wanita kan tidak enak
didengar!
Yah, meski aku tidak begitu populer sampai
bisa disebut penakluk wanita, ucapan Hinata-san barusan akan kuanggap sebagai
sebuah kehormatan.
"Fufu, nanti aku mau pamer ke Arisa
ah, kalau aku sudah bercinta dengan Tsubaki."
"Uhm…… itu tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa, tenang saja. Kalau 3P
kan rasanya tidak ada perasaan tidak adil, tapi kadang ada kalanya kita ingin
melakukannya berdua saja…… Lagi pula, melayani kami berdua sekaligus itu
melelahkan, kan?"
"Ya…… tapi rasanya sangat
membahagiakan."
"Anak mesum."
Kepalaku disentil pelan dengan penuh gemas.
Kami merapikan pakaian masing-masing, lalu
berjalan menyusuri taman dengan pasang muka tanpa dosa—namun aku tidak bisa
berhenti mencemaskan Hinata-san.
Kenapa……?
Itu karena…… begitulah… ah~… ya ampun.
"Rasanya anginnya tembus ke mana-mana……
meski mau bagaimana lagi sih."
"…………"
Saat ini, Hinata-san sedang tidak memakai
pakaian dalam.
Katanya, rasanya tidak nyaman akibat basah,
tapi kalau sampai ada orang yang melihatnya, justru aku yang merasa lebih cemas…
atau lebih tepatnya, aku tidak ingin ada orang lain yang melihat wujud
Hinata-san yang tanpa pelindung itu.
"Aku akan mengantarmu sampai dekat rumah,
ya."
"Begitukah?"
"Ya. Biar aku antar supaya kalau terjadi
apa-apa aku bisa sigap."
"……Iya, terima kasih."
Satu embusan angin saja sudah bisa menjadi
bencana fatal, sih……
Sambil mengawal Hinata-san yang tampak sibuk
mengawasi roknya, akhirnya kami tiba di area di mana rumahnya mulai terlihat.
Tanpa sengaja aku jadi tahu di mana rumah
Hinata-san, dan itu membuatku merasa sedikit…… Ah, ralat, sangat senang.
"Aku ingin ciuman perpisahan."
"Baik."
Menuruti permintaan manja Hinata-san, kami
saling bertukar ciuman.
Namun, bahkan setelah ciuman itu usai,
Hinata-san tidak kunjung melepaskan diri, melainkan terus memelukku erat-erat
sambil membenamkan wajahnya ke dadaku.
"……Hei, Tsubaki."
"Ada apa?"
"Kita berdua…… tidak sedang membebanimu,
kan?"
Entah apa yang membuatnya tiba-tiba
melontarkan pertanyaan seperti itu.
Namun, dari nada suaranya yang terdengar
sedikit suram, kutebak kalau Hinata-san dan Arisa-san sebenarnya juga
memikirkan beberapa hal tentang hubungan kami ini.
Padahal sebelumnya dia bilang aku tidak perlu
memikirkan apa pun tentangnya, dan menyuruhku untuk menjalani hubungan yang
santai saja…… Tapi melihat sisi Hinata-san yang seperti ini, aku tetap merasa
dia begitu menggemaskan.
Artinya, sama sekali tidak ada beban bagiku.
"Tidak ada beban sama sekali, kok. Lagipula,
apa aku terlihat terbebani saat menghabiskan waktu bersama kalian berdua?"
"……Tidak kelihatan sih."
"Makanya, tidak apa-apa. Justru aku-lah yang…… anu…… merasa ini adalah sebuah
keajaiban bisa mengenal wanita hebat seperti Hinata-san dan Arisa-san, diajari
banyak hal…… bahkan bisa melakukan hal-hal mesum bersama."
"……Sungguh deh, Tsubaki ini jago
banget bikin orang senang dengan kata-katanya. Hubungan kita ini kan sebenarnya
cuma sex friend (teman tapi mesum), tapi rasanya sudah lebih dari itu."
"Sexfriend itu istilah yang baru pertama
kutahu…… tapi apakah semua orang punya hubungan sebahagia ini?"
"Setidaknya, kurasa cuma kita
berdua―maksudku, kita bertiga yang seperti ini. Malu sih kalau diomongkan
sendiri, tapi kita kan tidak sekadar menempelkan tubuh saja, melainkan…… ya
ampun, kadang kita bermanja-manja persis seperti pasangan kekasih, kan?"
"Pasangan kekasih……!"
"……T, tunggu dulu, jangan malah wajahmu
yang memerah di sini!"
Tentu saja aku jadi salah tingkah kalau
tiba-tiba diajak ngomong begitu!
Meskipun sempat ada kecanggungan sesaat, kami
berdua akhirnya sama-sama tertawa kecil tanpa sadar.
"Yah, anggap saja kita sedekat itu, jadi
tidak apa-apa kan? Makanya, Tsubaki, ke depannya mohon bantuannya lagi
ya?"
"Ah, iya! Mohon bantuannya juga!"
Hubungan kami adalah teman tapi mesum.
Terlebih lagi, aku menjalin hubungan dengan
dua orang sekaligus, Hinata-san dan Arisa-san…… Aku tidak tahu seperti apa
kelanjutan hubungan ini ke depannya, tapi aku berharap waktu di mana aku bisa
terus bersama mereka berdua ini bisa terus berlanjut.
"Namanya juga anak SMA, main api itu
sudah biasa! Jadi, Tsubaki, ayo kita main api sepuasnya bersamaku dan
Arisa."
"……Aku tidak suka mendeskripsikan waktu
bersama kalian berdua dengan kata sesederhana main api."
"……Duh, kenapa sih kamu selalu bisa
mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati kami begini? Hei, kamu masih ingin
bercinta lagi denganku sebegitunya?"
"Kenapa kesimpulannya jadi loncat
begitu!"
"Memangnya nggak mau?"
"Bukannya nggak mau sih!"
"Nah, kalau begitu kan beres."
K, kenapa situasinya jadi terasa sangat
merepotkan begini rasanya!?
Sesuatu yang mirip obrolan vulgar di bawah
langit senja yang indah…… Tapi bagaimanapun juga, kami selalu tertawa bersama……
dan aku sungguh bersyukur dari lubuk hatiku yang paling dalam karena bisa
menghabiskan waktu menyenangkan seperti ini.
Semuanya bermula dari pertemuan dengan
Hinata-san.
Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan
orang ini di hari itu.


Post a Comment