Chapter 3
Para Gadis Gyaru dan
Video Pendek
Awal semester baru ditandai
dengan dilaksanakannya upacara pembukaan.
“Mengantuknya…”
Aku mengucek mataku yang lelah
saat melangkah gontai menuju sekolah.
Liburan musim panas kali ini
terasa sangat padat dan berkesan, sampai-sampai rasanya berlalu begitu cepat.
Karena selama liburan aku terbiasa bangun di siang hari, rasanya cukup sulit
untuk kembali ke jadwal yang teratur.
“…………”
Memasuki ruang kelas setelah
sekian lama, aku merasakan sedikit nostalgia.
Mengabaikan para siswa yang sibuk
menyelesaikan tugas liburan di menit-menit terakhir dan mereka yang kulitnya
menjadi agak kecokelatan setelah liburan sambil asyik mengobrol, aku berjalan
menuju mejaku dan langsung berpura-pura tidur.
Sensasi dingin meja saat aku
menungkupkan wajah benar-benar membuatku menyadari bahwa persekolahan telah
dimulai kembali.
“Huuuh…”
Tapi hari ini, aku benar-benar
merasa seperti bisa tertidur lelap.
Tepat saat aku mulai terlelap,
suara energik dari dua gadis yang tak asing memenuhi ruang kelas.
Saat kulirik, ternyata itu adalah
Hanako dan Atsuki. Aku belum pernah melihat mereka lagi sejak liburan kemarin,
dan kulit mereka tampak lumayan kecokelatan.
“Hei, si tukang tidur, selamat
pagi!”
“Lama tidak bertemu!”
Terbangun kaget oleh tepukan
bahu mereka yang bersemangat, aku pun duduk tegak.
“Selamat pagi…”
Aku menyapa duo gyaru
yang sangat bersemangat itu dengan kepala pusing. Kemudian, dengan senyuman
yang sedikit nakal, mereka bertanya padaku.
“Bagaimana sisa liburan musim
panasmu?”
“Ada kemajuan sama Miran?”
Bingung dengan pertanyaan mereka,
aku memiringkan kepala.
“Yah… aku mengerjakan tugas di
rumah Miran, nonton bioskop, pergi ke kafe, dan lumayan sering jalan-jalan
bareng.”
“Lalu?”
“Cuma itu saja…”
Responsku membuat mereka tampak
kurang terkesan.
“Jadi, kalian bahkan tidak
berciuman?”
“Cium――!?”
Wajahku memerah saat mengingat
obrolan kami di penginapan waktu itu, dan aku bergegas melihat sekeliling,
merasa lega karena tidak ada orang lain yang mendengar. Tapi sungguh, bukankah
topik ini terlalu blak-blakan untuk obrolan di pagi hari di sekolah…?
“Kami tidak melakukannya…”
Jawabku pelan, menyamarkannya
dengan batuk kecil.
Sepanjang liburan musim panas,
Miran dan aku memang melakukan berbagai kegiatan dan pergi jalan-jalan, tetapi
hubungannya tidak pernah melampaui batas bergandengan tangan. Namun, bukan
berarti aku tidak pernah memikirkannya.
Tentu saja, aku ingin
menciumnya.
Tapi kalau dipikir-pikir,
bagaimana dengan perasaan Miran? Karena kurang percaya diri, aku ragu untuk
menanyakannya.
Jadi, dalam hal kemajuan, hubungan
di antara kami tetap sama.
Saat mereka berdua hendak
memprovokasi lebih jauh―
“Selamat pagi!”
Suara ceria nan menyegarkan milik
Miran bergema dari koridor, dan mereka berdua bergegas pergi, memutus
percakapan kami.
Merasa lega seperti ketenangan
setelah badai, aku kembali merebahkan kepalaku. Rasa kantukku sudah hilang
sepenuhnya.
“…………”
Memperhatikan Miran, tunanganku
yang populer, dikelilingi oleh teman-teman sekelas dan saling bertukar sapaan,
seragam sekolahnya yang familier tampak begitu segar, membuat jantungku
berdebar kencang.
“Shuji, selamat pagi!”
“Pagi…!”
Aku duduk tegak saat Miran menepuk
bahuku.
Meskipun kami sudah beberapa kali
bertemu selama liburan, saling bertemu di sekolah setelah sekian lama terasa
sedikit canggung. Miran juga tampak agak malu-malu.
Mengabaikan Obrolan tentang ciuman
tadi, jelas bahwa Miran dan aku telah menjadi makin dekat sepanjang musim panas
ini.
“Sekolah selesai lebih awal hari
ini. Kamu mau pergi ke kafe atau
karaoke bareng Hanako dan yang lainnya?”
“Boleh juga…! Tapi aku cuma
bisa menyanyikan lagu-lagu anime sih.”
Aku mengangguk antusias menerima
ajakan Miran, kaget melihat betapa cepatnya aku menyetujuinya.
Semester lalu, aku adalah contoh
sempurna dari seorang otaku introver, tetapi berkat tunanganku si gadis gyaru,
aku menjadi lebih terbiasa dan paham dengan budaya kaum ekstrover.
Dan aku merasa telah tumbuh lebih
banyak sepanjang musim panas ini.
“…………”
Aku sudah berbeda di semester
ini…!
Sekarang, aku merasa seperti
bisa dengan mudah melebur ke dalam budaya ekstrover apa pun, atau tempat
nongkrong populer mana pun!
Keyakinan itu bertahan selama
beberapa hari sampai―
***
“Pocket Kyunneko, hadir!”
“Bukankah itu sudah tren lama?
wkwk”
Suara nyaring dan gelak tawa
memenuhi ruang kelas.
Sambil berpura-pura tidur, aku
melirik ke arah para siswa ekstrover yang sedang melakukan pose-pose unik dan
menari.
Perilaku seperti ini sudah
biasa bagi mereka, tetapi sekarang mereka sangat terobsesi untuk mengabadikan
tingkah konyol mereka di ponsel pintar masing-masing.
“Bukankah efek yang ini keren
banget? Coba pakai deh!”
“Ayo buat pakai lagu yang lagi
tren itu! wkwk”
Pemandangan serupa terjadi di
berbagai sudut ruang kelas.
Merasakan sedikit kejenuhan,
aku mengamati mereka dengan dingin.
Apa yang sedang mereka lakukan
adalah merekam video pendek di aplikasi “NekkoTalk”, sebuah aplikasi yang
menjadi tren di kalangan kaum ekstrover setelah liburan musim panas usai.
“…………”
Aku memperhatikan mereka
tertawa dan merekam video NekkoTalk sambil tetap berpura-pura tidur.
Kukira aku bisa dengan mudah
melebur ke dalam budaya ekstrover apa pun, tapi maaf ya, khusus yang satu ini
aku benar-benar tidak bisa!
Sebagai seseorang yang selalu
menghindari perhatian orang lain, gagasan membagikan video ke khalayak luas
adalah hal yang sama sekali tak terjangkau oleh akal sehatku.
Meskipun aku berharap bisa
memahami budaya ekstrover dengan lebih baik, NekkoTalk tetap menjadi misteri
yang tidak terpecahkan bagiku.
“Huuuuh…”
Aku menghela napas di tengah
ruang kelas yang bising.
Yah, kaum ekstrover biasanya
cepat berpaling ke tren besar berikutnya, jadi tren ini mungkin bakal segera
berakhir dalam waktu dekat.
“…………”
Sebagai seorang introver, aku
berharap bisa tetap menjaga jarak dari NekkoTalk.
Tetapi dengan seorang tunangan
yang ekstrover, sesuatu sudah pasti akan terjadi pada akhirnya.
Sebagai seseorang yang lebih
suka menyendiri dan tidak mencolok, aku lebih memilih untuk tidak berurusan
dengan NekkoTalk. Namun, memiliki tunangan gadis gyaru yang merupakan
seorang ekstrover berarti segala sesuatunya tidak selalu berjalan lurus.
Hal itu terjadi setelah jam
sekolah selesai pada suatu hari.
Saat aku sedang bersiap-siap untuk
pulang, tunanganku si gadis gyaru, Miran, menghampiriku dengan raut
wajah yang tampak terdesak.
“Shuji, aku mau minta tolong!”
“Ada apa, Miran?”
Aku dibuat bingung oleh sikapnya
yang tidak biasa. Sesuatu yang merepotkan pasti telah terjadi.
Khawatir, aku memperhatikan Miran
menyerahkan ponsel pintarnya padaku.
“Bantu aku merekam video NekkoTalk
dong.”
“NekkoTalk!?”
Aku tersentak melihat ikon
aplikasi yang ditampilkan di layar ponsel yang disodorkannya.
“Aku, yang merekamnya?”
“Iya, tolong ya…!”
Miran memohon dengan wajah yang
sangat serius.
Terkejut oleh permintaan tak
terduga ini, aku bertanya padanya mengapa.
“Miran, kenapa kamu butuh merekam
ini?”
Dia menjelaskan, “Hanako dan yang
lainnya menantangku bertanding. Kami punya waktu satu minggu untuk melihat
siapa yang bisa membuat video NekkoTalk sampai viral.”
Miran tampak lesu saat
melanjutkan, “Tapi aku sama sekali tidak bisa merekamnya dengan benar.”
Mendengar hal ini, aku bergegas
membalas, “Kalau kamu saja tidak bisa merekamnya dengan baik, aku ragu hasilnya
bakal lebih bagus kalau aku yang merekam!”
“Nggak kok, aku yakin kamu bisa
merekamnya lebih baik dariku.”
“Apa kamu yakin soal itu?”
Aku merasa ragu saat tunanganku
menegaskannya dengan sangat percaya diri.
Penasaran seperti apa hasil video
NekkoTalk milik Miran, aku bertanya ragu-ragu, “Bisa perlihatkan padaku video
yang sudah kamu rekam?”
“Boleh saja, tapi jangan tertawa
ya,” jawabnya sambil mengoperasikan ponsel lalu menyerahkannya padaku.
Aku mempersiapkan diri untuk
reaksi apa pun yang mungkin kumiliki terhadap pose atau gerakannya di video
tersebut. Namun ketika aku menyaksikan video di ponselnya, aku dibuat
terperangah.
“Ini sih…”
Video di ponsel Miran awalnya
membuatku berpikir kalau ini adalah semacam video hantu. Videonya sangat
bergoyang, subjeknya tidak jelas, dan ada efek-efek menyeramkan yang
ditambahkan ke dalamnya. Aku bahkan hampir tidak bisa mengenali bahwa itu
adalah Miran.
“Jelek banget, kan?” kata Miran
dengan senyum kecut saat kami menonton videonya bersama.
Jika video itu memang berniat
dibuat sebagai video hantu, rekamannya bisa dibilang cukup berhasil, tapi kan
bukan itu masalahnya di sini.
Aku menonton video itu sekali lagi
dan masih merasa video itu terkesan ganjil, jadi aku memberikan komentar yang
aman, “Ini… sangat inovatif!”
Miran tampak agak lelah saat
menjawab, “Tadinya aku cuma mau membuat video swafoto (selfie) yang
biasa…”
“Swafoto!?”
Aku melontarkan keherananku tanpa
sadar.
Bukankah swafoto itu artinya
merekam diri sendiri?
Apakah maknanya sudah berubah
tanpa sepengetahuanku?
Sambil memikirkan hal itu, aku
menonton ulang videonya, tetapi video itu tetap saja tidak tampak seperti
swafoto sama sekali.
“Bisa perlihatkan padaku bagaimana
caramu merekamnya?”
“Bisa…”
Miran mengambil kembali ponselnya
dan memperagakannya.
“Aku mulai ya.”
Dia memegang ponselnya untuk
mengambil swafoto. Namun begitu
suara tanda merekam berbunyi, tangannya mulai gemetaran dengan sangat hebat.
Dia hampir menjatuhkan ponselnya beberapa kali, dan setiap kali hal itu
terjadi, kameranya bergoyang liar ke berbagai arah.
“…………”
Aku memperhatikannya dalam
keheningan yang terpana.
Setelah selesai, Miran menyerahkan
kembali ponselnya padaku, tampak makin lesu.
“Aku selalu gugup kalau merekam
diriku sendiri, dan hasilnya tidak pernah benar.”
“Begitu ya…”
Menyaksikan hasil video yang
eksentrik itu, aku mengangguk, masih dalam kondisi syok.
Miran ternyata sangat payah dalam
merekam video swafoto.
Seorang gyaru yang
tidak bisa mengambil swafoto?
Tapi kalau dipikir-pikir lagi,
aku menyadari bahwa aku tidak pernah melihatnya mengambil swafoto, bahkan dalam
bentuk foto biasa sekalipun.
“Kalau begini terus, aku bakal
kalah dari Hanako dan yang lainnya lalu harus mentraktir mereka parfait!”
Wajah Miran cemberut karena
frustrasi.
Melihat matanya yang memohon,
aku bergegas berkata, “Aku benar-benar tidak punya rasa percaya diri dalam hal
merekam juga lho…”
Aku belum pernah benar-benar
menggunakan NekkoTalk, apalagi menyukainya!
Jauh dari kata membantu, aku
mungkin malah berakhir membuat video yang jauh lebih buruk, jadi aku tidak bisa
asal menyetujuinya begitu saja.
“Mungkin kamu bisa minta tolong
pada teman yang jago merekam?”
Tetapi kemudian ―
“Shuji, aku mau kamu yang
merekamnya! Tolong ya!”
Dihadapkan pada permohonan yang
begitu mendesak, aku tidak punya pilihan selain menyetujuinya.
“Baiklah, aku bakal melakukan yang
terbaik untuk membantu merekamnya!”
“Terima kasih, Shuji!” Miran
berbinar-binar dengan antusiasme yang penuh harapan.
Meskipun merasa tertekan, gagasan
merekam Miran tidaklah menyegankan, dan aku mendapati diriku jadi bersemangat
untuk membantunya.
Kami memutuskan untuk merekamnya
besok setelah jam sekolah usai, dan aku berkomitmen untuk mempelajari NekkoTalk
sebagai persiapan.
***
Malam itu, aku menatap ponsel
pintarku sambil berpikir keras.
“Siapa yang menyangka aku bakal
berakhir mengunduh NekkoTalk…”
Ikon aplikasi yang baru dipasang
kini muncul di layarku. Menenangkan diriku, aku membuka aplikasinya.
Panduan singkat dimainkan, disusul
oleh deretan video pendek yang bermunculan.
“Menarik…”
Mengusap layar ke atas, aku
berganti-ganti menonton berbagai video: klip tarian yang ceria, momen
hewan-hewan imut, rekaman gim, dan segala jenis video pendek lainnya.
Karena terbiasa dengan format
durasi yang lebih panjang, ini adalah pengalaman yang segar bagiku.
“Aku bisa paham kenapa orang-orang
bisa ketagihan menonton ini…”
Gumamku dalam hati, lalu kembali
ke tugas utamaku.
Sekadar merekam saja tidak akan
cukup; kami harus membuat video Miran populer, membuatnya menjadi ‘viral’…
“Video seperti apa yang
populer di NekkoTalk?”
Itulah hal pertama yang harus
diriset.
Aku menyelemami berbagai jenis
video, teringat pada cita-citaku dulu yang ingin membuat konten panduan gim.
Proses menonton dan mengamati ini ternyata lumayan menyenangkan.
Waktu berlalu, dan tanpa
sadar, malam makin larut.
“Video hewan rupanya sangat
populer di NekkoTalk…”
Sambil berbaring di tempat
tidur, aku bergumam seraya menjelajahi lebih banyak video.
Setelah menonton secara ekstensif,
aku menarik beberapa kesimpulan.
“Untuk membuat video Miran
populer, menonjolkan aspek ‘gadis SMA’ mungkin bisa menjadi kuncinya…”
Video gadis-gadis imut memang
sangat populer di NekkoTalk.
“Tapi…”
Pendekatan ini menjadi poin
konflik di dalam diriku.
Saat menjelajahi video
gadis-gadis SMA sebagai rujukan, satu video khusus menarik perhatianku.
Seorang gadis berseragam
sekolah dengan rambut yang diikat kuncir kuda berwarna cerah sedang menari dan
berpose mengikuti irama musik.
“Ini benar-benar
diperhitungkan dengan sangat matang, tapi memang terbukti sangat viral…”
Video yang nyaris menyentuh
batas kesopanan itu memiliki jumlah ‘suka’ (likes) yang luar biasa
banyak. Tren ini juga terlihat jelas pada
video-video sejenis lainnya.
Jika kami ingin kepopuleran yang
instan, pendekatan ini tampaknya akan sangat efektif. Namun…
“Membayangkan orang lain melihat
Miran di video seperti itu…”
Sebagai tunangannya, aku merasa
gagasan itu sama sekali tidak bisa kuterima.
Melihat kolom komentar yang diisi
oleh berbagai jenis pengguna, perasaan negatifku terhadap memublikasikan video
Miran jenis apa pun makin menjadi-jadi.
“Apakah ini yang dinamakan rasa
posesif?”
Makin larut malam, keenggananku
untuk membagikan penampilan Miran kepada orang asing makin menguat.
Meskipun sudah berjanji untuk
membantu, aku tidak tega untuk menyarankan agar batal saja sekarang…
Tenggelam dalam pemikiran, aku
terus menonton video di NekkoTalk.
***
Keesokan paginya, di bawah langit
yang cerah, aku berangkat ke sekolah dalam kondisi benar-benar kurang tidur.
Alasannya sudah jelas…
“Aku malah berakhir menonton video
NekkoTalk semalaman…”
Deretan konten singkat yang mudah
dinikmati itu ternyata benar-benar menjadi penyedot waktu yang ampuh.
Setibanya di mejaku di dalam
kelas, aku tidak berpura-pura tidur melainkan benar-benar tertidur dengan
kepala ditungkupkan di atas meja.
Miran, yang datang belakangan,
menghampiriku dengan penuh energi.
“Selamat pagi, Shuji!”
“Selamat… pagi…”
Aku mengangkat kepalaku yang
terasa pusing, dan Miran menatapku dengan raut khawatir.
“Apa kamu tidak tidur semalaman
gara-gara meriset NekkoTalk, Shuji?”
“Lebih tepatnya cuma menonton
tanpa arah sih,” jawabku dengan senyum kecut.
“Terima kasih banyak ya, Shuji…”
Miran mengucapkan terima kasih
dengan raut merasa bersalah, lalu menanyakan sebuah pertanyaan.
“Bagaimana menurutmu tentang
NekkoTalk?”
Merespons pertanyaan itu, aku
membagikan pemikiranku setelah begadang semalaman menonton video NekkoTalk.
“Masing-masing videonya berdurasi
singkat, jadi kita bisa dengan cepat beralih ke video berikutnya, yang mana
sangat bikin ketagihan. Dan makin banyak kita menonton, makin banyak video yang
sesuai dengan minat kita mulai bermunculan, yang kurasa itu sangat bagus. Video
pendek bekerja sangat baik dengan musik dan efek, dan menggunakan hal-hal yang
sedang tren membuat videonya terasa lebih menarik bagi penonton. Konten yang
secara konsisten populer tampaknya adalah video hewan, bersama dengan video
tentang membuat sesuatu atau insiden-insiden lucu, mirip dengan situs video
lainnya. Namun, video orang-orang yang melakukan sesuatu secara serempak dengan
musik atau mengikuti gerakan dan pose yang sedang tren tampaknya menjadi ciri
khas unik dari NekkoTalk. Lagipula, aku sudah memilih beberapa musik dan
gerakan yang sedang populer, jadi aku bakal minta Miran untuk mencobanya
setelah sekolah nanti.”
Setelah menyelesaikan monolog
berkecepatan tinggi tersebut, aku mendadak kembali ke kesadaranku.
“……! Waduh, aku malah ceracau
sendirian dengan kecepatan tinggi…!”
Meskipun aku sedang pusing karena
begadang semalaman… tidak heran kalau aku dinilai aneh gara-gara hal ini!
“Maaf ya, aku bicaranya
kebanyakan…!”
Aku melirik reaksi Miran
dengan ragu-ragu.
Tunanganku si gadis gyaru
itu tidak menunjukkan raut wajah syok—sebaliknya, matanya terbuka lebar penuh
kekaguman.
“Kamu benar-benar melakukan riset
sejauh itu! Terima kasih banyak ya~!”
Merasa lega oleh respons
positifnya, kebahagiaan menyeruak di dalam diriku karena sanggup membantu
Miran… tetapi pada saat yang sama, aku teringat akan kekhawatiran yang
kurenungkan semalam.
“Aku sudah tidak sabar menanti
setelah jam sekolah nanti!”
“Iya, aku juga…”
Aku mengangguk canggung pada
Miran, yang tersenyum tanpa beban.
***
Biasanya, aku selalu serius
memperhatikan pelajaran di kelas, tetapi hari itu, kepalaku begitu dikuasai
oleh rasa kantuk hingga aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Namun saat
jam istirahat, aku bisa mendengar dengan jelas suara anak-anak populer yang
sedang membuat video NekkoTalk. Pemikiran bahwa aku akan melakukan hal yang
sama nanti sore mengisiku dengan perasaan yang aneh.
Akhirnya, waktu pulang sekolah pun
tiba…
“Baiklah, Miran, ayo kita rekam
beberapa video NekkoTalk.”
“Nggak sabar nih♪”
Setelah memastikan semua teman
sekelas kami telah pulang, aku memulai sesi perekaman bersama Miran.
Kami menggeser meja-meja bersama
untuk membuat ruang yang cukup, dan aku mulai merekam Miran dengan ponsel
pintarku.
“Miran, bisa coba berputar di
sebelah sana?”
“Seperti ini?”
Miran berputar dengan satu kaki,
seperti seorang penari balet.
Roknya mengembang dengan
lembut, dan sinar matahari sore memberikan elemen fantastis pada adegan
tersebut.
“Bagus banget! Selanjutnya,
aku bakal putarkan soundtrack NekkoTalk, dan kamu bisa berputar
mengikuti musik itu ya.”
“Oke!”
Miran berputar mengikuti musik
yang diputar dari ponsel pintar.
Ini adalah soundtrack
dan gerakan yang sedang populer di NekkoTalk. Aku memilihnya karena kelihatan
simpel, tetapi Miran membuatnya terlihat sangat modis.
“Selanjutnya, mari kita coba…”
Aku, tunangannya, terus
memberikan instruksi dan merekam lebih banyak video.
Miran menangkap instruksinya
dengan cepat, dan proses pengambilan gambar berjalan sangat lancar.
Kami merekam berbagai jenis
video, mulai dari yang sederhana sebagai latihan hingga yang memiliki gerakan
lebih kompleks.
“Miran… dia imut banget…”
Pikirku dalam hati saat
memperhatikannya melalui kamera, terpesona oleh tarian dan gesturnya mengikuti
irama musik.
“Aku ingin memamerkannya kepada
semua orang…”
Keinginan untuk memamerkan
kecantikannya membumbung, tetapi pada saat yang sama…
“Aku tidak ingin orang lain
melihatnya…”
Pemikiran yang saling
bertentangan ini membesar di dalam diriku.
“NekkoTalk ternyata
menyenangkan ya!”
“Iya, benar…”
Memperhatikan tunanganku
menikmati dirinya sendiri di dalam video, aku menyingkirkan pemikiran-pemikiran
itu dan berfokus pada proses perekaman untuk saat ini.
Setelah beberapa saat, kami telah mengumpulkan cukup banyak video.
“Ayo kita istirahat
sebentar.”
Selama sesi istirahat,
saat aku sedang memeriksa ulang video-video yang sudah direkam, Miran—yang
sedang mengusap keringatnya dengan handuk—bertanya padaku dengan penuh
semangat.
“Kita sudah merekam
lumayan banyak ya! Kira-kira videonya bakal viral nggak?”
“Iya… kurasa bakal
begitu…”
Aku mengangguk
canggung saat melihat-lihat video Miran.
Hasil videonya
ternyata sangat bagus, dan Miran terlihat luar biasa imut serta cantik di dalam
video-video tersebut.
“………”
Namun, justru karena
itulah, dua perasaan yang saling bertolak belakang yang kucoba tekan tadi
kembali mencuat ke permukaan.
Keinginan untuk memamerkan
keimutan Miran kepada semua orang…
Dan yang satunya lagi,
keinginan untuk tidak membiarkan siapa pun melihatnya, untuk menyimpan sendiri
keimutannya hanya untuk diriku seorang.
Perasaan mana yang lebih
kuat…
Seiring berjalannya waktu
dan makin banyaknya video yang terkumpul, perasaan yang kedua tumbuh makin kuat
di dalam diriku.
Aku memang bekerja sama
untuk membuat video-video ini populer, tetapi apa artinya jika aku malah merasa
seperti ini?
“………”
Merasakan betapa piciknya
pemikiranku, aku menghela napas dalam hati.
Terombang-ambing oleh
perasaan yang bermunculan ini, aku merasa kebingungan.
Lalu, ketika aku menghela
napas dalam hati untuk yang kesekian kalinya…
“Apakah videonya kurang
bagus…?”
Miran bertanya dengan raut
khawatir.
“Nggak kok, videonya
benar-benar bagus banget! Yang ini pasti bakal populer.”
Aku bergegas membalas,
memaksakan sebuah senyuman untuk menutupi perasaanku.
“Kalau begitu ayo kita
lanjut merekam lagi.”
Kataku, menyiapkan ponsel
pintarku untuk merekam lebih banyak video.
Miran, yang memperhatikan
gerak-gerikku, bertanya dengan raut wajah yang serius.
“Shuji, ada apa?”
“M-Maksudmu apa?”
“Kamu kelihatan murung
sejak tadi.”
Merasa dia telah menembak
tepat di sasaran, aku pun tersentak.
“Masa sih…? Kurasa tidak…”
Aku tertawa, mencoba
mengalihkannya.
Namun kemudian, Miran
melangkah makin dekat…
“M-Miran!?”
Tunanganku si gadis gyaru
itu mendekat begitu rapat hingga dahi kami hampir bersentuhan.
“Nggak boleh main
rahasia-rahasiaan! Ceritakan padaku semua yang sedang kamu pikirkan.”
“Tapi, maksudku…”
“Kita ini tunangan, kan?”
“…!”
Kata-katanya menghantamku
secara telak. Merasa bersalah dan malu karena telah membuat tunanganku
khawatir, aku menggaruk kepala dan akhirnya mengaku.
“Sebenarnya… aku
memikirkan kalau aku tidak ingin orang asing melihat video-video Miran.”
“Kenapa?”
Miran bertanya dengan
tatapan mata yang polos, dan aku pun terbata-bata saat menjawabnya.
“Soalnya… yah… kamu itu
terlalu imut…”
Suaraku hampir tidak
terdengar di akhir kalimat, dipenuhi oleh rasa malu dan kecanggungan.
Benar-benar posesif… dan
jauh lebih canggung dari biasanya, wahai diriku…
“………”
Terlalu malu untuk menatap
wajah Miran, aku pun memalingkan pandanganku.
Lalu Miran berujar dengan ceria,
“Oke! Kalau begitu kita tidak usah mengunggah
video-videonya ke Nekkotalk.”
“Eh!?”
Aku menengadah dan
melihat Miran sedang merona sambil tersenyum.
“Kenapa…? Bagaimana
dengan perlombaannya?”
Miran membalas dengan
senyuman hangat.
“Hmm, dipuji imut oleh
orang asing itu tidak seindah mendengarnya langsung dari Shuji… Aku tidak
peduli lagi soal perlombaan itu.”
“Miran…”
Aku merasakan
kehangatan menjalar di seluruh wajahku.
“Shuji, kalau begitu
bagaimana kalau begini…!”
Mendadak, Miran makin
merapat dan menggandengkan lengannya ke lenganku. Dia meletakkan tangannya yang
bebas di atas ponsel pintar yang sedang kupegang, menyiapkannya untuk mengambil
swafoto.
“Daripada
mengunggahnya, ayo kita buat video khusus untuk kita berdua saja!”
“Video khusus untuk kita
berdua…?”
Meskipun aku dibuat
terkejut oleh kedekatannya yang mendadak…
Melihat pantulan kami
berdua di layar ponsel pintar, aku tidak bisa menahan tawa kecil. Aku belum
pernah benar-benar melihat kami berdua secara objektif sebelumnya – seorang
penyendiri dan seorang gadis gyaru, dua sosok yang bertolak
belakang.
Merasa bahagia karena kami
telah menjadi begitu dekat, aku kemudian mengambil banyak video bersama Miran,
khusus untuk kami berdua saja.
***
Mengenai perlombaan
Nekkotalk…
Aku pada akhirnya
mengunggah video seekor kucing liar di sekitar kompleks yang wajahnya jelek
tapi menggemaskan, dan video itu mendadak viral.
Miran pun merasa sangat senang karena berhasil memenangkan hadiah traktiran parfait dariku.


Post a Comment