Chapter 7
Janji untuk Masa Depan
Di luar sudah sepenuhnya
berubah menjadi malam.
Karena ini Malam Natal,
seluruh kota dihiasi dengan pendar lampu-lampu hias.
Toko-toko di sekitar toko
bunga juga diterangi lampu, dan di jendela-jendela rumah, tampak pohon Natal
dan boneka Sinterklas dipajang.
"Wah, Shuuji! Ini
beneran Natal banget!"
"Iya."
Berjalan di sampingku,
Miran praktis melompat-lompat gembira seperti anak kecil.
Wajahnya begitu
berseri-seri, dan senyumannya jauh lebih indah dari biasanya.
Sementara itu, aku
tidak bisa sepenuhnya mengibaskan rasa bersalah yang masih mengganjal.
"Miran, maaf
ya... kita tidak jadi pergi ke restoran yang sudah direncanakan untuk makan
siang..."
Selain tempat makan, aku
sebenarnya sudah memikirkan beberapa rencana.
Ada toko aksesori yang
kemungkinan bakal disukai Miran, toko kerajinan tangan, dan kami juga berencana
mengecek jadwal film di bioskop; kalau ada yang menarik, kami bakal menontonnya
bersama.
"Enggak kok,
tidak apa-apa! Aku cuma senang bisa menghabiskan waktu Natal bersamamu tahun
ini, Shuuji~. Tahun lalu, aku menghabiskan seluruh musim dingin cuma sambil
bertanya-tanya bagaimana caranya mengajakmu."
"Begitu ya...
harusnya kamu mengajakku tahun lalu juga."
"Tapi kalau aku
mendadak mengajakmu, bukannya kamu bakal merasa kebingungan?"
Mendengar
kata-katanya, aku tersenyum kecut.
"...Mungkin aku
bakal kebingungan sih."
Aku bisa dengan mudah
membayangkan diriku panik setengah mati, berpikir, kenapa seorang gyaru yang cantik dan ceria
mendadak mengajakku—ah, ini pasti semacam game hukuman!
"Kan? Makanya aku
menahan diri tahun lalu."
Miran tertawa kecil,
dan dia benar-benar menggemaskan.
"Shuuji, apa kamu
senang menghabiskan Malam Natal bersamaku?"
"Tentu saja! Ini
Natal terbaik dalam hidupku."
"Beneran♪ Hehe,
aku senang deh."
Belakangan ini,
gara-gara pekerjaan, kami tidak punya banyak kesempatan untuk pergi berkencan,
jadi aku merasakannya dengan jauh lebih kuat.
Setelah itu, Miran dan aku
santai berjalan menyusuri jalanan yang diterangi lampu-lampu Natal.
Meskipun kami cuma
berjalan kaki, Miran terus menemukan hal-hal menarik dan memanggilku dengan
antusias, tertawa gembira.
Aku sempat khawatir bahwa
berantakannya semua rencana kami bakal membuatnya bosan, tapi tidak ada
tanda-tanda seperti itu sama sekali.
Secara diam-diam, aku
merasa lega.
"Ah, lihat, mereka
menjual sesuatu yang imut di sebelah sana! Boleh kita lihat sebentar?"
"Iya, ayo."
Untuk sesaat, kami mampir
ke toko yang menjual barang-barang karakter edisi terbatas Natal dan menikmati window
shopping.
"Hmm, kira-kira ada
tempat yang bagus tidak ya di sekitar sini..."
Selagi kami berjalan-jalan
di area tersebut, aku terus melirik restoran-restoran terdekat.
Karena rencana awal kami
sudah hancur, aku ingin setidaknya menebusnya dengan makan malam yang enak,
tapi hampir semua restoran bergaya sudah penuh dipesan; bahkan Sweet Pea pun
seperti itu, jadi itu hal yang wajar.
Mengingat kembali, kami
awalnya seharusnya pulang sebelum hari gelap, jadi aku bahkan tidak sempat
mempertimbangkan untuk membuat reservasi makan malam, dan sekarang aku sangat
menyesalinya.
"Shuuji, kamu lagi
mencari sesuatu ya?"
Rupanya, aku terlalu
banyak celingukan, karena Miran memiringkan kepalanya menatapku.
"Ah, yah, aku pikir
kita bisa makan malam bersama..."
"Kamu lagi mencari
tempat makan ya!"
"Iya, tapi sepertinya
sebagian besar tempat sudah penuh... beri aku sedikit waktu lagi, aku bakal
carikan yang bagus..."
Saat aku menciut karena
malu, Miran dengan cerah menunjuk ke sebuah toko.
"Bagaimana kalau
tempat itu? Merek punya makanan di sana, kan?"
Yang ditunjuknya—
Adalah sebuah kafe
waralaba yang sangat biasa.
"Mereka mungkin punya
makanan sih, tapi..."
Suaraku memelan.
Itu bukan tempat yang
buruk, tapi untuk makan malam Malam Natal yang spesial, rasanya agak kurang,
dan tidak banyak pelanggan juga di sana.
Kami mungkin bisa langsung
masuk sekarang, tapi aku tidak sebodoh itu untuk langsung menerimanya begitu
saja.
"Miran, kamu yakin
mau di kafe itu?"
"Iya!"
"Aku bakal coba cari
tempat yang agak lebih bagus... bagaimanapun juga ini hari yang spesial."
Saat aku melihat ke
sekeliling, Miran menarik-narik lenganku.
"Di mana pun tempat
aku makan bersamamu bakal jadi tempat yang spesial, Shuuji. Ayo!"
"Miran..."
Aku kehilangan kata-kata
karena alasan yang berbeda kali ini.
Hal yang sama berlaku
untukku; di mana pun bersama Miran bakal jadi tempat yang spesial.
"Terima kasih ya...
Miran."
Sambil merasa agak
bersalah pada tunanganku yang begitu pengertian, aku menyuarakan rasa
terimakasihku.
Dan begitulah, Miran dan
aku memasuki kafe biasa tersebut dan menyantap makan malam Natal kami.
***
Setelah makan malam, Miran
dan aku sekali lagi menikmati window shopping dan berjalan-jalan
menyusuri jalanan yang dihiasi dekorasi Natal.
Di luar memang dingin,
tapi berjalan di samping Miran yang sangat menggemaskan membuat jantungku
berdebar kencang, dan entah bagaimana, aku tidak merasa dingin sama sekali.
Setelah berjalan-jalan
sepuasnya, aku mengajak Miran ke taman terdekat.
Setiap tahun di waktu
seperti ini, taman itu akan dihiasi dengan lampu-lampu hias yang megah.
"Pintu masuk utamanya
bakal ramai, tapi Hanako-san dan Azuki-san memberi tahu kalau kita pakai jalur
samping, tempatnya tenang dan semacam tempat tersembunyi; mereka bilang ada
bangku juga, pas banget buat istirahat."
"Kedengarannya
bagus! Ayo pergi, ayo pergi!"
Miran merengkuh
tanganku dan mendorongku maju.
Mengekor petunjuk arah
yang diberikan padaku, kami berhasil memasuki taman dengan aman.
Lampu-lampu hias
terlihat di kejauhan, tapi tidak banyak orang di sekitar.
Tempat ini benar-benar
semacam permata tersembunyi.
"Wah... indah
banget, Shuuji."
"Iya. Kita
beneran berutang budi sama mereka."
Kami mencari bangku
acak dan duduk.
Karena kami sudah
berjalan sejak meninggalkan toko tadi, rasanya sangat menyenangkan bisa
akhirnya duduk.
Miran menengadah menatap
langit dan menghela napas puas.
"Setiap tahun aku
selalu memikirkan hal ini, tapi Natal beneran punya suasana yang menyenangkan;
semua orang kelihatan sangat bahagia, dan itu bikin aku ikut bersemangat."
"Iya. Aku
paham."
"Apa kamu merasa
begitu juga, Shuuji?"
"Kurasa... aku
sebagian besar bersemangat soal hadiah—mendapatkan game baru adalah bagian
terbaik buatku."
"Lebih dari makanan
atau kue?"
"Itu menyenangkan
juga sih, tapi... iya, game adalah puncaknya."
"Fufu, begitu ya.
Kamu beneran menantikan hadiah Sinterklas ya?"
"Aku sangat
bersemangat sampai-sampai Malam Natal adalah satu-satunya malam di mana aku
beneran tidur lebih awal."
"Ahaha, itu
menggemaskan banget, Shuuji Kecil♪ Aku dulu juga sering bersemangat, menunggu
boneka atau mainan baru, dan waktu agak lebih besar, hadiahnya baju baru."
Miran berbicara dengan
nada nostalgia, lalu ekspresinya agak melembut, diwarnai sedikit rasa sedih.
"Natal itu
menyenangkan setiap tahun, tapi tahun depan kita sudah ujian masuk perguruan
tinggi... jadi kita mungkin tidak bakal bisa bersenang-senang sebanyak tahun
ini..."
"Iya... aku yakin
kita bakal menghabiskan waktu dengan sangat berbeda tahun depan."
Karena percakapan
sudah beralih ke masa depan, aku memutuskan ini adalah waktunya untuk memberi
tahu Miran tentang apa yang selama ini kupikirkan.
"Miran. Aku sudah
berpikir untuk berhenti, atau setidaknya mengurangi, pekerjaan paruh
waktuku."
"Eh? Tapi kamu
kan akhirnya sudah terbiasa, dan kamu kelihatan seperti sedang menikmati
waktumu…"
"Iya."
"Kenapa?"
"Aku sudah
memikirkannya sejak lama. Bekerja paruh waktu memang membantu menabung uang dan
itu menyenangkan, tapi... aku tidak suka kalau itu memangkas waktu yang bisa
kuhabiskan bersamamu."
"...!"
"Dan kalau aku mau
masuk ke universitas yang sama denganmu, aku harus fokus belajar tahun depan.
Lagipula, aku sudah mencapai alasan mengapa aku mulai bekerja sejak awal."
"...Alasan?"
Miran memiringkan
kepalanya dengan imut ke samping.
Aku berdiri dalam diam
dari bangku, menatapnya.
"Aku... aku bekerja
keras di tempat kerja paruh waktuku karena aku ingin memberimu ini."
Aku menarik sebuah kantong
kecil keluar dari ranselku dan mulai membukanya.
Di dalam kantong itu ada
sebuah kotak kecil.
Ibu memberi tahuku untuk
menjadikan hari ini kenangan yang bakal kami kenang selamanya.
Aku sudah bersiap-siap
untuk hal ini, dengan pemikiran yang sama di benakku.
Jadi aku setidaknya harus
mencoba kelihatan keren dan mengeksekusinya dengan benar.
Aku berlutut di depan
Miran yang kelihatan gugup dan mengulurkan kotak kecil itu padanya.
Aku membukanya —
memperlihatkan cincin di dalamnya.
"Eh... ini..."
Itu adalah cincin yang
kupilih setelah mendapat saran dari dua teman gyaru Miran.
Melihat Miran menutup
mulut dengan kedua tangannya karena terkejut, aku pun angkat bicara dengan
jelas.
"Hanatsuki Miran-san.
Aku mencintaimu. Tolong nikahi aku suatu hari nanti."
Secara hati-hati, tanpa
tersandung kata-kataku sendiri, aku mengucapkannya dengan jelas dan dengan
segenap tenaga yang bisa kukumpulkan, berusaha sebaik mungkin menjaga ekspresi
tetap percaya diri.
Ini bukan lagi sekadar
dijodohkan karena orang tua kami yang memutuskannya — kali ini, aku melamar
Miran untuk menikah murni atas kehendakku sendiri.
Dan reaksi Miran adalah—
"…………"
"…………"
"…………"
"…Um,
Miran-san?"
"…………"
"Uh... um, begini…
Miran—?"
Beberapa detik berlalu,
lalu air mata mendadak jatuh dari mata Miran.
Dan kemudian, makin banyak
air mata yang tumpah, dan dia pun pecah dalam tangisan.
"E-Eh? Miran?
Miran!?"
Aku tadinya berpikir ini
adalah momen terbesar dan paling penting dalam hidupku, tapi reaksinya beneran
terlalu di luar dugaan.
Sikap sok keren yang
kupasang seketika hancur berkeping-keping, dan aku kembali ke diriku yang
canggung seperti biasa.
"A-Apakah kamu
sebenci itu!? Maaf ya, aku tidak bermaksud menekannmu seperti ini dengan hadiah
yang berat secara mendadak—"
"Bukan begitu.
Bukan karena itu... aku cuma seneng banget…"
Miran berhasil
mengucapkannya di tengah isak tangisnya.
"Maaf ya, Shuuji,
sudah bikin kamu panik."
"Enggak, tidak
apa-apa kok…"
"Aku tidak apa-apa.
Aku memang terkejut, iya, tapi lebih dari itu, aku cuma beneran seneng
banget... karena kamulah orang pertama yang mengungkit tentang masa depan kita
bersama..."
Miran terus menangis untuk
beberapa saat.
Sementara itu, aku duduk
di sana dengan canggung, benar-benar bingung harus bagaimana… tapi dadaku
dipenuhi dengan kehangatan, tahu bahwa dia sebahagia itu.
"Maaf ya sudah menangis sebanyak
ini…"
Setelah akhirnya tenang, Miran menyapu air
matanya dan tersenyum, mengulurkan tangan kirinya padaku.
"Bisa tolong
pakaikan? Di jari manisku…"
"...! T-Tentu
saja!"
Aku merengkuh tangannya.
Tapi di antara rasa gugup,
kegembiraan, dan rasa malu, tanganku gemetaran bagaikan mesin bor di lokasi
konstruksi.
"Astaga, kamu
gemeterannya parah banget sih~!"
"A-Ahaha... maaf
ya."
Miran kelihatan sangat
menikmati momen tersebut.
Berkat hal itu, aku
berhasil sedikit rileks juga.
Entah bagaimana, aku
berhasil menyelipkan cincin itu ke jari manisnya.
"Indah banget...
dan pas banget di jari."
"Aku senang.
Hanako-san dan Azuki-san membantuku mencari tahu ukuran jarimu..."
"Ah, begitu ya."
Menyadari sesuatu, Miran
menepuk kedua tangannya bersamaan.
Bahkan gestur kecil itu
pun terlihat sangat imut.
...Cincin itu berkilauan
di bawah pendar lampu hias.
Terlihat sangat sempurna
padanya.
"Ini adalah hadiah
terbaik dalam hidupku, Shuuji♪ Terima kasih ya. Aku bakal merawatnya
selamanya."
"...Iya. Aku
senang."
"Ahh, tapi sekarang
bagaimana dong? Aku dalam masalah nih."
"A-Ada apa?"
"Aku juga punya
hadiah buat kamu, tapi aku sama sekali tidak tahu kalau kamu bakal menyiapkan
sesuatu seperti cincin... Sekarang hadiahku jadi tidak sepadan banget..."
Miran berkata dengan
senyum malu-malu, menarik sebuah bingkisan yang diikat dengan pita merah keluar
dari tasnya.
"Ini buat kamu."
"T-Terima kasih!
Boleh kubuka?"
"Iya!"
Aku mencoba membukanya
secara normal, tapi karena sudah menjalani hidup sebagai otaku penyendiri yang
suram, tanganku gemetaran lagi karena gugup dan bahagia.
Tetap saja, aku sedikit
lebih baik dari yang tadi — aku sudah agak berkembang!
"Kamu sengaja
melakukan itu ya?"
"Bukan sengaja!
Tanganku cuma... terlalu bahagia sampai tidak bisa diam…"
"Shuuji, kamu selalu
saja lucu."
Miran terkikik. Di momen
yang meluap dengan kebahagiaan ini, aku membuka hadiah Natal pertama yang
pernah kuterima dari seorang gadis.
Aku secara hati-hati
melepas ikatan pita dan mengupas kertas pembungkusnya, meresah sesuatu yang
lembut di ujung jariku.
"I-Ini kan...
syal!? J-Jangan bilang—"
"Yup! Aku
merajutnya sendiri. Aku memulainya setelah latihan tim pemandu sorak
selesai~"
"Oooooh!"
"...Kamu
senang?"
"Tentu saja aku
senang! Orang pemendam suram mana yang tidak senang dapat syal buatan tangan
dari gadis cantik yang dia cintai? Enggak, tidak mungkin ada orang seperti
itu!"
Aku berakhir
mengekspresikan kebahagiaanku dengan cara yang sepenuhnya ke-otaku-an, tapi
Miran tampaknya tidak keberatan.
Sangat gembira, aku dengan
cepat melingkarkan syal itu di leherku.
"Ini... empuk, tapi
halus banget seperti sutra, seperti dibungkus oleh kebaikan Miran... Ini sangat hangat dan
menenangkan... nilai sempurna!"
"Aku seneng
banget kamu bahagia. Aku beneran lega."
Masih mengelus syal
yang melingkar di leherku, aku duduk kembali di sebelah Miran.
Melihat ke sekeliling,
aku menyadari pasangan-pasangan lain tersebar di berbagai sudut.
...Aku penasaran
apakah kami kelihatan seperti pasangan sungguhan bagi orang lain juga?
Yah, tidak peduli apa yang
dikatakan atau dipikirkan orang lain, Miran dan aku adalah pasangan sungguhan.
Saat aku berbalik
menatapnya, aku mendapati Miran sedang menatapku, seolah-olah dia ingin
mengatakan sesuatu.
"...Um, Shuuji.
Sebenarnya, aku juga berpikiran untuk mengurangi pekerjaan paruh waktuku."
"Beneran?"
"Iya... karena selama
waktu aku sibuk dengan kerja paruh waktu dan latihan tim pemandu sorak, aku
nyaris tidak bisa bertemu denganmu, dan aku beneran kesepian."
Miran menunduk dan
mengayunkan kakinya bolak-balik secara asal.
"Kamu tahu, melihatmu
bekerja keras di kafe... itu bikin aku cemas kalau-kalau kamu mungkin makin
lama makin jauh dariku."
"Eh, aku!?"
"Iya. Kamu bekerja
keras banget, kelihatan keren banget... Kamu bersinar, seperti
berkilauan."
Mendengar kata-kata Miran,
aku terpana.
...Karena itulah persis
apa yang kurasakan, saat mengintipnya berlatih bersama tim pemandu sorak atau
bekerja di toko bunga.
"Makanya aku
berpikir, aku harus melakukan sesuatu juga, supaya aku tidak ketinggalan.
Itulah mengapa aku bekerja keras di tempat kerja paruh waktu dan tim pemandu
sorak... supaya ketika waktunya tiba, aku tidak bakal malu menjadi istrimu
suatu hari nanti. Tapi meskipun aku memulainya demi kamu, kenyataannya aku
malah makin kesepian karena tidak bisa bersamamu... Agak lucu ya, kan? ...Aku
beneran, beneran kesepian."
Saat aku mendengarkan
Miran berbicara, aku mendapati diriku berempati secara mendalam.
Sama seperti diriku, dia
juga merasakan cemas dan kesepian.
Sampai belum lama ini, aku
sempat cemas, berpikir bahwa Miran makin lama makin jauh dariku... tapi
ternyata bukan begitu kelihatannya.
Dia merasakan hal yang
sama, sepanjang waktu.
Menyadari hal itu
memenuhiku dengan rasa lega yang luar biasa.
"Aku juga beneran
kesepian... Melihatmu begitu populer di tim pemandu sorak dan di toko bunga...
rasanya seperti kamu makin meluncur jauh, di luar jangkauanku..."
"Eh!? Beneran!?"
Setelah itu, kami
bergantian berbagi tentang apa yang terjadi pada kami masing-masing,
menyelipkan perasaan kami di sepanjang pembicaraan.
Tanpa kami sadari, kami
sudah duduk berdekatan di atas bangku, bergandengan tangan, berbicara seolah
ingin mengisi celah jarak yang sempat tumbuh di antara kami.
"...Kita berakhir
saling berselisih jalan tanpa menyadarinya ya?"
"Iya. Kita padahal
begitu dekat, tapi... aneh ya."
"Tapi semuanya
bakal baik-baik saja mulai sekarang, kan?"
Saat aku mengangguk
pelan, Miran tersenyum bahagia.
Setelah beberapa saat,
Miran mendadak berkata, "Ah, benar juga," seolah baru saja teringat
sesuatu.
"Aku lupa sesuatu
yang penting. Aku masih harus memberimu jawabanku yang tadi."
Miran mendekatkan wajahnya
ke telingaku.
Hembusan napasnya menyapu
telingaku, membuat jantungku berdegup kencang, lalu dia berbisik dengan lembut:
"Aku juga
mencintaimu, Shuuji. Tolong jadikan aku pengantinmu suatu hari nanti."
...Dan begitulah, Malam
Natal pertama yang kami habiskan bersama sebagai tunangan berakhir dengan
damai.
Ini menjadi kenangan yang
tidak bakal pernah kulupakan seumur hidupku.


Post a Comment